2019 Pergi dengan Permisi, 2020 Lebih Dari Sekadar Resolusi

2019 bukan hanya sekadar tahun atau tempat bergantinya waktu yang dibiarkan berlalu

2019 bukan hanya sekadar tahun atau tempat bergantinya waktu. Bagiku, tahun ini penuh dengan cerita yang melengkapi hidupku sendiri. Berbagai macam luka yang mendewasakan, pengalaman yang menguatkan juga perpisahan yang pada akhirnya menyadarkan bahwa sesuatu yang dipaksakan tidaklah baik. Di tahun ini, banyak impian yang menjadi kenyataan yang aku anggap luka adalah salah satu tolak ukurnya.

Advertisement

2019 menjadi tahun aku mengalami patah hati terhebat, meskipun sebelumnya ada beberapa kehilangan yang tidak bisa aku ceritakan. Seseorang yang sudah kita percaya akan menetap ternyata bisa pergi kapanpun takdir menginginkan. Bukan salah kita ataupun dia, tapi memang waktunya saja untuk semesta berkata “tidak”. Setiap orang pasti akan berubah, entah itu cara pandangnya, sikapnya atau apapun itu. Mungkin saja dalam setiap perubahannya kita tidak bisa mengimbangi atau bahkan bertolak belakang dengan perubahan itu. Hingga akhirnya perpisahan datang untuk menyelesaikan.

Lebih dari perasaan payung di musim kemarau, aku pernah merasakan sakit melihat seseorang yang kusayangi terluka namun aku bukan lagi yang menjadi obatnya. Bagaimana mungkin akan menyembuhkan ketika bukan lagi alasan dari kebahagiaannya. Terkadang lucunya manusia adalah mencintai orang yang tidak bisa dimiliki dan mengabaikan orang yang sangat tulus menyayangi. Tak mengapa, bagiku itu sudah menjadi siklusnya. Tidak setiap yang mencintai beruntung bisa dicintai kembali, ada beberapa kisah yang memang tidak ditakdirkan untuk menjadi kasih.

Lupakan sejenak tentang cinta, tahun ini juga menamparku dengan mimpi yang harus kuukir ulang. Ada beberapa gagal yang membuat tanganku mengepal. Meski pada akhirnya semua luka pamit setelah aku bangkit dengan melalui proses yang rumit. Kerja keras memberiku imbalan yang impas. Kuliah dengan biaya sendiri adalah suatu pencapaian bagiku. Memberi penghargaan terhadap diri sendiri yang mampu membagi waktu dan berjuang sampai hari ini. Setiap apa yang ingin aku beli bisa terwujud dengan uang hasil keringat sendiri. Menerima ajakan untuk berkolaborasi dalam dunia menulis juga sebuah kesempatan bahkan aku merasa beruntung sempat menjadi freelancer menulis artikel di beberapa website meskipun saat ini nasibnya sedang aku pikirkan matang-matang.

Advertisement

Ternyata tubuhku tidak setabah yang aku kira, ia juga memiliki lelah yang membuat ambisiku harus mengalah. Pada akhirnya aku harus melepaskan salah satu kegiatan demi kesehatanku, demi menyayangi diriku.

Untuk 2020, hal pertama yang aku tunggu adalah terbitnya buku hasil dari kompetisi menulis Hipwee bersama Elexmedia. Senang rasanya bisa menjadi salah satu penulis di balik buku itu. Resolusiku di tahun depan semoga bisa menerbitkan buku sendiri di penerbit major.

Sebenarnya tahun baru sama halnya menginjak usia baru. Angkanya bertambah, tetapi tentu saja usia mulai berkurang, jatah untuk hidup mulai meredup. Untuk itu, doa yang terpanjat juga masih sama. Dibalik banyaknya resolusi yang terpenting adalah menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelum hari ini. Mempersiapkan diri untuk pamit dari dunia yang tak kekal karena kita hanyalah seorang tamu.

Untuk yang datang dan pulang di tahun 2019, semua tentang kita sudah aku maafkan. Untuk luka yang sempat membuatku berantakan, kini aku telah menjadikannya pelajaran. Tidak ada yang sia-sia, tahun ini akan terkenang menjadi tahun yang menguatkan sekaligus mendewasakan. Selamat tinggal, kebersamaan kita memang tak kekal. Semua yang belum tercapai semoga bisa segera sampai. Terlalu cepat kau berlalu, semoga detik-detik kebersamaan ini tak ada lagi pilu. Jangan membuat aku rindu karena waktu tidak akan pernah membuat kita kembali bertemu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Menulis dengan hati, semoga mewakili, meskipun tidak semua pengalaman pribadi.

CLOSE