Setelah begitu lama memendam rasa ini, akhirnya aku tak sanggup lagi menahan dorongan perasaan yang terus memenuhi hati dan pikiranku. Khayalan dan mimpi-mimpi tentangnya senantiasa mengisi hari-hariku yang selalu sendiri di perantauan. Meski aku mengenal banyak cewek, namun tak pernah kutemukan pesona seperti dia. Hanya dia dan dia.

Namanya aku tuliskan di dinding kosku dengan gambar jantung dan panah, sebagai pernyataan bahwa aku jatuh cinta hanya padanya. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menulis surat cinta, sebagai ungkapan perasaanku.

Advertisement

Sebungkus kertas surat berwarna dengan gambar mawar merah dan harum ada di atas meja belajarku. Aku masih duduk terpaku mengumpulkan seluruh keberanianku untuk menyusun kata pernyataan cinta yang akan kukirimkan lewat pos. Aku duduk termenung memandangi dinding dimana tertulis namanya, sambil membayangkan dirinya, wajahnya, senyumnya, sikapnya dan semua tentangnya dan juga ketakutanku akan penolakannya terhadap perasaanku.

Kuhela nafasku dalam-dalam, lalu aku ambil pena dan kertas, mulai menuliskan kata demi kata untuk pernyataan cintaku. Kubaca lagi terasa janggal, kuremas kertas dan aku buang. Lalu kuambil kertas baru dan menulis lagi, kubaca lagi dan terulang lagi, hingga malam larut dan setengah bungkus kertas sudah habis jadi sampah terserak di lantai. Namun belum juga jadi satu surat.

Aku diam lagi, merenung lalu perlahan kutuliskan:

Advertisement

Dear,

yang terkasih.

 

Salam manis untukmu selalu

Aku berharap dan berdoa agar kamu senantiasa ada dalam keadaan sehat dan bahagia

Sebelumnya aku mohon maaf karena aku terlalu lancang hingga berani mengrim surat kepadamu. Namun semua ini terpaksa aku lakukan karena aku tak sanggup lagi membendung perasaan yang ada di dadaku padamu. Perasaan yang selalu ada setiap saat, hingga memenuhi hari-hariku. Aku selalu resah dan gelisah memendam rasa rindu kepadamu.

Sebernarnya berulang kali niat ini sudah ku batalkan karena aku merasa tak pantas untukmu. Tak ada apa pun yang bisa aku banggakan padamu, hingga aku merasa tak cukup pantas untuk bersanding denganmu.

Aku bukan orang yang pintar, juga bukan orang yang ganteng, dan aku pun bukan anak dari keluarga berada, yang punya banyak materi, untuk bisa memberikanmu kesenangan  atau membahagiakanmu kelak. Namun apa pun adanya aku, dengan sangat terpaksa aku harus tetap menyatakan kalau aku cinta padamu dan ingin jadi kekasihmu dari hati yang paling dalam.

Andai kamu menolaknya, aku bisa memahaminya. Meskipun sejujurnya aku berharap kamu juga memiliki perasaan yang sama. Mungkin aku bukanlah apa-apa bila dibanding denganmu. Ibaratnya kamu bulan di langit, aku hanyalah tanah di bumi. Namun aku tetap harus menyatakan ini padamu, agar terjawab semua tanya di hati yang lama tak mampu kujawab. Apa pun jawabanmu, aku akan berusaha menerima dengan lapang dada.

Akhir kata, terima kasih sudah membaca suratku ini, semoga kamu berkenan memberiku jawaban, yang tentunya aku sangat berharap itu sesuatu yang menggembirakan. Dan saat itu aku pasti menjadi orang yang paling berbahagia.

Dari aku yang mendambakanmu

Kuputuskan untuk menggunakan surat itu sebagai pernyataan rasa cintaku padanya dan akan kukirimkan lewat pos besok pagi. Aku pun berangkat tidur dengan harapan akan mendapat jawaban surat yang menggembirakan darinya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya