Menikmati senja adalah hal yang paling menyenangkan dalam hidupku. Melihat senja bagaikan menikmati lukisan Sang Maha Kuasa. Dengan warna jingga yang mendominasinya dia selalu berhasil membuatku berkata “ Aku Menyukainya” dan membuatku tersenyum simpul karna keindahannya. Jingga dan senja adalah dua hal yang tak tergantikan, tidak ada warna lain yang bisa melengkapi senja selain jingga.

Layaknya sepasang kekasih hanya jinggalah penyempurna senja. Senja akan kehilangan pesonanya saat jingga tak ada. Seperti saat mendung menutupinya, ketika mendung membuat jingga tidak bisa menampakkan warnanya maka senja akan kehilangan keindahannya. Menikmati senja saat jingga tak ada, "HAMBAR" begitulah rasanya.

Advertisement

Aku bingung kenapa aku begitu menyukai senja. Mungkin karna aku dan senja adalah dua hal yang tak jauh berbeda. Senja takkan pernah sempurna tanpa adanya jingga dan begitu pula dengan ku, aku takkan pernah menjadi sempurna tanpa adanya kau yang menemaniku.

Dulu kau sering sekali mengajakku menikmati senja, sehingga banyak sekali kenangan yang tercipta di tengah menjelang senja. Masih aku ingat dengan jelas bagaimana suasana saat pertama kali kita melihat senja. Saat kita duduk berdua di tepi sungai di pinggiran kota. Kita duduk di salah satu batu besar dan kemudian mengukirkan nama kita berdua disana, lalu menjadikannya sebuah prasasti tanda cinta kita.

Dulu kau pernah bilang padaku. Bahwa keindahan senja mampu menenangkan hatimu. Kau juga mengatakan selain pemandangannya yang indah, akan selalu ada perasaan yang tidak biasa jika kita mau lebih mendalami tentang senja. Senja selalu bisa memberikan perasaan tenang setiap kali kau melihatnya. Seolah-olah warna jingga pada matahari senja adalah simbol dari kenyamanan, keamanan, dan kehangatan. Dan karna itulah kau menyukainya. Dan yang paling penting bagimu, matahari senja itu selalu meneduhkan, terik panasnya menghangatkan bukan menyakiti.

Advertisement

Dan layaknya matahari senja yang meneduhkan. Kau ingin menjadi matahari untukku yang menyinari tanpa pernah ingin menyilaukan, meredupkan tanpa pernah menggelapkan. Menghangatkan tanpa pernah membuatku kepanasan, dan mendinginkan tanpa pernah membuatku kedinginan. Kau ingin aku menjadi senja yang selalu tenang, menjadi senja tempatmu kembali pulang dan terbenam. Bahkan kau berjanji akan selalu berusaha menjadi jinggaku yang menghangatkan. Suatu hari nanti saat aku mulai lelah dan gundah kau memintaku melihat senja. Maka kau akan hadir dalam keheningan senja.

Hari itu menjadi senjaku yang pertama, dan aku kira sejak saat itulah aku juga mulai menyukai senja dan juga mataharinya. Dia yang akan selalu menjadi matahari baruku, matahari senjaku yang akan terus bersinar meneduhkan walau hanya sesaat kehadirannya. Bagiku dia adalah jingga sang pewarna hidupku.

Seperti apa yang pernah kau ungkapkan padaku, aku juga ingin kita seperti jingga dan senja yang saling menyempurnakan satu sama lain. Setiap malam aku selalu berdoa semoga Tuhan mengijinkan kita selalu bersama sampai akhir usia hingga maut memisahkan kita. Banyak sekali harapan yang ingin aku wujudkan bersamamu. Tapi apalah dayaku saat harapan tak selalu sejalan dengan kenyataan, ketika Tuhan memilih jalan cerita lain untuk kisah yang kita jalani sekarang.

Wajah itu, mimik wajah penuh penyesalan yang kau perlihatkan hari itu. Benarkah kau menyesal? Seandainya kau sungguh-sungguh menyesal, kau tidak akan mungkin meninggalkan aku tanpa alasan. Ya, tanpa sebab yang jelas kau meminta mengakhiri semua yang telah kita mulai.

Banyak hal di dunia ini yang kadang tidak bisa di mengerti. Kadang kita bisa merasa seolah-olah kita mengetahui semuanya padahal nyatanya kita tidak benar-benar tau dengan apa yang kita ketahui. Dan ku kira aku sudah benar-benar mengetahui bagaimana perasaanmu padaku.

Tapi ternyata aku salah, apa yang aku pahami, apa yang aku yakini semua hanya ilusi yang diciptakan oleh kepalaku sendiri. Perasaan yang aku anggap sama nyatanya kau tak pernah memilikinya. Atau mungkin dulu kau memang memilikinya tapi kini rasa itu tak lagi sama? Benar, sesuatu bisa saja berubah termasuk juga perasaanmu.

Jika bagimu senja adalah lambang pertemuan, bagiku senja lebih mirip salam perpisahan. Senja tidak lebih hanya salam perpisahan dari siang menyambut malam. Dan pada akhirnya senja hanya akan semakin menjauh dari pandangan, menyisakan gelap bersama dinginnya angin malam.

Tapi perpisahan kita tidak lantas membuatku membencimu apalagi membenci senja. Justru sebaliknya aku semakin mencintai senja dan juga matahari jingganya. Dan sampai detik ini aku masih menyapamu melalui senja. Menikmati setiap detik-detik kepergian senja sebagaimana kita dulu melakukannya. Dan sekarangpun langkah kaki ini masih membawaku kembali ke tempat ini. Membuatku terpaku dan merindui kenangan masa lalu.

Sesaat mataku tergerak untuk mengamati sebuah tulisan. Ternyata ukiran nama itu tak hilang walau sudah 3 tahun berlalu. Ku raba ukiran nama itu, dan masih kurasakan perasaan yang sama saat kau menggoreskan huruf demi hurufnya di batu itu. Inilah prasasti cinta kita, DULU.

Semoga kini kau bahagia dengan pilihanmu yang baru. Aku sama sekali tidak ingin merusak ataupun mengganggu. Mulai detik ini sudah kuputuskan bahwa aku hanya akan mengenangmu, akan ku jalani hidupku, dan semoga akan kutemukan juga penggantimu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya