[CERPEN] Sering Terbersit Tanya Dalam Hati, Apakah Tuhan Itu Nyata?

Sering aku bertanya dalam hati, apakah Tuhan itu nyata?

Sering aku bertanya dalam hati, apakah Tuhan itu nyata? Apakah benar Tuhan sanggup mengabulkan semua permintaan kita seperti kantong ajaib Doraemon? Apakah Tuhan mendengar setiap bait doa yang kita panjatkan di malam-malam sunyi? Sungguh, terkadang pikiran skeptisku membuatku ragu.

Advertisement

Sering aku bertanya dalam hati, apakah Tuhan itu nyata? Di satu sisi, aku percaya kalau Tuhan itu ada, namun di lubuk hatiku terdalam aku ragu, apakah Tuhan itu ada? 

Bagaimana kita bisa percaya kalau Tuhan itu nyata, sedangkan kita belum pernah melihat wujud nyatanya? Bukankah segala sesuatu akan dianggap benar dan masuk akal setelah kita melihat wujud nyatanya secara langsung dengan mata telanjang kita?

Apakah Tuhan itu nyata?

Advertisement

***

Sering aku bertanya dalam hati, apakah Tuhan itu nyata?

Advertisement

"Nduk, sembahyang dulu. Sembahyang yang rajin biar apa yang kamu minta cepat dikabulin Tuhan," Ku dengar ibu memanggil. Namun, aku tak segera beranjak dari tempat tidurku.

Aku ingat percakapanku dengan ibu saat aku masih kecil. Waktu itu umurku baru 5 tahun.

"Bu, kenapa kita harus rajin sembahyang?" tanyaku pada ibu.

"Nak, kita harus rajin sembahyang. Supaya apa yang kamu minta cepat dikabulin sama Tuhan. Supaya masalah yang kamu punya, dikasih jalan keluar sama Tuhan," Ibu menggendongku, mengajakku sembahyang bersama. Kakakku yang saat itu berumur 7 tahun mengikuti dari belakang.

"Tuhan itu benar ada, Bu?" tanyaku lagi. Mungkin untuk anak seumurku, pertanyaanku itu sungguh aneh.

"Tuhan itu tidak dapat kita lihat, nak. Dibayangkanpun tidak bisa. Hanya dapat kita rasakan dengan hati kita. Karena itu, cara kita berkomunikasi dengan Tuhan lewat doa" Ibu membelai lembut rambutku.

Aku mengangguk seolah paham jawaban ibuku, padahal dalam hati, aku sungguh belum merasa puas. Bagiku itu bukan jawaban tapi sebuah pernyataan ulangan layaknya tulisan copy paste di komputer.

Apakah Tuhan itu nyata?

***

Sering aku bertanya dalam hati, Apakah Tuhan itu nyata?

Arah pandangku terpaku pada ibu-ibu bertampang lusuh dan kurus yang menggendong anak-anaknya yang tak kalah lusuh. Aku terus mengikuti sosok mereka hingga bis yang ku tumpangi melesat menjauh, mengaburkan sosok ibu-ibu itu serta anaknya hingga tak tampak lagi di mataku. Aku menarik nafas kemudian menghembuskannya perlahan.

Kalau Tuhan itu nyata, mestinya semua manusia hidup dalam kebahagiaan. Tidak ada penderitaan seperti yang ku lihat barusan, atau seperti yang sering ku dengar. Dia mampu memberikan jalan keluar untuk setiap masalah dan penderitaan yang ada. Semua bisa hidup layak.

"Kalau Tuhan itu ada, biarpun sudah kerja keras, mestinya tidak ada orang miskin dan menderita ya, Bu?" tanyaku pada ibu. Saat itu usiaku sudah 7 tahun, ibu menjemput aku serta kakakku pulang sekolah, mengajak kamu naik bus ke taman dan makan bekal nasi yang dibawakan ibu dari rumah untuk makan siang kami.

"Karena itu kita harus tetap rajin berdoa, nak. Dengan begitu, pasti Tuhan memberikan jalan keluar," jawab ibu sambil tersenyum. Aku duduk di pangkuan ibu sementara kakakku duduk di sebelah ibu, kepalanya menyandar ke lengan ibu dan tampak terkantuk-kantuk.

"Kalau sudah berdoa tapi tetap miskin dan menderita?" kejarku. Aku benar-benar tidak puas. Bukan, bukan jawaban itu yang aku inginkan. Aku ingin jawaban, jawaban yang bisa menjadi jawaban akan sosok Tuhan selama ini.

Ibu hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku. Dalam benakku, aku tahu bahwa ibu pasti bingung, bingung bagaimana menjawab pertanyaanku. Jangan-jangan ibu juga sebenarnya tak yakin. Tak yakin akan keberadaan Tuhan.

Kalau Tuhan itu nyata.

***

PRANGGG!!! Kudengar bunyi piring pecah dan teriakan kesakitan

"Kamu selalu seperti ini! Pulang setahun sekali! Sekali pulang mabuk, minta uang, menyiksa kami!" Kudengar teriakan ibu lalu disusul kembali jerit kesakitan dan suara benda jatuh.

Aku mengintip dari balik lubang pintu, menatap kosong ruang tamu yang hancur. Ayah yang terus memukuli ibu serta kakakku yang bisu mencoba berteriak tapi tentu saja suaranya tidak ada yang keluar.

Ayahku yang hanya pulang setahun sekali, entah apa yang dilakukannya di luar sana. Pulang selalu mabuk, memaksa ibuku memberi uang, memukuli ibuku habis-habisan. Lalu pergi entah ke mana. Begitu terus selama 16 tahun hidupku.

Aku beranjak dari lubang pintu, mengambil gelas dari atas meja lalu meneguk isinya, merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, menutup wajahku dengan bantal.

Ingin rasanya aku percaya kalau Tuhan itu nyata.

***

Sering aku bertanya dalam hati, Apakah Tuhan itu nyata?

Dan aku yakin, kini aku tidak akan mempertanyakan pertanyaan itu lagi pada ibu, pada diriku sendiri atau pada siapapun. Aku ingin melihatnya langsung, menatapnya dengan mata telanjangku,  bertanya banyak hal padanya, membuktikan bahwa Dia ada, nyata, menguak jawaban, benarkah segala sesuatu serta semua hal bisa selesai hanya dengan berdoa?

Bukan merasakan dengan hati, tidak, aku sudah muak dengan jawaban itu semua selama bertahun-tahun. Jawaban yang diulang-ulang bagai pita kaset. Aku ingin mencari langsung jawaban atas semua pertanyaan tentangNya selama bertahun-tahun. Aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi dan tersiksa.

***

Seorang Gadis SMA ditemukan Tewas di Dalam Kamarnya. Diduga Bunuh Diri Setelah Meminum Cairan Pembersih Lantai.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Let's karma doing the job