"Kapan kamu menikah??"

"Ke undangan melulu, kapan ngundangnya??"

Advertisement

"Kok sendirian aja? Kapan diajak pasangannya?"

Kalimat-kalimat serupa tapi tak sama itu, makin lama makin sering terdengar. Mulai dari para orangtua hingga teman-teman sebaya yang sudah terlebih dahulu melepas masa lajangnya. Apakah kalimat-kalimat itu mengintimidasiku?? Sejujurnya….ya…sangat mengintimidasiku…pada awalnya.

Tapi…hei…lama kemudian, aku baru menyadari. Umurku boleh bertambah, tapi jika jodoh itu belum dikirimkan Tuhan kepadaku? Apakah aku harus panik dan membabi buta? Sedangkan Sang Maha Kuasa saja menyatakan bahwa belum waktunya aku dipertemukan dengan jodohku. Haruskah aku menangis meronta-ronta?

Advertisement

Buat kalian yang suka bertanya soal jodohku yang belum tiba, kukatakan pada kalian, buatku menikah bukanlah perlombaan. Berlomba siapa yang paling cepat menuju kesana. Menikah adalah komitmen seumur hidup. Jadi tidak seharusnya aku risau dengan omongan orang diluar sana. Jika pun aku menikah cepat apakah ada jaminan kalau kehidupanku akan bahagia kelak? Tentu saja jawabannya adalah TIDAK. Aku yang akan menjalani kehidupan pernikahan ini seumur hidup. Jika kemudian aku menjadi selektif, kurasa sudah seharusnya. Menikah adalah suatu pilihan, bukan keharusan. Pilihan, aku bebas memilih orang yang paling tepat menjadi imamku, orang yang kuyakin terbaik untukku. Bukanlah suatu keharusan, dalam arti harus cepat dan harus terburu-buru.

Teruntuk yang tersayang dan perduli padaku dan juga nasib jodohku yang entah masih ada dimana, kujelaskan pada kalian…dibandingkan membabi buta mencoba mencari jodoh, aku lebih memilih menikmati hidup ini. Mengisi hari demi harinya dengan hal berarti. Kupercaya bahagia kita bukan hanya terletak adanya pasangan atau tidak, namun dari teman dan keluarga pun kita sangat-sangat bisa berbahagia. Percayalah, lebih baik menunggu orang yang tepat sekian lama, dibanding terburu-buru dan kemudian menyesal akhirnya.

Untuk kalian yang suka mencapku terlalu pemilih, aku hanyalah seorang wanita dengan harapan dan mimpi. Jika kelak aku menikah nanti, pria itu harus "sangat tinggi" sehingga dia bisa membawaku bersama mencapai jalan menuju surga. Dadanya harus "cukup bidang" untuk menanggung beban keluarga. Bibirnya harus "cukup tegas" dalam memutuskan, namun "sangat lembut" dalam bertutur kata. Kepalanya harus "cukup dingin" untuk memutuskan berbagai masalah. Dan juga, lengannya harus "cukup nyaman" untuk menggendong anak kecil. Karenanya, sambil aku terus berdoa berserah kepada Yang Kuasa, aku disini juga terus belajar dan memperbaiki diri. Kupercantik akhlakku, kupoles karakter dan pengetahuanku, tak lupa kujaga ragaku. Agar jika suatu saat Tuhan mempertemukanku dengan pria itu, entah kapan, atau dengan cara bagaimana, aku telah siap. Dan aku telah cukup pantas untuk bersanding dengannya.

Buat apa menghabiskan waktu untuk berhubungan dengan banyak orang, jika semuanya belum mendatangkan kepastian. Yang kuyakini adalah bahwa pria baik-baik pasti pun mengharapkan jodoh yang baik pula. Karnanya akan kujaga diriku sebaik-baiknya. Untuk dia…entah siapa, namun telah selalu kudoakan tiap harinya, agar Tuhan senantiasa menjaganya, dimanapun dia berada.

Kita tak ada yang pernah mengetahui rahasia dari jodoh yang telah digariskan Tuhan. Bisa kapan dan dimana saja, dengan seseorang yang tak pernah kita duga. Tuhan telah merancang kisah cinta yang indah buat kita semua. Jalinan ceritanya tak pernah sama. Buatku, kisahku adalah yang terindah. Dan buat kamu disana…yang masih sendiri. Bersabarlah, kuyakin kau pun akan mengalaminya, kisah cinta terindah yang pernah kau dengar sepanjang masa. Ya, kisah cintamu dengan dia. Seseorang yang Tuhan kirim untukmu. Buah manis penantian kesabaranmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya