Selepas Tak Lagi Bersama, Kuharap Kamu Bisa Bahagia. Biarkan di Sini Aku Menyembuhkan Luka

Sebuah tanyaku untukmu

Maaf, untuk setiap goresan senyum yang kau paksakan. Maaf, untuk setiap lirih yang kau jadikan tawa. Maaf, untuk alunan rasa yang kau buat melodi cinta. Sudah cukup, aku sudah tahu kebenarannya, tentang kau yang tidak sungguh-sungguh menyayangiku.

Advertisement

Setelah sekian lama kau memaksakan diri untuk tinggal, aku izinkan kau untuk beranjak. Apa kau merasa lebih baik sekarang? Apa kau merasa senang sekarang? Apakah ini yang kau inginkan selama ini, terlepas dari jeratan ikatan bersamaku yang memuakkan? Kau bisa dengan bebas melempar tawa dengannya tanpa harus mengasihaniku. Kau bahagia? Aku harap demikian. 


Biarkan aku tersudut di sisi gelap hidupmu, terhempas, menghilang, terlupakan begitu saja.


Setiap denting waktu yang terselimuti sepi, kunikmati sembari melahap tanya, "Kenapa kau tak pernah mencintaiku?". Setelah setiap rasa di hati kubuncahkan untukmu, kau masih tak mencintaiku? Setelah semua ketulusan kuhembuskan untukmu, kau balas dengan dusta? Kau benar, aku sudah mengetahui semuanya, tentang kau dan setiap jengkal pengkhianatan.

Advertisement

Apakah aku pernah bermakna di hidupmu? Meski hanya sekejap, pernahkah hadirku memberi arti di hidupmu? Ketika setiap langkah dalam hidupku kujadikan kau sebuah tujuan, kau berpaling begitu saja. Dan aku? Langkahku kini tak berarah.

Dusta demi dusta kau rangkai dengan balutan manis kepura-puraan. Apakah kau sadar bahwa aku telah menyadarinya? Ya, tentang sosoknya yang masih tertambat di hatimu. Tentang kau yang hanya menjadikanku labuhan sementara. Pun tentang kau dan dia yang masih saling mencintai dengan tulus.

Advertisement

Lantas, bagaimana denganku? Aku yang harus menjadikan bayangmu untuk tempatku melepas rindu, aku yang harus menjadikan kenangan sebagai tempatku menyapamu. Bagaimana denganku? Merangkai keheningan menjadi teman untuk kutorehkan kisahku? Baiklah, tak apa, akan kulahap detik demi detik tanpa hadirmu. Akan kulukis bahagiaku sendiri, di atas langit-langit kamar, ketika malam mendekap, mimpi melebur. 

Akan kuterima, perlahan, tentang sebuah kebenaran yang menyakitkan. Semua hal yang membuat kebahagiaan dan senyuman sempat berlabuh di wajahku, hanya kebohongan semata.


Terima kasih, karenamu, aku bisa merasakan hangatnya sebuah rasa. Meski semuanya hanya pura-pura belaka, aku sudah cukup bahagia. 


Untukmu yang mungkin sedang menikmati secangkir teh hangat bersamanya, menikmati rintik hujan dengan gemercik merdu, memandangi basahnya dunia luar di balik jendela, berdua, berselimut senja, saling menghangatkan diri, "apakah kau senang kutinggalkan?"

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Saya adalah seorang mahasiswi salah satu universitas di Bandung.

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE