Di dalam sebuah riwayat diceritakan terjadi pertentangan antara dua ulama di kalangan sahabat Rasulullah SAW. Ulama yang pertama bernama Zaid bin Tsabit, kita mengenal beliau adalah seorang ulama penulis wahyu. Dan juga terkenal dengan kepakarannya dalam bidang ‘Bab Fiqh Warisan.’

Kemudian, Zaid bin Tsabit berbeda pendapat dengan ulama lain yaitu Ibnu Abbas. Dengan nama lengkapnya Abdullah ibnu Abbas bin Abdil Muthalib, anak paman Rasulullah SAW dan juga sebagai sepupu Rasulullah SAW. Dikenal dalam sejarah seorang ‘Ahli Tafsir,’ yang tak satupun ayat pada Alquran tidak dimengerti maksud dan isinya. Dan ini berkat dari doa Nabi Muhammad SAW, Allahumma faqihhu fiddin wa a’llimhuttakwil (Ya Allah berikanlah pemahaman didalam agama (kepada Ibnu Abbas) dan ajarkan kepadanya tafsir).

Advertisement

Zaid bin Tsabit berselisih dengan Abdullah bin Abbas dalam satu persoalan fiqh tentang hak, bagian dari seorang kakek/nenek tentang warisan. Ibnu Abbas menyatakan kakek/nenek menghalangi saudara orang yang meninggal untuk mendapatkan warisan. Sedangkan Zaid bin Tsabit berpendapat seorang kakek/nenek tidak menghalangi waris saudara orang yang meninggal.

Sehingga perselisihan pendapat ini menyebabkan satu sama lain hampir melaksanakan atau melakukan mubahalah (dua pihak yang saling memohon dan berdoa kepada Allah supaya Allah melaknat dan membinasakan pihak yang batil atau menyalahi pihak kebenaran).

Pada riwayat ini, ada sebuah kisah yang menarik perhatian antara sahabat Zaid bin Tsabit dengan Ibnu Abbas. Di riwayatkan oleh Imam al-Hazm dalam Kitab al Mustar Rukyat, demikian juga riwayat ini ditulis oleh Ibnu Abdillah dan di shahihkan oleh Imam Adz Zahabi didalam kitabnya.

Advertisement

Bahwa suatu ketika Zaid bin Tsabit menghadiri salat jenazah. Setelah selesai salat diberikan kepadanya seekor keledai, sehingga ia menaiki seekor keledai tersebut. lalu, datanglah Ibnu Abbas dan memegang tali kekang keledai tersebut.

Sehingga Zaid bin Tsabit mengatakan, “Wahai anak paman Rasulullah SAW, tolong jangan berbuat demikian.” Lalu Ibnu Abbas menjawab, “Demikianlah Zaid bin Tsabit, beginilah cara kami diajarkan oleh Rasulullah untuk menghormati ulama kami dan orang-orang yang berilmu diantara kami.”

Setelalah Ibnu Abbas mengatakan demikian, meneteslah air mata Zaid bin Tsabit dan diambilnya tangan Ibnu Abbas sehingga dikecupnya. Sehingga Ibnu Abbas mengatakan, “Wahai Zaid bin Tsabit, janganlah engkau berlaku seperti ini. Dan Zaid bin Tsabit menjawabnya, “Seperti inilah kami diajarkan untuk beradab dan berakhlak kepada keluarga Rasulullah SAW.”

Sehingga kita mendapatkan pelajaran dari cerita tersebut. Bahwa sesungguhnya sesama ulama, orang-orang yang berilmu sekalipun didalam pikirannya memiliki perbedaan pendapat. Namun, tidak merusak Iman dan ukhwah(persaudaraan).

Namun bagaimana dengan kita? Kita bukan ulama? Kita baru penuntut ilmu yang mana pada hari ini banyak disayangkan. Ustaz Zul Ikromi, Lc,. MA pada pengajiannya mengatakan penuntut ilmu sekarang malahan banyak seperti seorang ulama atau seorang yang paham akan ilmu dengan mampunya kita memberikan kritik para ulama dengan tanpa adanya dasar ilmu. Bahkan kita berujar ulama itu sesat atau dengan bahasa yang tidak sopan.

Padahal menghormati ulama itu adalah Sunnah yang telah dicontohkan oleh sahabat Rasulullah SAW dan penerusnya, sebab itu adalah contoh terbaik bagi kita. Namun disayangkan banyak dari kita yang tidak bersikap seperti sikap para ulama. Yang mana ulama-ulama bersatu hatinya, bersih jiwanya, serta tulus. Namun, murid-muridnya (kita) malahan sering berperang.

Maka untuk persatuan pada hari ini, benar kiranya yang disampaikan oleh Tuan Guru Ustaz Abdul Somad, Lc, MA bahwa mazhab kita hari ini hendaknya mazhab ukhwah.

Sebuah pelajaran yang bisa kita ambil, disaat Ustaz Abdul Somad bertemu dengan Ustaz Khalid Basalamah di sebuah pesawat. Sehingga mereka bersalam saling menyapa dan mencium pipi kanan-kiri. Dan itu disebarkan ke internet dan sosial media. Tak berselang lamanya, foto tersebut viral. Sangat disayangkan, ternyata murid-muridnya di kolom komentar berperang.

Ada yang mengatakan bid’ah, ada yang mengatakan sesat, dan ada yang mengatakan tidak bisa lagi diambil ilmunya, Innalillah wa inna illaihi roji’un. Yang mana bertepuk tangan dengan kejadian ini adalah Syaithan. Yang bertepuk tangan pada kejadian hari ini adalah orang-orang yang tidak senang dengan persatuan Muslim.

Maka para ulama kita mengatakan jikalau sekiranya orang yang tidak mengetahui begitu banyak diam, pasti perselisihan ditengah masyarakat tidak sering terjadi. Sekarang semua bicara, bahkan bayi yang baru lahirpun mampu ia berfatwa.

Sebab perbedaan-perbedaan cabang dalam persoalan fiqh , jangan sampai mengahancurkan persatuan kita yang mana kita tidak bersatu. Karena hakikat dari fiqh sebenarnya adalah perbedaan pendapat. Sehingga ulama-ulama di dalam Fiqh Komparatif mengatakan bahwa, ‘Bagi siapa yang tidak mengerti persoalan perbedaan pendapat dikalangan ulama, berarti hidungnya belum pernah mencium aroma fiqh.’

Sehingga kita mendapatkan pelajaran penting dari kisah diatas yang menjadikan kita banyak belajar dan lebih beradab serta berakhlak kepada ahli-ahli ilmu. Dan menambah semangat kita dalam belajar serta mengamalkan kepada kehidupan kita sehari-hari.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya