Siapa bilang kita nggak bisa mendapat manfaat dan faedah dari konten-konten humor? Para pelawak, komedian, dan komika hadir bukan hanya memberi tontonan yang menghibur namun juga menebarkan pesan positif dengan cara yang menyenangkan. Paling tidak itulah indikator berkualitas atau tidak berkualitasnya sebuah humor atau lawakan.

Raditya Dika pada tanggal 12 Juli 2017 mengunggah sebuah video dengan judul “Draw My Life” di channel YouTubenya. Draw My Life adalah sebuah konten video yang berisi perjalanan hidup seseorang. Si empunya video akan menceritakan perjalanan hidup mereka sembari menggambar ilustrasi-ilustrasi kejadian paling berkesan dan tak terlupakan bagi mereka.

Advertisement

Dalam video yang berdurasi 15 menit 37 detik itu, Raditya Dika menceritakan perjalanan hidupnya dengan santai dan gambar yang absurd. Di kolom komentar banyak yang mengaku tertawa lantaran hasil gambar Raditya Dika yang jauh dari kata bagus nan indah.

Namun ada pesan penting yang ingin Raditya Dika sampaikan kepada 2 juta lebih subscribernya. Menurut komika yang lahir 32 tahun silam ini ada tiga tipe orang yang akan kita temukan dalam hidup. Siapa saja mereka? Check it out!

Advertisement

1. Orang yang menghargai apa yang kita lakukan

Raditya Dika kecil adalah sosok yang tak punya banyak teman. Ia dari kecil sudah suka membaca. Dari situ pula muncul keinginannya menjadi seorang penulis. Ia mulai suka menulis diary.

Hingga pada suatu ketika, teman sebangkunya yang bernama Ridam meminjam diarynya untuk dibaca. Diary yang berisi tragedi-tragedi dalam hidup Raditya Dika kecil itu ternyata lucu di mata Ridam. Karena Raditya Dika menuliskannya dari sudut pandang yang lain.

Ia paham bahwa komedi adalah tragedi yang dilihat dari sudut pandang lain. Dari situlah ia mulai pede menulis. Ia membeli satu buku tulis dan menulis cerita karyanya sendiri lalu dibaca oleh teman sekelas, adik kelas, kakak kelas, hingga guru-gurunya.

Dalam hidup kita pasti akan menemukan orang-orang yang mengapresiasi karya kita. Apresiasi atau penghargaan itu biasanya ditunjukkan dengan pujian dan sanjungan. Ada orang yang terbuai dan berpuas diri dengan pujian dan sanjungan itu.

Ada juga yang menjadikan pujian dan apresiasi itu sebagai penyemangat untuk terus berkarya. Dan Raditya Dika, ketika itu, adalah bocah kecil yang menjadikan penghargaan itu sebagai motivasi untuk terus berkarya. Andai Raditya Dika terbuai dengan pujian itu dan berpuas diri belum tentu ia bisa sampai pada titik kesuksesaannya seperti sekarang ini.

2. Orang yang mendukung kita mengembangkan diri

Sewaktu SMA Raditya Dika sempat bingung ia ingin jadi apa. Namun orang tuanya membebaskan Raditya untuk menjadi apa saja yang ia mau asal harus jadi yang terbaik. Saat itu pula Raditya berkenalan dengan internet, ia jadi tahu apa itu blog dan mulai menulis di sana. Banyak keputusan yang pernah Raditya Dika pilih dalam perjalan hidupnya, seperti resign dari perusahaan hingga memutuskan menjadi penulis. Dan keluarganya mendukung 100%.

Karena merasa didukung Raditya Dika pun mulai meniti karier di dunia kepenulisan. Di awal-awal bukunya nggak begitu laku. Hingga lama kelamaan mulai laris dan dibaca banyak orang. Beruntung Raditya Dika memiliki orang tua yang mendukung setiap keputusan yang ia pilih. Dan begitulah seyogyanya orang tua yang baik, mendukung, memberi support, tidak mengekang, namun tetap rajin memberi masukan dan saran.

Dewasa ini masih ada segelintir orang tua yang suka memaksakan kehendak pada anaknya. Si anak nggak mau jadi guru tapi dipaksa kuliah di Fakultas Pendidikan. Si anak nggak mau jadi perawat tapi disuruh kuliah di Fakultas Kesehatan. Si anak ingin jadi insinyur tapi malah disuruh kuliah di kedokteran.

Sudah seharusnya keluarga memposisikan diri sebagai pendukung pengembangan potensi semua anggota keluarga. Namun meski demikian, sebagai anak kita tetap membutuhkan masukan dan saran dari kedua orang tua. Jika Kamu dan orang tua berbeda pendapat dalam suatu hal, diskusikanlah dengan kepala dingin dan sampaikan pendapatmu dengan sopan.

Buat orang tuamu mengerti keinginan dan keputusan yang hendak Kamu ambil. Dengarkan pula alasan mereka kenapa berbeda pendapat denganmu. Siapa tahu memang saran orang tua justru lebih baik bagimu di kemudian hari. Ingat keridhoan Tuhan ada pada keridhoan orang tua.

3. Orang yang ngasih keraguan dalam hidup

Orang seperti ini pasti akan kita temukan dalam hidup. Bahkan bisa jadi mereka ada di sekitar kita. Raditya Dika pun mengalami hal yang sama. Ia bertemu dengan seseorang yang meragukan perkembangan karier menulisnya. Orang itu mengatakan bahwa penulis nggak punya tangga karier.

Nggak kayak pekerjaannya di perusahaan. Hari ini ia jadi pegawai biasa, lalu bisa naik menjadi kepala bagian, menjadi manager, hingga direktur. Hal ini sempat membuat Raditya Dika ragu dan bertanya-tanya tentang kelanjutan kariernya.

Yang dilakukan Raditya Dika dalam menghadapi tipe orang seperti ini adalah bertanya pada diri sendiri dengan kepala dingin. Ia tidak mengiyakan keraguan yang muncul apalagi termakan oleh bisikan pesimisme. Hingga ia sampai pada kesimpulan yang sangat logis; jika ia tidak punya tangga untuk naik ke atas bukankah ia punya tangga untuk bergeser ke samping? Raditya Dika yakin ia tak hanya bisa menjadi penulis saja, ia pun mulai mencoba menjadi penulis naskah film, aktor, hingga menyutradarai filmnya sendiri.

Inilah pesan yang ingin Raditya Dika sampaikan. Seperti apa hidupmu ditentukan oleh bagaimana caramu menyikapi ketiga tipe orang yang akan kau temui dalam hidupmu ini. Ketika diapresiasi jangan sombong dan berpuas diri tapi jadikan sebagai tambahan motivasi menjadi lebih baik.

Ketika mendapat dukungan manfaatkan lah dukungan itu dengan sebaik-baiknya. Jaga komunikasi dengan orang-orang yang mendukungmu. Dan saat ada yang meragukanmu jangan pernah termakan oleh omongan mereka. Jadikan keraguan itu sebagai media berinovasi dan berkreasi.

Dan jangan lupa! Untuk menjadi sukses diperlukan kesabaran dan konsistensi yang tak berujung. Raditya Dika saja perlu waktu 20 tahun lebih untuk menjadi seperti saat ini. Sedangkan kita? Oh My God, jangan-jangan memulainya pun belum kita lakukan?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya