Tidak Semua Orang Bisa Mengerti. Namun Beginilah Gunung Membuat Kita Jatuh Hati

Artikel ini terinspirasi dari kisah@mcandra22. Pemenang hari  #30HariTerimaKasih Challenge. Hayo, sudahkah kamu cukup bersyukur hari ini?

“Kamu ngapain sih naik gunung? Kurang kerjaan banget!”

“Gak ada kegiatan lain apa? Kok selow banget hidumu naik gunung melulu?”

Advertisement

Mendaki gunung memang bukan untuk semua orang. Aktivitas yang satu ini memaksa penikmatnya mengeluarkan banyak kemampuan dalam satu waktu yang tak begitu panjang. Ketahanan fisik menghadapi etape panjang diuji, digempur trek melelahkan di bawah sinar matahari membuat seseorang menampilkan sifat asli. Belum lagi drama penyatuan visi dengan rekan satu tim pendaki.

Tidak semua orang bisa mengerti apa yang jadi candu dari kegiatan satu ini. Hanya penggiatnya yang mampu menjelaskan bagaimana magisnya pengalaman yang dialami. Orang boleh berpendapat apa saja — tapi sampai kapanpun, gunung dan pendakian tetap akan membuat pelakonnya jatuh hati.

Rasa ingin menyerah kadang muncul di kepala. Saat udara sedang dingin-dinginnya, waktu kaki dan bahu mulai kebas menahan beban yang ada

Rasa ingin menyerah kadang muncul di kepala

Rasa ingin menyerah kadang muncul di kepala via journalkinchan.blogspot.com

Setiap pendakian menawarkan cerita berbeda. Bahkan meski melangkahkan kaki mendaki gunung yang sama, kisah yang dibawa pulang setelahnya tak akan serupa. Orang bilang pendakian adalah perjalanan hati — maka kisah yang tercipta pun akan sangat tergantung pada kondisi hati yang sedang melakoni.

Advertisement

Trek Cemoro Kandang Gunung Lawu bisa terasa ringan, jika dihela bersama kawan-kawan sepermainan. Sementara di lain kesempatan, selepas patah hati habis-habisan, perjalanan dari Pasar Bubrah ke Puncak Merapi membuatmu merasa kepayahan.

Di tengah trek yang terkenal kejam, pelan-pelan kita belajar seni menguatkan diri. Bagaimana membujuk kaki, otak, dan hati agar berjuang lebih keras lagi. Dalam udara dingin yang membuat langkah serasa ingin berhenti, akan kita sadari betapa kerdilnya diri ini. Alam raya membuat kita ingin menunduk takzim, menyerahkan diri.

Tapi semua terbayar saat pendar lampu tertangkap mata. Atau waktu puncak bisa terjamah setelah perjuangan berjam-jam lamanya

Waktu puncak bisa terjamah, bahagia rasanya

Waktu puncak bisa terjamah, bahagia rasanya via journalkinchan.blogspot.com

Di tengah perjalanan yang melelahkan, di antara seruan:

“Satu bukit lagi!”, “Break dong, capek banget nih!”, “Kiri hati-hati, ada jurang.”

tetap ada hiburan yang bisa ditemukan. Waktu menemukan dataran landai di tengah berbagai tanjakan, saat beristirahat di tengah trek curam kemudian menemukan pendar-pendar lampu kota dari ketinggian. Belum lagi saat puncak sudah bisa terjangkau tangan.

Melihat pemandangan di bawah sana rasanya membuat perjuangan berjam-jam lamanya terasa impas sempurna. Diberi kesempatan melihat kenyataan seindah ini, adakah yang tidak harus disyukuri sebagai manusia?

Sesungguhnya bagaimana bisa tidak jatuh hati? Jika setiap pendakian selalu meninggalkan kesannya sendiri

Bagaimana bisa tidak jatuh hati?

Bagaimana bisa tidak jatuh hati? via journalkinchan.blogspot.com

Seperti hubungan cinta yang selalu meninggalkan kesan, setiap pendakian memiliki pesan berbeda yang terbawa pulang. Tidak ada template seragam untuk perasaan setelah turun gunung. Tumpukan pengalaman yang terakumulasi dari langkah-langkah panjang seakan memiliki episodenya sendiri.

Selepas mendaki, kamu tidak akan jadi orang yang sama lagi. Ada hati yang lebih tabah menghadapi beragam situasi. Kaki yang digeber dalam langkah-langkah panjang seperti memiliki kompasnya sendiri. Keputusan yang diambil pasca turun gunung membuatmu lebih mendengarkan kata hati, kamu tak akan lagi gegabah hanya karena ingin menang sendiri.

Terima kasih gunung, pendakian — dan segala turunannya untuk perkawanan dan pengalaman yang kau beri.

Adakah rasa syukur lain yang ingin kamu ungkapkan pada pendakian yang memberikan berbagai pengalaman? Jika ada, yuk bagikan kisahmu lewat #30HariTerimakasih Challengebersama Hipwee di Instagram!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

37 Comments

  1. Suka dengan kalimat ini ”Selepas mendaki, kamu tidak akan jadi orang yang sama lagi. Ada hati yang lebih tabah menghadapi beragam situasi”

  2. Dinde Lombok berkata:

    Beginilah dia (gunung) membuatku takluk.

  3. Feb berkata:

    jadi semakin penasaran ingin mendaki 🙂 , 2 tahun selesai tugas aku akan menaklukan nya 🙂

  4. Danek berkata:

    Hiks hiks terharu kakak

  5. Ilham Zakaria berkata:

    Betul banget tuh,terbayar sudah ketika sudah nyampe puncak beehhh indah banget

  6. Diah Restu berkata:

    bukan kamu yang akan menaklukannya.. tapi kamu yang akan takluk..
    just remind aja yahh…:)

  7. dewasa ini geliatnya makin deres kayak banjir lahar dingin..tp ga dibarengi pendidikan dan latihan dasarnya, semoga semakin banyak yg sadar akan nikmat ini.. dan berfikir kalo kegiatan ini mungkin jadi hobi bagi anak cucunya kelak sehingga bisa berfikir bahwa dirinya harus bisa menjaganya
    #keepthisamaz!ngIND
    #SelamanyaIND

  8. Eko Hari S berkata:

    “Terima kasih gunung., pendakian & segala turunannya untuk perkawanan & pengalaman yg kau beri..”
    Kereeeeennnn…..

  9. Mask Ady berkata:

    jangan lupa sampahnya dibawa turun ya brad n sista,.,.

  10. siipp bener skali tuh hehehe

CLOSE