Hai, kamu. Sebelumnya, maafkan aku yang lancang untuk masuk dalam hidupmu dulu. Maafkan aku yang kini kembali mengusik hidupmu. Namun, siapa yang bisa menyalahkan perihal pemberian-Nya? Bolehkah aku bertanya mengenai hal-hal yang mungkin sudah terlupa?

Pertama, aku ingin mengetahui perihal dirimu. Bagaimana kabarmu? Aku memaksa diriku untuk terlihat baik selepas kepergianmu. Apakah kamu melakukan hal yang sama? Setidaknya dengan pergi membuatmu nampak lebih bahagia dari sebelumnya ketika bersamaku. Tak mengapa, bagaimana pun keadaanya, aku selalu berdoa yang terbaik untukmu.

Advertisement


Hai, kamu. Tahukah? Di awal hubungan kita aku merasa begitu bahagia. Merasakan bagaimana rasanya mencinta dan dicinta. Aku menikmati setiap tawa kita. Belajar banyak perihal permasalahan yang ada dan kita saling berjanji untuk selalu menjaga.


Terkadang, ada kalanya aku mulai menerka-nerka. Apakah saat denganku dulu kamu merasa bahagia? Ataukah dirimu merasa terpaksa untuk mengaku cinta? Lihat rintik hujan yang turun di sana. Sedangkan di sisi lain aku masih saja melamun tentang kenangan yang mulai tak sempurna. Di saat yang sama, hujan turun di sudut mataku. Aku memaksa untuk tersenyum, mengingat kembali jika aku dulu pernah bahagia, bersamamu orang yang membuatku jatuh dan cinta. Ku ulang lagi bagaimana temu pertama kita yang sederhana. Perihal senyum tipismu yang menyita perhatianku.

Tentang kesalahtingkahanku, degup jantung yang tiada menentu, semu merah di pipiku, dan lidah yang mendadak kelu ketika berpapasan denganmu. Juga mengenai rindu yang menggebu ketika tak kulihat hadirmu.

Advertisement

Bagaimana denganmu? Apakah kau masih mengingat semuanya? Tentang caramu mencari tahu tentang namaku. Perihal kalimat pertama yang kamu ucapkan ketika mengajakku berbicara. Mengenai perasaanmu yang tanpa kau sadari adalah rasa sama. Apakah kamu tahu tentang bahagiaku, ketakutanku, kemanjaanku, dan tentang apa-apa yang membuatku mendadak murung? Jawabannya adalah satu, dirimu. Mungkin dulu kamu tak menyadarinya. Atau mungkin kamu sadar dan hanya pura-pura tidak tahu.

Dulu aku selalu menanti kabar tentangmu, tapi di sisi lain aku tak ingin menganggumu. Pahitnya, kau sengaja melupakan perihal diriku. Sesibuk itukah kamu dengan urusan hidupmu? Hingga kau acuhkan aku sebagai penggenap harimu. Kini semua nampak berbeda. Waktu berlalu, kau pergi, menanggalkan hati, dan meninggalkan luka. Kau memilih bahagia dengan yang lainnya. Di sisi lain, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa aku melupakanmu begitu saja.

Semenjak saat itu, hanya kata "mengapa" yang terlampau sering kau tanyakan. Kata "maaf" tak lagi terhitung banyaknya. Sedangkan, di lain pihak aku berusaha tegar dengan kata "tak mengapa." Aku selalu berpura-pura kuat dengan perlakuanmu itu. Sesering mungkin aku memasang wajah bahagia, terlihat baik-baik saja, sedangkan di belakang sana aku memupuk kecewa. Hanya karena aku tak ingin kehilanganmu, aku mengorbankan seluruh perasaanku. Seakan aku hampir saja kehilangan warasku.

Kata orang di luar sana memang benar. Rasa sabar itu ada batasannya. Pun dengan diriku kala itu. Kesabaranku habis dengan sikapmu yang begitu sekenanya terhadapku. Terima kasih telah menyia-nyiakan perasaanku. Menyadarkanku bahwa sejak awal seharusnya aku melepasmu. Aku paham, semenjak tahu rasamu telah pudar untukku, mempertahankanmu adalah kesalahanku.


Untuk urusan menyesal, aku tidak pernah menyesal pernah menitipkan hatiku padamu. Setidaknya, aku darimu bisa belajar untuk menghargai orang yang menunggu. Belajar bahwa memperhatikan diri sendiri adalah hal yang perlu. Terima kasih untuk segala luka, aku belajar darinya untuk tetap tegar setelahnya.


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya