Usia dini memang tidak menjadi suatu alasan untuk membatasi anak-anak dalam belajar dan menemukan hal-hal baru di luar rumah. Itulah sebabnya mengapa banyak sekali orang tua yang menyekolahkan anaknya sebelum memasuki sekolah dasar, bahkan di era sekarang ini anak-anak yang masih berumur di bawah satu tahun saja sudah diperkenalkan cara bersosialisasi dan bermain dengan teman sebayanya.

Pendidikan karakter sangat penting dan itu diajarkan sejak anak usia dini. Dengan memasukkan anak ke dalam sekolah bermain bagi usia dini, diharapkan anak dapat mempunyai kegiatan rutinitas sehari-hari yang dapat membantunya melatih ketangkasan pola pikirnya dari apa yang dialaminya. Berbicara tentang apa yang dialami di masa anak-anak pasti semua orang mempunyai pengalaman pribadi yang menarik dan terkesan lucu jika mengingatnya kembali.

Advertisement

Jika pola pikir anak-anak yang memang cenderung bermain, maka sering sekali pihak sekolah mengadakan rekreasi ke tempat-tempat wisata guna mengajak anak bermain sekaligus mengenal alam sekitar. Saat itu aku masih TK dan sudah di kelas Nol Besar. Ada dua kelas di dalamnya, Nol kecil untuk pemula dan ketika kenaikan kelas barulah naik ke kelas Nol Besar yang kemudian dilanjutkan ke SD.

Aku selalu ditemani oleh ayahku dan jika ditemani ibu aku tidak suka, selalu melarang jika aku meminta dibelikan sesuatu. Berbeda dengan ayah yang selalu membelikanku yang aku minta ketika berwisata. Tempat tujuan wisata saat itu adalah berlibur ke Kota Malang. Sesampai disana, aku melihat banyak pepohonan dan terhampar hijau daun menyejukkan udara. Dingin menusuk hingga ke tulang, tapi aku menyukai udara yang bersih itu.

Kata ayahku, saat itu bus melaju menaiki gunung. Aku tidak percaya, mana gunungnya yang aku lihat hanya tumbuh-tumbuhan hijau yang tumbuh di lahan miring. Aku bingung, ada dimana sebenarnya gunung itu dan jika aku menaiki gunung mengapa aku tidak melihat gunung. Aku mulai berpikir, selama itu aku hanya melihat gunung dari gambar kartun yang berbentuk segitiga kembar berjumlah dua. Aku mulai berpikir jika gunung berbentuk segitiga maka akan ada tanjakan naik ke atas dan sepertinya yang sedang bus naiki adalah gunung.

Advertisement

Tapi aku masih ragu dengan hasil analisaku saat itu karena gambar yang sering aku lihat adalah sebuah gunung kembar yang berwarna biru. Jika gunung berwarna biru hanya ada dua kesimpulanku, pertama itu bisa jadi bagian dari langit, kedua bisa jadi itu batas dari laut. Tetapi jika itu batas laut sehingga warnanya biru mengapa lautnya tidak tumpah ke bawah sedangkan yang aku tahu air selalu mengalir ke bawah kecuali jika ada yang membendungnya dan menahannya.

Aku semakin bingung jadinya, yang aku lihat tumbuh-tumbuhan hijau bukan sesuatu yang menunjukkan warna biru. Tapi mengapa ayah berkata saat itu bus yang kami tumpangi sedang menaiki gunung. Lalu dimana warna biru yang biasa aku lihat ketika ibu guru menyuruhku menggambar gunung kemudian diberi warna biru. Bukankah seharusnya hijau karena dipenuhi dengan tumbuhan yang terhampar. Ingin aku tanyakan itu kepada ayah, namun aku terlalu pusing memikirkan hal serumit itu.

Sesampai di kolam renang, aku senang sekali melihat kolam yang tampak biru cerah berbentuk persegi panjang. Banyak pengunjung yang berenang atau hanya sekadar menceburkan diri ke dalam kolam. Saat itu aku ingin berendam di dalamnya. Tanpa pikir panjang aku langsung masuk ke kolam yang kedalamannya seukuran perutku. Aku bermain dengan teman-teman sekelasku. Dari kejauhan tiba-tiba ayah memanggilku dan melarangku berenang bersama teman-temanku.

Aku tidak tahu kenapa, ayah hanya menunjuk ke kolam yang satunya bersebelahan dengan kolam khusus anak-anak. Karena aku tidak bisa menentang ayah, aku mencoba masuk ke kolam tersebut. Kedalamannya lebih dalam dari kolam sebelumnya, tingginya hingga leherku. Aku takut dan menangis, warna airnya tidak biru tapi hijau gelap. Aku tidak berani tapi ayahku mecoba meyakinkanku dengan ikut masuk ke dalam kolam. Melihat ayah juga tidak apa-apa berenang aku tidak takut lagi.

Aku mulai berendam dan mencoba agak menjauhi tepian kolam. Aku mencoba berjalan di dasar kolam yang terasa licin ditambah lagi dengan kedalaman air yang terlalu tinggi bagi anak-anak seusiaku saat itu. Tiba-tiba badanku kehilangan keseimbangan karena gelombang air yang menerjang ketika aku mencoba berjalan menjauhi tepian. Tubuhku tidak dapat lagi berdiri tegap diterjang gelombang air dan aku merasa kehilangan pijakan. Mengetahui kakiku sudah tidak menyentuh lantai dasar, aku takut. Dari kejauhan aku melihat ayahku duduk di tepi kolam sambil melihatiku. Aku berusaha membuka mataku meski sulit karena di dalam air. Aku kira ayah akan menolongku tapi tidak.

Ayah hanya melihatku dari kejauhan duduk manis tanpa bergerak sedikitpun. Ingin rasanya aku berteriak meminta tolong namun aku tidak bisa menggapai di atas permukaan air. Aku mulai berpikir bagaimana caranya agar aku selamat. Aku mulai mencoba menegakkan tubuh berusaha ke arah horizontal dan jangan sampai vertikal. Aku berpikir jika aku ingin selamat langkah pertama aku harus berdiri, dan untuk berdiri sangat susah mengingat posisiku yang tidak bisa sampai ke permukaan tidak juga ke lantai dasar.

Aku berpikir keras bagaimana cara menyelamatkan diri, jika aku ingin berdiri aku harus menyentuhkan kaki ke lantai dasar. Aku kerahkan seluruh tenaga menendang-nendang kakiku berusaha menyentuh lantai. Saat aku menendang lantai akhirnya aku bisa berdiri dan berjalan menepi. Aku lalu marah dan bertanya mengapa ayah membiarkanku saat tahu aku tenggelam. Ayah berkata bahwa ia pikir aku latihan berenang jadi ia hanya melihatku saja. Kesal mendengar hal itu aku tidak lagi berani masuk ke dalam kolam tersebut.

Melihat hal itu ayahku mengajakku ke kamar mandi umum dan menyuruhku mandi membersihkan tubuh agar terhindar dari kuman selama di dalam air kolam tadi. Ingin aku bertanya mengapa ada kuman di air kolam sedangkan airnya saja tampak bersih. Tapi aku mengurungkan untuk bertanya karena harus cepat-cepat mandi antri dengan yang lain.

Dari pengalaman tersebut aku mendapat pelajaran yang baru aku ketahui. Ternyata gunung yang sebenarnya terlihat hijau dipenuhi tumbuh-tumbuhan dan tanahnya miring seperti tanjakan. Aku juga mendapat pelajaran bahwa jika kita tenggelam hal pertama yang harus kita lakukan adalah menemukan pijakan kaki untuk berdiri. Dan aku mendapat pelajaran berharga, bahwa air kolam yang terlihat bersih belum tentu juga bersih.

Air kolam mengandung obat dan itu tidak baik jika kita tidak langsung mandi dengan air bersih. Aku dapat mengetahuinya saat jam istirahat para petugas besih-bersih menyemprotkan cairan pembersih. Mungkin itu digunakan untuk menjaga kejernihan air aku tidak paham betul. Dan aku juga sering melihat anak-anak kecil buang air kecil sembarangan ketika masih berada di dalam kolam, mungkin itu alasan mengapa ayahku tidak memperbolehkanku berenang di kolam khusus anak-anak yang kedalamannya tidak begitu dalam. Dan beruntung sekali aku sudah mandi keramas sehingga pikirku aku sudah terjauh dari kuman-kuman air kolam.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya