Jujur, ku masih belum bisa move on sepenuhnya dari cintaku yang lalu. Dia masih saja selalu menari-nari di pikiranku. Aku tak kuasa untuk menghentikannya. Entahlah, mungkin aku yang tak mengetahui bagaimana caranya. Dulu, dia yang menanam cinta ini dan kami rawat bersama. Sampai akhirnya ku terkesan harus mematikannya secara paksa. Oh bukan, dia yang mencoba mematikannya namun selalu ku carikan cara agar bisa mencegahnya. Sampai pada akhirnya, tak ku sadari bahwa ia berpura-pura tetap memupuk hingga ku pun yakin apa yang awalnya ia tanam dan kami rawat bersama itu akan tetap selalu terjaga.

Namun, sadarku akhirnya tiba. Ke pura-puraan itu mulai tercium olehku dan kini hal tersebut ku biarkan begitu saja. Tak ada lagi cara-cara untuk mencegah usahanya yang tak ingin cinta ini terus ku pelihara. Ya, aku mengalah. Karena ku sadar, selama ini egoku lah yang berada diatas segalanya. Kini, ku coba melepaskan. Melespakan apa yang sebenarnya masih ingin ku perjuangkan. Namun ku sadar, sekuat apapun aku berjuang, jika sudah tak sejalan tak akan pernah juga ku dapatkan penyatuan.

Advertisement

Di tengah usahaku untuk mencoba menghilangkan semua rasa yang dulu pernah ada, ku temui sosok baru yang seakan-akan datang untuk membantuku menyelesaikan semuanya. Ya, hadirnya membuatku bertanya-tanya. Sikapnya membuatku semakin hilang arah. Bukankah kita sudah mengenal sejak lama? Namun mengapa akhir-akhir ini ku temui sikap yang tak biasa? Apa hanya persaanku saja atau memang dia ingin menunjukkan sesuatu yang berbeda?

Jika memang dia ingin menunjukkan sebuah perasaan yang lebih, ku mohon jangan dulu untuk saat ini. Sungguh ku tak ingin berlarut dalam perasaan seperti dulu lagi. Tepatnya, ku tak siap jatuh cinta lagi. Biarlah semua berjalan seperti ini. Sampai nanti kita benar-benar siap untuk berjanji.

Namun kini ku masih menduga-duga, terlalu dinikah bila ku sebut ini "cinta"?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya