Aku yang Masih Menjadi Penonton Keromantisan Mereka

Curahan hati dariku yang hanya menjadi penonton

Duduk sendiri di salah satu sudut ruang berteman gawai. Menatap sekitar yang dipenuhi oleh kegiatan orang-orang berlalu lalang. Ada yang bersama keluarga, ada yang dengan sahabat karib, ada yang sepertimu, hanya sendirian, dan ada yang bersama kekasih.

Advertisement

Terkadang mata tiba-tiba memusat pada beberapa orang yang sedang menghabiskan waktu bersama lawan jenis yang dikasihinya. Memusat tidak tanpa alasan, melainkan terlintas gerak-gerik romantis satu sama lain yang mereka lakukan di seberang pandaganmu. Rasa iri meronta keluar dari persembunyian yang berujung kesal, lalu muncul uwu phobia, sebuah istilah yang diciptakan oleh muda-mudi kreatif abad 20-an masa kini.


“Kapan ya bisa ngrasain ke uwu an kayak mereka?”

“Dosa apa aku ya Tuhan sampek diumur segini belum ngrasain ke uwu an”


Dan lain sebagainya, kata-kata yang teruntai menjadi kalimat sejenis yang mungkin mencuat keluar ketika melihat keromantisan orang lain bersama pasangannya. Bahkan tidak hanya menatap langsung di dunia nyata atau real life, banyak konten dengan kadar romantis tinggi bertebaran di sosial media dan terkadang tidak sadar makin membuat kita merasa insecure bahkan berujung overthinking.

Hidup sudah penuh dengan ke-overthinking-an karena kegiatan sehari-hari seperti sekolah, kuliah, dan bekerja, eh ketika ingin menghibur diri dengan berselancar menggunakan gawai dan sosial media, malah berunjung pada pemaksaan mata yang melihat dan bibir yang membaca konten-konten uwu yang bertebaran tak kenal waktu. Bahkan tidak jarang muncul pemikiran, “Kenapa kisah cinta orang-orang mulus kayak jalan tol?”, ketika berpapasan dengan segala hal itu dan kemudian berkaca pada diri, mengingat masa lalu yang mungkin pernah menghiasi tapi berjalan terjal seperti berada pada jalan makadam.

Parahnya lagi ketika pemikiran yang mengandung kadar insecure tinggi mulai meracuni, kemudian bisa muncul pertanyaan konyol, “Apa karna aku kentang ya? Jadi nggak bisa ngerasain ke uwu an”. Kentang bukan artian sebenarnya, bukan berarti jenis tumbuhan yang biasanya menjadi pelengkap sayur sup. Kentang, sebuah istilah yang, ya sekali lagi, dibuat oleh anak milenial jaman now dimana artinya adalah penampilan wajah biasa saja dan cenderung jelek serta tidak menarik.

Mungkin terkesan sepele dan bahkan banyak yang menganggap kata-kata itu terlontar hanya untuk bahan candaan pribadi, tidak apa jika seperti itu kenyataannya. Tapi jika kata-kata berbobot uwu phobia yang terlontar memang benar-benar membuatmu menjadi pecandu overthinking, benar-benar membuatmu menjadi pemakai insecure, ketahuilah satu hal, Tuhan menciptakan kamu, aku, kita, baik adanya dan indah adanya. Saat ini waktumu berada di sisi penonton, tapi tenang saja, aku percaya Tuhan menyiapkan skenario ketika kamu bisa mengalami seperti dia dan mereka, yang sedang kau tonton keromantisannya saat ini.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE