Kata orang perempuan dengan usia 25 tahun sudah seharusnya menikah, berumah tangga dan memiliki anak. Lebih dari usia itu, orang tua dan masyarakat sekitar sudah mewanti-wanti dan khawatir. Lalu, apa dayaku yang sudah 26 tahun dan masih sendiri? Terlebih, aku sekarang bekerja di luar negeri, membuatku semakin terbebas dan ingin menikmati hidup sebagai wanita single lebih lama. Luar negeri membuka mataku bahwa masih banyak yang belum kulalui.

Dulu, sempat terjadi pertunangan dan kami berencana untuk menikah. Bahkan, tanggal pernikahan kami pun tepat pada usiaku yg ke 25 dan dulu waktu aku masih menjadi mahasiswa, memang berkeinginan untuk menikah di usia 25 tahun. Semua terasa tepat dan sesuai dengan impianku.

Advertisement

Lalu, tak lama setelah bertunangan, aku mencoba peruntunganku dengan merantau ke negeri orang, mencoba untuk membantu calon suamiku mengumpulkan pundi-pundi uang untuk membiayai pesta pernikahan kami.

Tapi, mungkin Tuhan berkehendak lain. Kata orang, semakin dekat dengan pernikahan, semakin banyak masalah dan ujian yang datang. Di saat kami terpisah jarak dan waktu, di situlah kami diuji.

Aku semakin takut dan khawatir. Awalnya aku kira, ketakutanku adalah hal yang normal sebagai calon pengantin. Tetapi tidak. Ketakutanku semakin menjadi. Trauma yang kualami akibat perceraian orang tuaku dan gagalnya kembali pernikahan kedua mamaku, membuatku semakin kalut dalam ketakutanku.

Advertisement

Lalu semua berakhir.

Sudah hampir 1 tahun kami mengakhiri semua, sudah semakin banyak temanku yang menikah tapi masih belum jelas kapan aku akan mengakhiri kesendirian ini. Rasa takut ini masih ada.

Sempat terlintas di pikiranku, sempat pula ku ungkapkan kepada mamaku bahwa mungkin ini yang terbaik. Hidup sendiri, melanglang buana, menjelajahi dunia sendiri tanpa pendamping hidup, toh aku juga tidak merasa kesepian, mungkin karena aku juga seorang introvert. Kesendirian tidak menjadi masalah besar buatku.

Tetapi aku tahu ide itu sangatlah egois. Sebagai anak tunggal, mama memiliki harapan besar padaku. Aku tahu ia sudah sangat ingin melihatku berjalan di altar, menimang cucunya dan bahagia bersama pendampingku. Dengan tiadanya aku di Indonesia, mama sering merasa sepi dirumah sehingga mama memiliki banyak hewan peliharaan untuk mengusir sepi. Kadang aku suka bercanda dengannya, "Kan mama sudah punya banyak anak anjing, tidak perlu lagi kan aku memberi cucu? hehe"

Aku tidak tahu sampai kapan merasa nyaman dengan kesendirian ini.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya