Aku tak sanggup menceritakan kisahmu sepanjang kasihmu.

Aku tidak pernah tahu, akan dikandung dari rahim siapa. Aku tidak memilih oleh siapa akan dilahirkan, dibesarkan dan dididik penuh kasih. Sejak jeritan tangis pertama di dunia aku disambut bahagia. Kelopak mata pertama kalinya melihat engkau wanita yang dipilih oleh Tuhan. Aku tak ingat persis bagaimana engkau mengajariku berjalan dan berbicara. Banyak hal yang tak aku ingat bagaimana engkau mendampingiku sampai aku usia lima tahun. Aku selalu tahu engkau jadi malaikat pelindungku.

Advertisement

Saat umur enam tahun, masuk TK aku salah satu murid yang tak diantar oleh orang tuanya karena jaraknya tidak terlalu jauh. Aku sendiri berangkat ke sekolah, bukan kau tak mau mengantarku tapi kau mengajariku mandiri. Engkau tak pernah memaksaku belajar tapi engkau memberitahu tidakenaknya menjadi bodoh.

Saat masuk sekolah menengah pertama, engkau masih membuatkanku susu, dan suatu pagi aku tidak meminumnya, engkau susul aku sampai depan gang hanya untuk memberikan segelas susu.

Setelah beranjak remaja, engkau selalu bercerita tentang getirnya kehidupan rumah tanggamu, mempertahankan keutuhan rumah tangga demi kebahagiaan anak. Engkau kuat dan bertahan selayaknya tak pernah terjadi apa-apa, padahal saat itu aku baru tahu engkau menderita dan tersakiti. Keluarga layaknya telur diujung tanduk. Namun, tak pernah sekalipun engkau mengeluh, menyesal telah memilih pilihan salah. Merelakan kebahagianmu, agar anak memiliki orang tua yang utuh, meskipun sudah beberapa kali kau menyerah dalam hubunganmu tapi kau selalu melihat masa depan anak.

Advertisement

Peristiwa terlupakan begitu banyak salah satunya lagi tahun lalu, saat aku sakit di perantauan, engkau datang menerjang jarak puluhan kilometer tanpa banyak pertimbangan. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit engkau tak berhentinya berdoa, mengusap wajah dan rambutku, mengelap keringatku, memeluk erat. Tak sedetikpun engkau beranjak dari sisiku. Engkau rela mengorbankan waktu istirahatmu, waktu kerjamu hanya untuk menemaniku.

Sampai suatu pagi di hari yang paling bahagia dalam hidupku, setelah seorang lelaki meminangku, engkau memelukku sangat erat. Aku merasakan pelukan paling hangat, keharuan yang luar biasa dahsyat. Ternyata itu pelukan terakhirku untukmu. Engkau kembali kepadaNya. Jerit tangis tak bisa dibendung lagi, aku tak rela engkau pergi meninggalkanku. Akhirnya aku pasrah, inshAllah ikhlas.

Aku tak sanggup menceritakan kisahmu sepanjang kasihmu, karena itu tak mungkin terlukis oleh kata. Sebenarnya dari awal kata aku menulis sampai kalimat ini tertulis, airmataku tak terbendung lagi, tisu berserakan, mengingatmu dan sangat merindukanmu. Aku tak bisa memelukmu lagi, kecuali dalam mimpi.

Aku siap menghadapi dunia, aku siap menjadi setangguh engkau, Engkau yang selalu kusebut namanya dalam setiap doaku. Karena engkau Ibuku, begitu aku sangat menyayangimu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya