Aku Persembahkan Rasa Kehilangan Menjadi Kado Terakhirku Untukmu. Selamat Ulang Tahun, Mas!

Aku adalah seorang yang dulu pernah kamu hancurkan dengan sangat tega. Aku yang dulu selalu ada di sisimu, tapi selalu kamu abaikan dan tiadakan. Waktu, perhatian, pengorbanan, dan semua yang aku berikan tulus untukmu tak pernah berarti. Bagimu aku hanyalah perempuan yang tak bisa apa-apa dan tak bisa diandalkan. Katamu, aku hanya perempuan yang tidak berguna yang tidak pandai memperlakukan seorang laki-laki.

Advertisement

Hingga akhirnya kamu memilih pergi bersama perempuan lain yang baru saja kau kenal. Kamu pergi begitu saja tanpa ada kata pamit yang terucap. Di saat itulah aku benar-benar patah. Aku hancur. Tak ada yang bisa aku perbuat selain terus-terusan menyalahkan diri sendiri. Seandainya aku bisa memenuhi inginmu pasti kau tak mencari yang lain. Jika diibaratkan, saat itu hatiku adalah rumah yang ditinggalkan oleh penghuninya. Gelap, sepi, berantakan. Hari-hari kuisi dengan menangisi dan menyesali kepergianmu itu.

Waktu terus berjalan dan hari berganti. Aku terbangun dari duka hingga akhirnya tersadar. Kepergianmu bukanlah salahku. Saat bersama aku selalu memperlakukanmu dengan baik. Aku menghormatimu. Ketika semua itu menurutmu kurang, salahnya bukan di aku. Namun, kamu yang tak tahu caranya menghargai. Kamu yang selalu meniadakan aku.

Lalu, pelan-pelan aku merapikan semuanya. Pecahan-pecahan kaca itu aku kumpulkan dan aku letakkan di sudut ruangan agar tak kembali melukai. Aku mengobati lukaku sendiri dan perlahan menerima kenyataan bahwa kita telah selesai. Aku mengikhlaskan pergimu bersama pilihanmu itu. Aku kembali melanjutkan langkahku dan menyusun kembali rumahku agar menjadi lebih indah.

Advertisement

Aku mulai menikmati dan nyaman dengan diriku sendiri. Aku merasa semuanya terasa jauh lebih indah dibandingkan saat bersamamu dulu. Ternyata, kepergianmu justru membuatku lebih bahagia. Namun sayang, di saat semuanya terasa begitu tentram kamu kembali mengetuk pintu rumahku. Entah apa maksudmu kembali datang. Kau telah benar-benar menyesali dan menyadari kesalahnmu atau hanya sedang luang dan mencari pelampiasan.

Untuk hadirmu kali ini, aku tak akan mempersilakanmu masuk ke dalam rumah. Kamu cukup berdiri di halaman depan, melihatku dari kejauhan. Bukan karena aku belum memaafkanmu atau aku membencimu. Aku sudah memaafkanmu meskipun kamu tak pernah mengucapkan kata maaf itu. Aku juga tidak membencimu. Aku sudah berdamai dengan masa lalu. Hanya saja aku tak ingin rumah yang sudah aku rapikan dengan susah payah kembali hancur olehmu. Bahkan lantainya terinjak oleh telapak kakimu, aku tak rela. Biarlah hanya ada aku di rumah ini.

Biar saja kamu berdiri jauh di sana bersama rasa sesalmu. Aku hadiahkan rasa kehilangan itu untukmu. Kembali kepada yang pernah menyiakan hanya akan menumbuhkan luka baru. Kesempatan kedua dan memperbaiki semuanya tidak berlaku di aku. Bagiku, yang tulus itu tidak akan datang untuk kedua kalinya. Lagipula, bulan ini adalah bulan kelahiranmu. Jadi, anggap saja rasa kehilangan itu adalah kado terakhir dari aku. Selamat tinggal, Mas!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Pemimpi yang sedang belajar mengubah rasa menjadi kata~