Mari kita mulai cerita ini dengan pertanyaan dan silakan dijawab dengan suara berbisik, “Apakah sekarang kamu sedang memikirkan orang yang kamu sayang?” Simpan jawabanmu sebagai rahasia, bahwa kau mencintainya, meski dia tidak tahu.

Baiklah, panggil saya Anda, saya seorang perempuan yang hidup dalam kisah sepasang kekasih, saya lahir sebagai tokoh yang diciptakan kekasih laki-laki dari sosok kekasih perempuannya.

Advertisement

Menurut kekasih laki-laki, rambut saya cukup panjang melewati bahu, bergelombang, senyum saya sedikit lebar, alis saya terlihat seperti perempuan antagonis, mata saya memiliki kedalaman yang mampu menyeret orang-orang bertemu luka.

Sekarang, kekasih laki-laki dan kekasih perempuan sudah berpisah. Jelas, hidup saya terancam, saya akan mati jika mereka saling melupakan. Saya harus mencari cara agar tetap bisa hidup, saya senang bisa melihat sepasang kekasih bertukar pelukan, saling melepaskan rindu.

Saya perlu merasa khawatir sebab hari ini adalah hari kedua puluh mereka berpisah dan kekasih laki-laki tidak pernah lagi membalas pesan yang dikirimkan kekasih perempuan, dia juga menghindari pertemuan dengan kekasih perempuan. Semoga itu bukan sebuah usaha untuk saling melupakan.

Advertisement

Saya melihat ketakutan memang selalu melapisi perasaan mereka. Kau tahu, ada kalanya rahasia tetap harus bertahan sebagai rahasia, kejujuran tidak selalu diterima dengan baik. Pertengkaran yang sering terjadi di antara mereka bukan karena adanya sesuatu yang ditutup-tutupi oleh salah satunya, melainkan buah dari kejujuran kekasih perempuan.

Kata kekasih laki-laki, akar permasalahan selalu bertumbuh dari kekasih perempuan yang tak bisa tuntas dengan dirinya sendiri.

***

Setiap berpisah denganmu, aku sering terbangun dengan mata yang sembab di pagi hari atau bahkan tengah malam sekali. Aku tidak saja kehilanganmu di dunia nyata tapi juga kau meninggalkanku dalam mimpi, berkali-kali.

Akhir bulan yang lalu, aku salah menegurmu, membuat kau merasa aku berlaku kurang ajar padamu. Padahal, kau sangat tahu, seberapa besar aku menghargaimu.

Film selesai tanpa ada satu pun kata yang kau sampaikan padaku, biasanya kita banyak berdiskusi tentang adegan-adegan dalam film, pemilihan alur ceritanya, sehebat apa film itu memukau kita dan banyak lagi. Malam itu juga, selepas pulang dari bioskop, aku tahu, hubungan kita tidak akan berumur lebih panjang lagi.

Pesan-pesan yang terus aku kirimkan tak pernah mendapat respons yang baik darimu, bahkan lebih sering tidak mendapat respons apa-apa. Aku terus berusaha menemuimu, ingin berbicara, aku ingin mendengarmu mengeja perpisahan dengan menatap mataku, agar aku tak stengah-stengah terluka.

Tapi, usahaku tak menghasilkan apa-apa, kau menjauh, menutup semua jalan pertemuan. Aku kehilangan arah menujumu.

***

Selama aku mengenal hubungan antara perempuan dan laki-laki, baru kau, perempuan tersabar yang mencintaiku, bertahan tiga tahun tak melawan watak kerasku, kau mengalir, tak pernah keras membentur.

Bagaimana kabarmu? Apa luka di perasaanmu belum berangsur sembuh? Kau harus tahu, aku berat melukaimu itu sebabnya aku tak ingin membalas pesan-pesan yang kau kirimkan, aku tak ingin air matamu jatuh tiap kali isi pesanku hanya memintamu menjauhiku.

Apa kau masih ingat? Bagiku, matamu adalah rumah segala luka, tiap kali tatapan kita bertemu cukup lama, aku dalam merasakan penderitaan. Itulah kenapa aku tak ingin menemuimu, aku ingin sendiri, tak baik kita saling melukai terlalu jauh.

Bukan sebab aku membencimu sehingga kuputuskan untuk mengakhiri hubungan kita, aku hanya tak ingin terus-menerus menahan sesak dadaku, masa lalu yang jauh kau tinggalkan justru semakin dekat padaku.

Aku menghargai segala kejujuranmu di awal kita menyebut diri kita jatuh cinta, hanya saja kau tak cukup lincah memahami keadaan perasaanku.

Kau bukan perempuan yang mudah menyerah, tapi kegigihanmu untuk menemuiku kadang berlebihan dan sedikit keras kepala. Aku tidak menyukai tingkahmu yang nekat, sering menempuh jarak yang cukup jauh untuk menemuiku, tidak peduli situasi, kau tidak mencintai dirimu sendiri, itu sebabnya aku semakin ragu menumbuhkan pohon perasaanku lebih besar lagi di hidupmu.

Sekarang, aku berharap kau tidak mencariku, pesan-pesanmu tidak lagi kutunggu masuk membunyikan handphone-ku. Aku melepaskanmu, juga melepas rantai besi masa lalumu yang selama ini menyesakkan dadaku.

***

Kepala saya seperti dihimpit dua benda besar dan berat, ruang yang saya tempati sedikit demi sedikit menghitam, suara kekasih lelaki menggema dalam ruangan, “Aku tidak akan mencintainya lagi.” Saya panik, dada saya sesak, apa saya akan mati?

(akan berlanjut ke bagian 2….)

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya