Berhenti Mendengarkan

.


Apa tersenyum sesulit itu? Apa sedalam itu luka yang kamu miliki? Tersenyumlah sedikit. Walaupun kamu rasa tidak ada satu pun di dunia ini yang ingin melihatnya. Tersenyumlah untuk dirimu sendiri. Apa artinya kamu hidup jika tidak memikirkan dirimu sendiri. Benarkan? Aku tidak salah kan? Aku rasa tidak.

Kalau kamu bertanya bagaimana denganku. Aku selalu tersenyum asal kamu tahu. Aku sombong sedikit boleh lah ya. Tapi senyuman ini otomatis. Rasanya ingin tertawa. Lucu sekali. Meski saat itu aku merasa sesak, tapi tepat setelah aku keluar rumah tiba-tiba aku selalu tersenyum sepanjang jalan. Bagaimana bisa seperti itu ya? Apa begini tidak apa?

Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu hari ini? Aku harap kamu tetap bisa berdiri sendiri. Aku cukup jauh di sini, jadi rasanya sulit langsung menggenggam tanganmu. Membantumu berdiri. Tidurlah jika lelah. Mau baca beberapa saran dariku? Tapi jangan terlalu anggap serius semuanya ya. Hidup setiap orang itu berbeda. Jadi pilihannya pun juga berbeda-beda.

Saran pertama, jangan terlalu memikirkan apa yang sudah terjadi. Lupakan saja semua yang tidak penting. Tidak perlu kamu ingat terus seperti itu. Buang saja. Kosongkan memorimu. Dan isi hanya dengan sesuatu yang bisa membuatmu tersenyum. Kilas balik saat kamu mendapat hadiah terbaik dalam hidupmu. Perasaan dipeluk dan rasa hangat kasih sayang yang menyelimuti. Atau rasa saat kamu mendapat pesan dari cewek yang kamu taksir. Hehe…

Hmm… kapan terakhir kamu dipeluk? Karena aku tidak ingat bagaimana rasanya dipeluk yang sebenarnya. Ini aneh. Tapi apa ini bisa disebut sebagai pelukan nyata. Aku ingin cerita sedikit lagi ya. Saat itu aku benar-benar ingin dipeluk. Aku meminta pada Tuhan. Meminta untuk dipeluk. Dan pada suatu malam, aku dipeluk oleh seseorang. Aku tidak tahu siapa. Aku tidak melihat wajahnya. Tapi rasa pelukan itu nyata. Aku cukup kaget sampai terbangun dari tidurku. Aku masih berusaha untuk tidak melupakannya sekarang. Hehe… Pelukan itu cukup nyaman.

Saran kedua, entah ini benar atau tidak, tapi aku sendiri tidak terlalu suka dengan manusia. Ya, benar. Aku juga manusia. Aku juga tidak menyukai diriku sendiri. Kenapa seperti ini? Kenapa harus begini? Kenapa aku adalah aku? Tapi ya sudahlah ya. Takdir bukan di tanganku. Jadi, saran yang kedua itu, tidak boleh bergantung atau berharap apa pun pada manusia. Bagiku ini tanpa terkecuali. Aku bahkan tidak boleh berharap pada diriku sendiri. Ehm… aku rasa yang ini salah. Tidak semua manusia itu mengecewakan kok. Aku cuma belum menemukan yang benar-benar tidak saja. Kamu harus cari ya, aku juga lagi nyari kok. Dan kayaknya aku sudah nemu satu.

Oh iya, berhenti bertanya tentang takdir ya. Jangan ada pertanyaan kenapa aku adalah aku atau semacamnya. Cukup. Tidak boleh. Kamu adalah kamu karena kamu yang terbaik untuk dirimu. Aku harap ini cukup menenangkan rasa ingin tahumu. Jadi kalau tiba-tiba pertanyaan itu terlintas lagi. Ingat kata-kataku ya.

Hmm… apa lagi ya. Aku mungkin sudah menulis 500 kata sekarang. Tapi aku rasa ini terlalu pendek untuk dijadikan cerpen. Hahaha… aku bercanda. Aku menulis ini di malam hari. Sambil mendengarkan lagu yang saat ini sedang aku sukai. Aku bisa mendengarkannya sampai 20 kali lebih dalam sehari jika aku lagi suka. Tapi kalau aku mulai bosan lagu ini seperti tidak akan pernah aku putar lagi dalam beberapa bulan ke depan. Kecuali saat tiba-tiba aku teringat dengan lagu itu.

Ah aku ingat. Saran ketiga, tidak perlu peduli dengan apa yang orang lain katakan. Mereka hanya orang lain. Ingat. ORANG LAIN. Harusnya itu sudah cukup jelas kalau mereka tidak sepenting itu sampai harus kamu dengarkan semua kata-kata mereka kan. Cukup yang perlu saja. Tapi bagaimana caranya? Aku kan mendengarnya? Aku Cuma bisa jawab dengan biasakan. Biasakan untuk tidak terlalu mendengarkan yang tidak penting.

Aku dulu orang yang sampai tidak bisa tidur hanya karena tiba-tiba ingatan buruk muncul. Entah aku sedang berpikir apa sampai tiba-tiba muncul. Overthinking. Ya benar, itu aku yang dulu. Tapi sekarang sudah tidak separah itu. Cukup sulit membiasakannya. Tapi aku bisa. Jadi kamu pasti bisa kan? Oh iya. Jangan lupa untuk terus bermain basket ya. Aku tidak mau menjadi alasanmu berhenti bermain basket.

….


**

 Hah … hah … hah … Suara terengah-engah yang selalu membuatku cemas.

Tenang, tenang. Aku terus berusaha menenangkanmu. Akhir-akhir ini Laras lebih sering terkena serangan panik. Satu dua kalimat dari rekan kerjanya yang terlalu menyudutkannya lagi-lagi membuatnya menyalahkan dirinya sendiri.

Saat itu sore hari. Jam pulang kantor. Kamu menelponku dari tangga darurat. Memintaku untuk menjemputmu. Saat aku tiba di sana kondisimu sudah seperti ini. Aku membawamu ke mobil setelah kamu sedikit lebih tenang. Dan mengantarkanmu pulang saat kamu bilang sudah siap untuk pulang.

Kita ke psikiater lagi ya, pintaku padamu bukan untuk pertama kalinya.

Tidak perlu, aku sudah tenang sekarang, terima kasih, jawabmu dengan senyum yang manis. Percuma jika aku memintamu sekali lagi. Jawabanmu masih tetap sama kan.

**

Kenapa? Kenapa seakan-akan kamu sudah memutuskan untuk pergi? tangisku pecah. Kugenggam erat selembar kertas berhias teddy bear itu. Ini bukan lagi basah, tapi sudah hanyut.

Di malam dengan puluhan jangkrik berbincang. Aku terduduk di atas kasurku membungkuk. Tidak lagi kuat menegakkan wajah. Baru saja dua hari lalu kamu bilang aku akan memenangkan pertandingan itu dengan yakin. Aku kembali dengan harapanmu yang telah aku wujudkan. Tapi kenapa kamu tidak ada untuk mengucapkan selamat? Bahkan kata-kata sepanjang ini. Apa yang sebenarnya harus aku perbuat sekarang?

Tok tok tok

Jor, ayo makan malam dulu, jangan tidur dengan perut kosong seperti itu, pinta mama dari balik pintu.

Iya ma, sepuluh menit lagi Jordan keluar, jawabku menahan isak. Aku melihat kembali kertas itu. Kertas yang aku ambil dari buku harianmu. Saat aku datang di hari pemakamanmu, meski aku tidak kuat. Aku gagal mencegahmu pergi. Setidaknya aku akan mengantarkanmu.

Kenapa kamu seperti menceritakan hidupmu di sini? Kenapa kamu tidak ceritakan saja saat bersamaku. Kenapa baru sekarang? … Dan lewat kertas ini? Kamu pasti melihatnya kan. Kertas itu sudah aku ambil. Tapi belum selesai kubaca. Aku seperti tidak sanggup lagi. Apa ini yang kamu sebut tidak lagi mendengarkan? Harusnya saat itu aku Tarik paksa kamu. Harusnya ini bisa berakhir lebih baik kan, Laras.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis