Seberapa pantaskah kamu harus aku perjuangkan? Dari awal pertemuan, aku sudah mencium ada rasa yang berbeda di antara kita. Tapi aku selalu berusaha menghindar darimu. Karena kupikir ini tidak akan baik untuk kedepannya. Tapi perasaan tetaplah perasaan, aku tidak bisa mengatur atau menolaknya begitu saja. Hari demi hari di antara kita selalu dihiasi kode-kode rasa suka. Tanda-tanda yang selalu kamu berikan padaku meluluhkan niatku untuk menghindar darimu.

Sudah lama diriku tidak merasakan dibuai asmara. Aku tidak mudah memberikan hatiku untuk seseorang. Tapi entah ada apa denganmu, kenapa aku bisa memberikan hatiku untukmu padahal banyak perbedaan di antara kita. Aku larut dalam rasa cintamu. Tapi dirimu terlalu angkuh di perjalanan ini. Jika suka kenapa selalu aku dulu yang memulai.

Advertisement

Kenapa harus aku terlebih dahulu yang menyapamu. Tapi jika tidak suka, kenapa dirimu cemburu dan kesal ketika aku berbicara dan terlihat akrab dengan laki-laki lain. Oh, perasaan seperti ini yang enggan aku pikirkan, tapi tetap saja terpikir di setiap malam. Gengsimu terlalu besar untuk sekedar mengungkapkan perasaan. Hanya untuk mengakui rindu saja kamu tidak mau. Tak sadarkah aku ini adalah perempuan, yang harusnya kau beri kepastian.

Perjalanan kita terlalu panjang, di mana ini akan berujung? Aku selalu menunggu. Kita sudah berada di tengah-tengah laut, mundur tidak mungkin. Pilihannya hanya maju. Menyelesaikan sampai berlabuh. Segala perasaan mungkin telah kita rasakan, kadang bahagia, sedih, kecewa mewarnai setiap langkah kita. Siapa di sini yang akan menyerah lebih dahulu, aku atau dirimu. Bisa saja diriku yang menyerah. Karena kau harus tau cinta bisa lelah menunggu. Ternyata aku masih punya hati untuk menunggu sebuah kepastian darimu. Aku tidak mampu menyakitimu.

Masih saja chat-chat manis kita menghiasi hari-hari. Kita masih sama-sama mengayuh perahu yang berada di tengah laut ini. Ditengah kehangatan hubungan kita, tiba-tiba dirimu mengurangi komunikasi denganku. Ada yang berubah dari dirimu memperlakukanku. Apa maksud semua ini? Kau mematahkan harapanku? Kau tega menyakitiku? Dan kamu dengan tenang memamerkan seorang perempuan. Aku kecewa. Tapi ini juga kesalahanku, mungkin ini hanya harapanku saja yang berlebihan terhadapmu. Terima kasih, untuk setiap kata-kata darimu yang meyakinkanku selama ini agar aku bisa bersabar untuk bersama denganmu. Ternyata, dermaga kita berbeda.

Advertisement

Dari situ aku berusaha mengayuh menepi meninggalkanmu. Aku berpikir keras tentang apa yang terjadi pada diriku. Aku selalu kalah dalam hal ini. Ternyata benar kata hatiku waktu itu, aku harus menghindar darimu. Aku bukan seseorang yang mudah jatuh cinta. Walaupun aku lebih banyak berteman dengan laki-laki, aku selalu mempunyai benteng untuk perasaanku. Aku akan melepasmu, pergilah. Kejar dia yang lebih bisa mengerti dan memperjuangkanmu lebih dari aku.

Sampai seorang teman berkata kepadaku, "Akan ada hal yang menjauhkanmu dari sesuatu yang tidak pantas. Bangkitlah teruskan perjalananmu" Sebuah kalimat yang membuka lebar hati dan pikiranku. Aku harus tahu kapan dan siapa yang harus benar-benar aku perjuangkan. Dan aku harus siap kapan untuk melepaskan dengan tulus. Seorang laki-laki kalau tidak pandai menjaga perasaan dan perilakunya ya sama saja. Tidak perlu kamu perjuangkan. Sekuat apapun kamu berjuang, yang pergi akan tetap pergi. Sebagaimana kamu bertahan, yang pergi akan tetap pergi. Akan selalu ada hal yang menjauhkan jika itu memang tidak pantas, tidak tepat untukku. Mau dipaksakan pasti tidak akan baik.

Maka aku melepaskanmu. Masih banyak perjuangan yang harus aku lewati. Aku harus mengayuh kembali perahu ini, sampai ke dermaga yang siap menerimaku apa adanya. Aku pikir melupakanmu dan merelakanmu sebuah pilihan yang berat. Aku pikir aku tidak akan bahagia. Ternyata dugaanku salah, aku justru merasa lega, merasa lebih bahagia tanpa penyesalan. Karna aku menyadari penuh tidak perlu ada penyesalan untuk sesorang yang tidak pantas diperjuangkan. Dan jika memang benar dia menginginkanku, setidaknya dia akan mengambil usaha untuk itu. Bukan hanya dengan kata-kata. Semoga kamu berbahagia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya