Ada yang Usil di Negara Kita, Terutama Pada RUU KPK

Tanggal 23 September, ketegangan politik di Indonesia kembali mengangkat film lama. Ketidakpuasan pun berkabung, membentuk suara untuk menghakimi lebih buas.

Apa yang terjadi sepekan terakhir? Bukankah drama Joko Anwar dan Livi Zheng sempat ramai menggoda kita menyaksikan pergulatan cerca dan tawa. Apalagi selain itu, yang lebih berat, Riau Kalimantan seperti tak sudah-sudah mengendus asap abu-abu.

Derita ini seperti lempar batu sembunyi tangan, ungkapan semacam ‘ini ujian dari Tuhan’ adalah serangkaian belasungkawa pahit dari respon pihak oligarki. Tak ada kejelasan terkait siapa dibalik dalang ini, berita malah menyajikan ungkapan bahwa ini ulahnya si tukang kebun. Belum ada aksi pemerintah yang lebih serius mengungkap kasus dibalik ini. Selebihnya, bersabarlah! ini cuma ujian dari Tuhan.

Tanggal 23 September, ketegangan politik di Indonesia kembali mengangkat film lama. Ketidakpuasan pun berkabung, membentuk suara untuk menghakimi lebih buas. Mahasiswa dari berbagai instansi memperumit mulusnya pengesahan RUU KPK hingga berujung penundaan.

Ya, setidaknya dengan adanya ini, kita juga bersyukur, berkesempatan kembali melihat aksi mahasiswa di barisan terdepan menampung aspirasi masyarakat. Setelah bulan-bulan resah, rakyat terbelah antar satu dan dua, kini sepakat menyatakan tidak terima RUU KPK.

Lontaran lucu, yang tidak lucu sama sekali semacam ‘untung tidak memilih pakde’ adalah bercanda yang tidak masuk akal. Ada baiknya menikmati serangkaian ini sambil menyeduh kopi, karena apapun kebijakan Jokowi, akan berpengaruh terhadap masyarakat luas, seperti halnya ini.

DPR bukan bayi-bayi yang bermain di taman kanak-kanak, atau jangan-jangan sentilan Gus Dus waktu itu benar, DPR memang tidak becus sebagai wakil rakyat, malah mirip anak-anak TK.

Demokrasi punya jalan yang lebih panjang dan terjal dibanding pemilu kemarin. Benteng terakhir menghadang gejolak itu adalah mengoptimalkan akal sehat untuk selalu menjaga, bahkan berjuang demi menyuarakan demokrasi.

Kenyataan politik ini memang tidak menyenangkan tampil di layar mata kita. Kegembiraan beberapa waktu lalu lindap tak berjangka waktu cukup lama, memang tidak seindah yang dibayangkan.

Menina-bobokan kegelisahan

Ada persamaan antara dongeng dan representasi kehendak raykat, harapan yang semenjak dulu ingin membumi hanguskan korupsi seperti upaya yang terlampau percuma. Sama seperti dongeng, sulit diwujudkan. Kegelisahan pun ini menjadi kenyataan, KPK akan melemah.

Dalam hal ini, tidak ada wasit yang menggagalkan eksekusi DPR untuk menggolkan RUU KPK baru. Undang-undang ini akan mengubah susunan organisasi KPK. Lah, apa ini tidak lucu, kekuasaan KPK akan diawasi dalam melakukan penyadapan, sedang pengawasnya dipilih oleh presiden sendiri. Hm. . .

Dalam perjalanannya, KPK sering menangani kasus-kasus panas. Gerakan pemberantasan korupsi yang disajikan KPK belum bisa diberi nilai sempurna. Upaya untuk menyelamatkan negeri ini dari tikus-tikus itu masih belum membuahkan hasil yang lebih memuaskan. Bisa dibilang, KPK masih miskin inisiatif. Itu pula lah mengapa, darurat kini, KPK perlu diselamatkan, lebih-lebih pengesahan RUU KPK, mesti patut dicurigai.

Dianggap sebagai pinokio, ini cukuplah mewakili kekecewaan mendalam orang-orang. Janji-janji yang tertulis, tidaklah menampilkan bukti-bukti yang tertulus. Kekecewaan tertuju kepada sang presiden, yang sewaktu kampanye menjanjikan berdiri paling depan memberantas korupsi. Tetapi sayang, sepertinya ia lebih memainkan politik stabilitas. Ia tidak bersikap mandiri bahkan terjebak dalam lingkaran oligarki.

Akhirnya, kekuatan rakyatlah satu-satunya harapan untuk menyelamatkan KPK.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE