Andai Aku yang Lebih Dulu Bertemu

Pagi itu dengan selembar amplop coklat. Aku sedang berbincang dengan seorang berjas hitam lalu kulihat sosoknya di balik pintu kaca. Aku tak memperhatikannya namun ku tahu ia menatapku

Advertisement

Selesai sudah percakapanku dengan pria berjas hitam dan aku berlalu untuk kembali esok pagi. Ia masih menatapku dalam diam. Ku balas tatapannya dengan senyuman, ia tersipu

Pagi ini matahari muncul lebih awal, pukul 8 terasa pukul 11. Amat panas. Ku tekan tombol pendingin ruangan. Tak satupun kutemui di ruangan ini, tak pria ber jas hitam, tak jua dirinya. Aku berdiam di balik mejaku melepas dahaga dengan segelas air. Tak kusadari ia sudah berada di sampingku duduk di balik mejanya dan kembali menatapku. Aku tersenyum dan ia pun tersenyum. Kami berkenalan dan banyak berbincang meskipun saling menatap layar digital di hadapan kami. Sesekali ia menatapku meski aku tak menatapnya kembali aku tahu ia memperhatikanku.

Senja tiba dan kami bergegas kembali pulang. Ia menawarkan tumpangan, namun aku menolaknya. Ia pun berlalu dengan senyum dan salamnya

Advertisement

Esoknya masih sama. Matanya tak pernah absen menatapku. Kali ini berbalik aku mulai sesekali menatapnya. Senja itu kala semua tumpukan kertas tak jua selesai aku melanjutkannya hingga petang. Ia pamit berlalu dengan salam dan senyumnya. Hatiku mulai bergetar melihat senyumnya saat itu. Jarum pendek di dinding menunjuk ke angka 8 itu artinya aku harus bergegas. Aku melihat sosoknya yg sedang berbincang dgn petugas kebersihan.

Aaahh mungkin itu halu ku karna terlalu sering menatapnya hari ini. Tapi ternyata tidak. Itu benar, ia di situ untuk menungguku. Tampaknya hari ini ia memenangkan lotre ia berhasil mengantarku dan mendapat nomor ponselku. Berdering nada chat ponselku, kulihat rangkaian angka tak ku kenal, ternyata itu dia. Kami berbalas pesan di ponsel bagai remaja.

Advertisement

Kelembutannya membuat ku luluh. Tak pernah ku temui pria selembut dirinya. Namun ternyata aku terlambat. Ada yang lebih dulu membuatmu berlabuh.


Lalu untuk apa kau singgah, sedang aku mulai merasa nyaman?


Kau bilang aku tak perlu khawatir sebab kau dan wanitamu tidak baik-baik saja, begitu banyak percikan terjadi. Lalu aku ini apa? Sekedar pelarianmu?

Ku pikir ini tak akan berlanjut. Namun hari-hariku terus bertemu denganmu. Tatapanmu. Senyuman itu tak jarang membuatku tenggelam dalam harapan bahwa suatu saat kau dapat kumiliki. Aku mulai mengendalikan hatiku untuk tak tenggelam lebih dalam lagi denganmu. Karna aku tau itu hanya akan membunuhku. Namun aku gagal lagi kala kau datang dengan semangkuk sup buah kesukaanku. Entah dari mana kau tau segalanya tentang.ku. 

Tuhan, biarkan sejenak aku menikmati tentang dirinya hari ini.

Hentikan sejenak dentingan jarum jam itu.

Namun logikaku kembali menolak. Ini menyakitkan bila aku melanjutkannya. Aku berharap pria berjas hitam memindahkanku ke ruangan yang lain. Namun dewi fortuna nampak berpihak padanya. Kami kembali bertemu dalam satu project.

Tuhan, andai kau mengenalkanku lebih dulu dengannya. Tak dapatku hindari lagi. Aku dan dia mulai merasakannya. Ia mengungkapkannya padaku, namun logikaku menolak. Kukatakan bahwa kau sudah memilikinya, dia yang sudah lama bersamamu dan lebih mengenalmu. Mungkin aku hanyalah sebuah rasa penasaranmu saja. Namun kau membantahnya. Lalu kubilang lepaskan salah satu. Karna kau tak mungkin bersama aku dan juga dirinya.

Dan kau terdiam dengan menatap kau bilang ingin aku dan dirinya bersamamu. Namun sekali lagi, ku katakan bahwa tak mungkin sebab entah aku ataupun dirinya kami wanita tak mungkin bisa berbagi. Terlebih lagi tentang sebuah perasaan

Maaf mungkin dengannya kau tak seceria saat bersamaku. Namun ia lebih dulu bersamamu. Lebih banyak mengenalmu. Lebih mengerti bagaimana menyikapimu. Tapi cobalah mengerti bahwa aku lebih baik merelakanmu dia daripada terus tenggelam dalam ketidakpastian.

Salam,

Wanita penikmat candamu

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE