Bermandikan cahaya rembulan, kau nampak begitu memesona. Rona pipimu tak berpendar. Senyumanmu nampak menawan. Aku jatuh cinta kepadamu kali pertama bertemu. Rambut kepang yang tersusun rapi. Dirimu tanpa cacat, nyaris sempurna. Kesederhanaanmu membuatku semakin menggilaimu. Aku beruntung memiliki wanita sepertimu.

Lalu kau pergi meninggalkan desa untuk mengadu nasibmu di ibukota. Akibat kerinduanku yang begitu membelenggu, aku putuskan menyusul dirimu. Aku melihatmu di sebrang jalan sana. Itu dirimu dengan gaun menerawang dan tertawa-ria bersama beberapa pria. Aku menjadi tidak begitu yakin, namun aku beranikan diri untuk menyapamu.

Benar saja. Itu dirimu. Dirimu yang sudah berbeda atau hanya perasaanku saja. Gaya bicara, penampilan, bahkan kesederhanaan yang kamu punya telah terganti. Ibukota sehebat itukah hingga bisa mengubah dirimu? Ataukah memang dirimu saja yang mengikuti arus jaman di kota metropolitan?

“Kamu berubah Lies,” aku masih tidak percaya bahwa perempuan yang tepat berada di depanku adalah seorang wanita yang ku puja di desa.

Lies tersenyum seraya berkata “Aku masih Lies yang kamu kenal dulu. Tak ada yang berubah. Aku masih mencintaimu Mas,”

Advertisement

Aku hanya menggeleng dan meninggalkan Lies serta bergegas meninggalkan ibukota. Lies, parasmu memang masih sama. Tetapi aku tahu bahwa kamu bukan Lies yang aku kenal dulu. Tak usah membohongiku bahwa kau masih mencintaiku. Bagaimana bisa kau bisa bicara demikian sedangkan dirimu membiarkan tanganmu, pundakmu, dan wajahmu disentuh oleh laki-laki lain. Aku tak mengenalimu lagi, siapakah kamu sekarang?

Biarlah aku membiarkanmu dengan dunia barumu disana. Mungkin saja kamu dengan begitu kamu akan lebih bahagia. Aku dari kejauhan hanya dapat mendoakan saja bahwa aku seorang laki-laki yang dengan sungguh-sungguh mencintaimu tidak berani menyentuhmu sebelum aku menghalalkanmu. Sedangkan mereka? Aku tidak cemburu. Untuk apa aku cemburu? Toh, dirimu saja tak risih apalagi marah terhadap marah bahkan kau tertawa dengan riang bersama mereka.

Lies, aku menunggumu. Bukan karena aku kagum akan perubahanmu, tetapi aku menunggu kau kembali sebagai perempuanku yang dulu, seorang perempuan lugu yang mampu membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama kepadamu.