19 September 2017 – Tahun pertama, Stasiun Tugu Jogja –

Sejak tadi pagi, langit tidak menampakkan mendungnya. Mungkin cuaca sedang ceria, berkebalikan dengan hatiku yang sudah kelabu dan mataku yang sudah mulai hujan sejak semalam.

Advertisement

Pukul 18.10, waktu yang kau beritahukan kepadaku sebagai informasi keberangkatan keretamu. Aku menarik nafas panjang. Seandainya aku bisa menyamar sebagai apa pun agar bisa menemanimu di sana. Atau mungkin menjadi udara, agar aku bisa menjadi sesuatu yang membuatmu harus memilikiku.

Pukul 12.00, aku masuk ke distro tempat di mana kamu meminta tolong membelikan topi. Aku tersenyum samar melihat deretan kaos di sana, berharap masih ada jejak senyum dan pertanyaan renyahmu, “Ini bagus nggak buat aku?“ Sungguh, baru kemarin aku di sana bersamamu dan hari ini, selang kurang dari 24 jam, aku harus melepasmu.

Pukul 16.00, aku mulai mengendarai motorku ke Stasiun Tugu, kamu sudah menunggu di sana. Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya setiap melewati ruas jalan yang pernah kita lewati bersama. Bagaimana jika mereka juga rindu? Bagaimana jika nanti mereka seenaknya datang ke fikiranku lalu berkata kalau mereka juga rindu melihat kamu bercerita sambil mengendarai motorku dengan aku yang duduk di belakangnya?

Advertisement

Pukul 16.30, aku sampai di Stasiun Tugu. Dan kamu sudah di sana, dengan sepatu, celana, kaos, dan jaket yang kita beli bersama. Ah, baru kapan kamu tanya apa warnanya cocok atau tidak, tapi kamu terlihat gagah, kamu terlihat tegar, sedangkan mataku sudah hujan sejak awal. Aku tersenyum menyapamu, mengabarkan bahwa aku sudah sampai dan aku akan baik-baik saja. Namun, sungguh bahkan hanya melihat matamu langsung pun aku sudah tak brani. Kamu telihat kuat, apa kamu tidak akan merindukanku? apa kamu tidak akan rindu marah padaku? tidak rindu menikmati lampu Jogja di samping sungai itu?

Pukul 17.00, hatiku semakin hancur melihatmu mulai menarik koper. Aku ingat betul saat kamu menatap mataku dan menggenggam tangaku, “bismillah ya”, entah kenapa kata-kata itu bagaikan bom waktu. Di fikiranku hanya ada satu kata, “Kamu mau pergi beneran ya? kenpa harus pergi? di sini banyak sekolah kok, kenapa harus jauh?“ tapi aku lalu sadar, itu semua hanya egoku. Pilihanmu adalah jalan untuk masa depan kita yang lebih baik. Aku perlahan melihat punggungmu, melihat terakhir kali tubuhmu, entah kapan lagi aku bisa melakukan hal itu.

Pukul 18.00, aku tau kamu menahan semua rasamu, agar aku tegar, agar aku kuat. Tapi maaf sayang, hatiku sedang tidak bisa diajak bekerjasama untuk berdrama. Keretamu datang dan kamu sudah berangkat. Satu hal yang ku sadari, aku sudah mulai rindu.

Pukul 20.00, aku meringkuk di kamarku, betapa selama perjalanan pulang seakan semua jalan dan tempat yang pernah ada kita memelukku dan menyampaikan salam dan berkata bahwa aku harus kuat. Mereka akan menemaniku menunggumu, aku tidak pernah sendirian menunggumu sayang. Karena pada akhirnya aku tau, pertemuan akan berujung perpisahan. Namun aku yakin, akan ada waktu di mana kamu akan kembali dan tidak pergi lagi. Karena kamu sudah berjanji, hatiku lah yang kau pilih sebagai rumahmu. Tempat di mana kamu akan kembali sejauh apa pun kamu pergi. Karena perginya kamu pun kau janjikan sebagai masa depanku, masa depan kita.


Terima kasih sudah memilihku menjadi rumahmu, aku akan merawatnya, membuatnya nyaman untuk kau tinggali, bukan hanya singgahi. Terima kasih sudah memilih pundakku sebagai sandaran saat lelah. Dan pada akhirnya, kisah ini adalah milik kita.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya