Kamu merasa bukan di sinilah seharusnya dirimu ditempatkan. Ingin rasanya berteriak, “Apa-apaan?” pada setiap keputusan. Selama ini sepertinya kamu sudah cukup jadi anak baik-baik dan penurut. Namun kenapa jalan hidup ini terjal sekali hingga membuat kening berkerut?

Kalau bisa, kamu ingin jadi Jaeger macam di Pacific Rim yang tubuhnya bisa dibongkar-pasang. Dengan begitu, bisa kamu tunjukkan bahwa tiap bagiannya benar-benar dalam kondisi paling prima. Bahkan medan perang paling keji pun bisa kamu hadapi tanpa meninggalkan luka.

Advertisement

Hey, aku mengerti sekarang kamu sedang kesal sekali. Semesta seharusnya tak memperlakukanmu sekeji ini. Tapi maukah kamu meyakini?

Tuhan yang paling mengerti. Kita-kita ini hanya harus menjalani.

Jalan buntu di hadap mata bisa jadi jalan memutar yang sedang disiapkanNya. Ah, kita ini tahu apa?

ah, kita-kita ini tahu apa?

ah, kita-kita ini tahu apa? via weheartit.com

Jika boleh sedikit berbagi cerita sebenarnya kita sama. Dulu saya juga sempat marah besar padaNya. Selepas lulus SMA keinginan untuk kuliah di Jepang dengan beasiswa tidak dikabulkanNya.

“Kurang apa?”, pikir saya. Mati-matian saya belajar. Bahkan nilai Matematika dan Fisika — 2 pelajaran yang sungguh tak masuk logika bisa diatas rata-rata. Ibadah malam dan menemui Tuhan sebelum matahari diatas kepala juga tak pernah lupa dilakoni setiap harinya. Tapi Dia dan keputusan semesta memilih mengkhianati saya.

Advertisement

Sempat mengira Dia sungguh tak punya hati untuk mendengar permohonan saya. Selepas itu saya memutuskan menjauh sekian lama. Pongah sekali jika diingat ulang. Karena kesal saya jadi merasa bisa hidup tanpa Dia. Tapi ternyata logika kita selalu berbeda denganNya. Tanpa banyak usaha, saya malah mendapatkan full scholarship untuk exchange ke universitas yang jauh lebih baik dari universitas incaran saya.

Jalan buntu di mata saya, justru jadi jalan memutar untukNya. Dalam kekecewaan dan kemarahan, dibentukNya saya jadi pribadi yang siap dilepas di tengah hiruk pikuk dunia. Dia terlalu mengerti bahwa saya tak akan siap jika dibebaskan 2 tahun sebelumnya.

Bahkan di tempat paling aneh menurut kita Dia bisa menitipkan clue card-Nya. Klise memang, tapi kita hanya harus percaya

Klise memang. Tapi kita hanya harus percaya

Klise memang. Tapi kita hanya harus percaya via kienlam.net

Sungguh, jika mau meyakini sebenarnya tidak ada kebetulan yang tercipta di bawah namaNya. Di manapun kita ditempatkan ia sudah mempersiapkan rute yang menurutNya paling aman.

Kita bisa saja tak habis pikir kenapa dengan gelar Sarjana Ilmu Politik yang dipunya justru kesempatan yang terbuka adalah jadi koordinator volunteer di NGO lokal yang banyak bersinggungan dengan anak-anak. Wajar jika kita bingung, kenapa malah tak terbuka jalan untuk jadi peneliti dan diplomat?

Namun selain sebagai pengambil keputusan yang paling bijaksana Dia juga terkenal dengan kreativitas yang tak ada dua. Clue card-Nya bertebaran di mana-mana. Saat kamu bertanya apa faedah dari peran sebagai koordinator volunteer di NGO lokal, pintu beasiswa development studies perlahan mulai Ia siapkan. Pengalaman terjun langsung di masyarakat jadi poin yang malah membuatmu stand out diantara kandidat lain yang minim pengalaman.

Terkadang, kita hanya harus menjalani dan percaya. Membiarkan Dia menuntun kita lewat jalanNya.

Bukankah tak ada salahnya mengakui bahwa Dia yang paling mengerti? Maukah kita sama-sama berjanji pensiun jadi hamba keras kepala mulai saat ini?

Maukah kita pensiun jadi hamba yang keras kepala sejak saat ini?

Maukah kita pensiun jadi hamba yang keras kepala sejak saat ini? via www.courtneyclarkeblog.com

“Ini hidupku. Aku sudah berjuang keras untuk ini. Bukankah aku layak mendapatkan yang lebih baik dari ini?”

Seringkah pernyataan itu jadi tameng yang membuat kita berhak merasa keras kepala dan tahu segalanya? Sebab toh kita yang memperjuangkan segalanya. Kita yang mati-matian begadang, kehabisan waktu untuk sekadar nongkrong bersama teman, sampai mengikhlaskan hati kosong dengan tidak pacaran.

Tak adil rasanya jika entitas lain yang malah memegang absolutnya keputusan.

Namun bukankah bagian dari menjadi dewasa adalah mengikhlaskan hidup bergerak sesuai keputusan terbaikNya? Menanamkan prasangka baik tentangNya malah membuat kita lebih kuat menjalani seluruh kejutan yang hidup sorongkan di depan mata.

Terkadang, kita hanya harus memaksa diri untuk bangun dengan semangat di pagi hari. Menjalani kewajiban yang nampak remeh dan sedikit memuakkan ini. Sembari berbisik pada diri sendiri.

Tuhan pasti punya rencana. Tuhan pasti punya rencana. Ia hanya sedang membentukku agar lebih siap menerima keputusan terbaikNya.

Sampai saat itu tiba, maukah kamu berjanji terus mengerahkan segala upaya? 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya