Cara Merawat Budaya Khas Santri dengan Berbagi Tanpa Batas di Era Digitalisasi

Menurut adik sepupu saya yang seorang santri dari salah satu pesantren terkenal di pulau Jawa, kehidupan harian santri terkenal dengan budaya khasnya.

Advertisement

Santri akan mondok dalam sebuah pesantren untuk jangka waktu tertentu. Ketika masuk dalam pesantren, santri akan melakukan kegiatan pendidikan berbasis agama Islam. 

Kegiatan harian santri diatur ketat dan terjadwal. Santri diwajibkan mematuhi aturan pesantren dan bersedia mendapatkan hukuman jika melanggar peraturan. Hukuman diberikan sebagai konsekuensi yang harus dijalankan. Hukuman yang diberikan sifatnya mendidik. Seperti membersihkan halaman, membersihkan ruang kelas, dan sebagainya.

Budaya Khas Santri

Sistem pendidikan pesantren setidaknya telah membentuk seorang santri menjadi manusia yang mempunyai disiplin tinggi dan berani bertanggung jawab. Semua ini dampak dari penerapan kebiasaan perilaku yang menjadi budaya dalam ruang lingkup pesantren. Budaya khas santri kurang lebih dapat diuraikan sebagai berikut

Advertisement

Sistem Kekeluargaan

Jauh dari keluarga dan handai taulan membuat pesantren menciptakan sistem kekeluargaan. Sama seperti di rumah, dalam pesantren juga ada sosok kepala keluarga yang menjadi panutan. Untuk sosok ayah lekat dengan sebutan kiyai sebagai pemimpin atau pengurus pesantren yang di segani. Khusus untuk santri perempuan ada sosok ibu sebagai pemimpin atau pengurus pesantren dengan sebutan nyai. 

Kebersamaan

Ketika santri masuk dalam pesantren mempunyai perasaan senasib dan sepenanggungan dengan teman satu angkatan. Untuk itu semakin lama akan timbul rasa kedekatan dan kebersamaan. Mempunyai teman yang sama-sama sedang menimba ilmu di pesantren dapat saling menyemangati. Bahkan santri seperti mendapatkan keluarga kedua. Contoh kebersamaan ketika waktu makan tiba. Santri diajarkan untuk mengambil makanan secukupnya. Maknanya supaya semua santri kebagian makanan secara merata dan dapat bersama-sama menikmatinya. 

Advertisement

Kemandirian  

Ketika seorang santri memutuskan mondok dalam sebuah pesantren maka sifat kemandirian sudah harus tertanam kuat. Pesantren mengajarkan para santri untuk berlatih bertahan dalam situasi dan kondisi apapun.

Salah satu cara dengan melakukan kegiatan produktif di luar jam belajar formal. Seperti bercocok tanam, memelihara hewan ternak dan sebagainya. Hasil dari kegiatan produktif dikembalikan pada santri untuk pemenuhan kebutuhan harian. Pada akhirnya santri terbiasa melakukan kegiatan positif dan produktif.

Merawat Budaya Khas Santri 

Melihat budaya santri yang penuh nilai kekeluargaan dan gotong royong maka tak salah jika banyak pihak luar yang terinspirasi untuk meneladani budaya tersebut. Masalahnya bagaimana budaya khas santri dapat terus bertahan di era digitalisasi seperti ini?

Saat ini hampir semua kegiatan masuk dalam ranah digital yang membuat setiap individu nyaris menjadi asyik dengan dunianya sendiri. Hal ini terlihat jika sebagian besar orang akan sibuk dengan gawai atau piranti elektronik masing-masing. 

Rasa kekeluargaan, kemandirian dan kebersamaan di dunia nyata seperti tenggelam dan berpindah ruang ke dunia maya. Sebagian besar orang lebih banyak menghabiskan waktu didepan layar monitor untuk bertemu muka secara virtual sambil berkegiatan. 

Keberadaan teknologi informasi dibantu dengan piranti elektronik seperti gawai atau laptop menjadi kendaraan baru untuk melancarkan ragam kegiatan. Hal ini tidak dapat dihindari karena perubahan zaman demikian adanya. 

Supaya budaya khas santri tetap dapat berjalan berdampingan dengan kemajuan teknologi informasi berikut cara merawat budaya khas santri

1. Bijak menggunakan media dan perangkat digital

Kehidupan sehari-hari manusia saat ini nyaris tidak bisa lepas dari media dan perangkat digital. Supaya tidak larut di dalamnya sebaiknya dibuat pembatasan waktu. Dari 24 jam waktu yang tersedia buat proporsi berkegiatan antara dunia maya dan dunia nyata.

Sediakan waktu untuk bercenkerama dengan orang di sekitar kita. Kebersamaan dengan orang terdekat atau keluarga tidak bisa digantikan untuk kedua kalinya. Terlebih jika orang terdekat sudah tiada. Jadi pergunakan waktu sebaik mungkin untuk menjalin hubungan lebih intens dengan orang terdekat kita.

2. Sampaikan pesan kemanusiaan dan perdamaian

Pergunakan perangkat digital untuk menyampaikan pesan penuh damai. Hindari ujaran kebencian atau sebaran berita yang belum teruji kebenarannya. Jika ingin menyebarkan pesan sebaiknya dilandasi keilmuan bukan mencari sensasi semata.

Manfaatkan media digital untuk memecahkan solusi dengan budaya gotong royong. Misalnya membantu mencarikan donor darah, membantu mencarikan inkubator bayi, membantu mencarikan tabung oksigen untuk yang membutuhkan dan sebagainya. 

3. Membuat konten digital bernuansa positif

Kemampuan santri menguasai bahasa asing di luar bahasa ibu dapat ditunjukkan kepada dunia luar. Misalkan pembuatan konten positif dengan berpidato dalam bahasa Arab. Membuat kriya dalam bentuk kaligrafi .

Selain itu santri juga dapat menyebarkan kegiatan melalui media digital ketika sedang berbaur pada masyarakat. Seperti ketika mengadakan bakti sosial, kerja bakti atau acara ketika sedang melakukan marawis dalam suatu acara.

4. Berbagi Tanpa Batas

Melihat budaya khas santri yang guyub banyak orang menaruh simpati bahkan terinspirasi. Tak jarang bantuan datang diberikan kepada berbagai pondok pesantren tempat santri menimba ilmu baik berupa fasilitas maupun materi.

Berbagi tanpa batas dapat dilakukan siapa saja. Karena di dalam rejeki dan keahlian yang kita miliki terdapat hak orang lain. Untuk itu kita harus berbagi sekecil apapun dan dalam bentuk apapun. Selamat Hari Santri Nasional.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Blogger Lifestyle, hobi kuliner dan traveling. Senang menulis dan membaca.

CLOSE