Malam itu aku seperti biasa lembur kantor. Menikmati kerjaan yang sangat menumpuk dan membuat aku menjadi lembur. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 malam dan aku belum juga pulang. Tiba tiba handphone ku berbunyi. Ternyata notifikasi dari WhatsApp ku yang aku tidak kenal siapa dia dengan sapaan

"Hai?"

Advertisement

Lalu aku bingung harus menjawab apa dan perlu tidak aku menjawabnya. Sesampainya di rumah, aku membalas chat dari si misterius itu. Ku balas

"Hai juga, maaf ini siapa?"

Lalu dia membalas, dan kami pun saling berbalas chat setelah itu.

Advertisement

"Boleh kenal? Aku bram (nama samaran)."
"Iyaa, tau darimana yaa nomor aku?"
"Dari temen kamu"
"Temen aku siapa?"
"Eh gak deh, dari tinder"
"Ohh masa? Aku kayanya gak punya temen dari tinder, deh. Udah lama juga gak main tinder"

Sesampainya di situ, aku berpikir sambil mencari tahu siapa sosok misterius itu. Sambil aku cek, akhirnya tidak ada temen tinder dengan nama tersebut. Keesokan pagi nya dia chat aku lagi, lamu kami berdua chattingan setiap hari. Beberapa hari kemudian dia mengajak kita bertemu.

Akhirnya kita bertemu dan dia menjemputku di depan kantorku. Karena sudah malam juga, aku memutuskan untuk pulang saja dan ternyata dia mau mampir. Padahal dalam hatiku gak enak, kita berdua kan baru saja kenal. Namun toh akhirnya dia tetap mampir dan mengobrol dengan ibuku. Sementara ibuku memang cukup overprotektif soal kedekatanku dengan laki-laki karena aku yang terbiasa sendiri.

Setelah pertemuan itu terjadi, aku pikir dia gak akan melanjutkan obrolan di chat. Namun ternyata dugaanku salah, karena justru berlanjut dan dia meminta untuk kembali bertemu. Tanpa pikir panjang, yasudah aku terima saja. Setelah pertemuan ke dua tersebut, besoknya dia membicarakan soal hubungan kita berdua. Ya memang baru dua minggu lebih kita kenal, jalan bersama, dan kini dia sudah mengajakku membicarakan hal yang serius.

Dia mengajakku menikah. Awalnya aku ragu. Masa iya baru kenal kaya gini?
Aku berusaha untuk berpikir positif.
Esoknya, aku menceritakan hal ini kepada rekan kantorku. Mereka berkata untuk mencoba memberikan tantangan. Setelah sekian lama kita mengobrol lewat chat, aku kemudian mempertanyakan hal itu lagi.

Namun tanpa ku duga, ternyata dia hanya memberikan jawaban yang tidak memuaskan bagiku. Dia sepertinya agak berubah dan apa yang dia katakan kemarin hanya omong kosong belaka. Jujur hal ini membuatku terbawa perasaan. Meski tak dapat dipungkiri bahwa ini juga salahku yang sudah menaruh sedikit perasaan dan juga kepercayaan.

Ketidakjelasan itu pun sampai saat ini kunjung digubrisnya.
Kemudian lambat laun menjadi hal bodoh yang aku percayai hanya dengan kata-kata manis seperti itu.
Aku memang salah mengartikan perasaan ini.
Ya Tuhan, begitu pahitnya perasaan ini.

Setelah sekian lama aku tak merasakan kejadian-kejadian manis yang indah, namun justru berakhir dengan tidak jelas.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya