Wahai Makhluk Bumi, Tidak Hanya Kita yang Dapat Berbicara. Alampun Mampu, Kalau Ia Mau

Mari saling menjaga bersama

Jakarta dalam catatan nostalgia~

Advertisement

Tepat hari dimana bumi menguak Ilahi menyapa hangat.

Bersama kita memijak di bumi. Bersama kita menjadi saksi dari kesekian kerap peristiwa dari perisai yang kerap terjadi datang menghampiri silih berganti. Polemik hari demi hari yang segera harus diatasi. Tawa, senyuman hangat, ucap syukur atas karunia pertolongan berkat Allah yang tak pernah pupus dan putus.

Diguyur hujan menyapa bumi. Kita semua bersama merasakan dan menerimanya dengan hati yang jauh lebih lapang. Kita semua tergugah tuk saling peduli. Yuk kita semua mulai lebih lagi tuk saling menjaga. Awal tahun 2020 disepanjang sejarah dini hari. Tercatat dan terabadikan. Bersama saling menjaga dan melestarikan alam. Semesta mulai berbicara..

Hempasan angin berhembus dengan saksama. Langit menghujan seakan ia rata mengerti dari tangis bumi yang sedang menguak dibathinnya para insan yang memendam asa. Hembusan angin menghempas dari para jiwa yang sedang berlalu lalang. Selamatkan bumi sentosa bersama kita saling menjaga. Ilahi menyapa dari pembersihan bumi. Semesta berbicara pada bumi. Muara mata air yang mengalir memberi buah karya terbaiknya menciptakan arti kedamaian. Mengusung catatan sejarah disetiap lembarannya.

Advertisement



Air bisa saja menghidupkan. Namun air juga bisa mematikan. Mengapa demikian?

Jika kita tidak pandai dan sedikit saja peduli, akan pelestarian alam, fenomena alam yang maha dahsyatlah yang 'kan menguak berbicara. Akan ada banyak peristiwa yang diresapi, lebih mencermati, dan memetik hikmah dari semua lingkup yang terjadi. Akan ada banyak kisah disepanjang usia yang kelak bisa menjadi nostalgia kita bersama yang tinggal kenangan dalam sejarah kehidupan yang berkaca lalu ia berbicara pada pena yang meliuk pada selembar kertas putih. Saat suara dalam lisan membungkam, biarlah sastra pada pena yang berkaca yang mampu berbicara. 



Awal tahun 2020 sungguh fenomena alam yang membentuk bumi pada porosnya para insani jiwa serta hati. Allah maha berkehendak. Allah maha besar dan maha melihat. Allah maha berkuasa dan maha adil. Allah senantiasa menyertai dan bersama kita semua. Karena Allah maha menyayangi kita semua. Dari sumringah senyuman tawa hangat, dari nestapa elegi hati berkompromi pada hari, dari kaca pilu derai air mata yang menopang hari berusaha menguatkan hati. Semua tak pernah luput dari penjagaan Allah.

 

Ada jiwa yang menepi. Bersahaja dan bersahabat dengan alam jauh lebih menenangkan hati. Berkisah pada hujan bersama derai hati. Cerita tentang hujan selalu menginspirasi. Derasnya hujan membawa keberkahan, derasnya hujan membawa inspirasi, derasnya hujan membawa gejolak bumi kenangan serta hati. Duhai belahan dunia pada bumi yang bersaksi lalu berbicara, diguyuran hujan bersama setiap tetesan munajat hati kepada Ilahi Rabbi. Allah senantiasa menyertai dan mengijabah setiap munajat dari kita para hamba-Nya.



Membumi kepada seluruh pelosok tanah bumi, penjuru dunia pada sudut kota menjadi catatan sejarah di tahun 2020 ini. Kita semua menyaksikannya, kita semua saling menopang dan mari untuk bersama bersatu berbenah dan menjaga. Kita semua turut merasakan. Serentak dalam tatap bumi yang menyapa menyatu dengan alam yang sedang berkata.



Duhai ranah semesta, alangkah indahnya alam semesta atas perhatian jejak karunia sang pencipta. Ilahi sedang setia menyapa senantiasa mendengar dari setiap jerit liuk hamba-Nya. Mari bersama kita lestarikan alam semesta dengan hati yang lebih peduli.

Dari deras hujan mengalir bersama tetesan derai air yang bermuara. Tentang arti hujan bagi para jiwa dan hati yang masih setia terjaga. Terenyuh hingga ke nadi, engkau yang kini telah pergi. Allah mengerti akan saksi hati. Ia mengetahui akan isakan tangis kala hati sedang berkompromi kepada hari, bersama guyuran hujan dengan derai air mata doa, saat kata hati dan waktu yang berbicara. Berjalan bersama waktunya. Dirinya masih terngiang dalam benakku. Hati yang memasrahkan segala takdirnya hanya bersimpuh kepada Ilahi. Hati yang berbicara, pena yang merangkai catatan abadi, saat lisan tak mampu berkata, hati yang terenyuh bersama gelinang butiran tetes air hujan, hati yang tak pernah lekang oleh waktu, hati yang mengikhlaskan.

Gelinang tiap tetesan air hujan yang jatuh ke bumi. Langit yang berkata, kala langit menurunkan butiran hujan bersama doa para jiwa yang mengalir ke bumi. Pada setiap tetesannya yang menjadi saksi. Dari setiap d'a yang tak berjeda. Menyatu dengan alam. Hujan dalam kenangan. Hujan dalam hati. Pada sepenggal waktu yang berjalan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE