Ini adalah kelanjutan dari kisah sebelumnya

Sepanjang jalan kembali ke desa, aku masih memikirkan Lies. Rambutmu yang hitam legam telah berwarna coklat. Wajahnmu yang polos telah dibubuhi make up nan tebal. Gincu pun ikut serta menutup bibirmu yang tipis. Di dalam bus antar kota antar provinsi, aku terbayang wajahmu, wajahmu yang dulu yang tak di poles apapun.

Dulu kita bertemu di pematang sawah, peluh membasahami tubuhmu. Kamu menanam bibit tanaman di hamparan tanah yang luas. Aku memahamimu, mungkin kamu lelah jika kamu terus bertani untuk memenuhi kebutuhanmu dan keluargamu, Lies. Mungkin ini caramu untuk merubah nasibmu.

Setibanya aku di desa, wajahmu semakin mengganggu.

“Nak, kamu sudah bertemu Lies? Bagaimana kabarnya? Apa pekerjaannya?” ibunya Lies memburuku dengan pertanyaan-pertanyaan. “Kenapa kamu malah pulang ke desa lagi? Katamu, kamu mau menjaga Lies? Apa kamu tersesat? Sudah Ibu bilang Jakarta itu kota besar, kamu tidak bisa menemukannya,” Ibu Lies terdiam dan memandangiku yang tetap tak menjawab sama sekali.

Advertisement

Apa yang harus aku katakan kepadanya? Apa aku harus jujur? Atau aku harus berbohong? Jika berbohong apa aku bilang aku tak bertemu dengan Lies? Atau aku katakan aku bertemu dengannya, dia bekerja di restoran saja? Restoran? Itu adalah bar bukan restoran. Ah, Ibu Lies tidak akan tahu juga perbedaan bar dan restoran. Toh, sama-sama menyediakan makanan dan minuman. “Aku lelah, Bu. Aku pulang dulu,” aku pamit untuk menghindari kecurigaan Ibunya Lies.

Aku masuk ke dalam rumah yang sepi, tidak ada anggota keluargaku. Orangtuaku berbisnis di luar kota dan kedua adikku ikut bersama orangtuaku karena masih kecil. Aku tinggal sendiri. Sejak aku bertemu Lies, aku enggan meninggalkan desa ini. Sebelumnya aku berpindah dari satu kota ke kota lain, satu desa ke desa lain. Namun Lies telah membuatku jatuh hati, aku segan berpindah hati. Entahlah, setalah kejadian hari ini mungkin aku akan pindah.

Ibunya Lies datang ke rumahku. Mengantarkan sepucuk surat dari Lies.

Teruntuk kekasihku,

Apakabarmu? Bagaimana bisa kau meninggalkan aku begitu saja tanpa pamit terlebih dahulu? Aku begitu merindukanmu. Aku belum bisa pulang ke desa karena bos ku belum memberikanku cuti. Secepatnya aku akan pulang. Aku merindukanmu.

Tolong jangan katakan pada Ibuku pekerjaanku sebenarnya! Aku tak ingin membuat Ibuku khawatir, terlebih lagi pemikiran Ibuku masih kolot. Nanti dia memikirkan hal yang bukan-bukan.

Jaga dirimu baik-baik.

Kekasihmu, Lies

Membaca surat dari Lies bukan mengobati kerinduanku malah memunculkan pertanyaan. Lies menuliskan Ibunya kolot? Tentu saja siapapun yang akan berpikir perempuan yang bekerja di bar bukan perempuan baik-baik. Dirimu saja rela tubuhmu di jamah pria lain. Ibukota menganggap hal itu bisa saj wajar, tetapi ibumu melihat itu, oh aku tidak membayangkan apa yang akan terjadi.

“Apa isi suratnya? Apa dia memintamu datang kesana?” Ibu Lies bertanya.

Aku tersenyum. “Lies tanya kabarku juga katanya dia merindukan aku, Bu,” aku tidak baik karena aku tak sangka kau meninggalkan desa hanya untuk mengubah status pekerjaanmu dari petani menjadi pekerja bar, bisikku dalam hati.

“Nak, Ibu tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Ibu tahu, tetapi maafkanlah Lies. Orang tua ini adalah seorang Ibu juga. Ibu sudah menganggapmu sebagai anak sendiri karena itu Ibu memiliki firasat seperti ini,” Ibunya Lies mengelus kepalaku.

Aku tahu jika engkau tahu, Bu. Tetap saja aku tak bisa mengatakan apa-apa, apalagi kebenaran. Lies, cepatlah pulang sebelum ibukota memakanmu lebih lama lagi. Aku tak tega melihat Ibumu seperti ini. Aku pun tak bisa berterus terang. Lelaki ini terlalu ciut untuk mengungkapkan apa yang aku lihat di ibukota sana. Kembalilah, Lies.