Dia adalah seseorang yang tak pernah pandai untuk mengurai kasih sayang bahkan juga air mata. Tidak ada yang bisa menandingi ketegaran dan ketulusan cinta yang dia berikan. Tiada henti menginspirasi dan akan selalu menjadi sosok terhebat yang mampu mengubah luka menjadi bahagia. Seseorang yang selalu memberikan senyuman terhangat meski disaat raganya sudah penat.

Sosok yang teramat kuat dan tak pernah kenal lelah untuk membuat buah hatinya bahagia. Tak pernah ada keluh kesah yang terpancar dari wajah atau pun bibirnya meski terkadang peluh dan lelah tengah dia rasakan. Memberikan cinta bukan lewat pelukan dan kecupan. Tapi dengan nasihat yang selalu menenangkan. Dia adalah seseorang yang sering kupanggil Ayah.

Advertisement

Ayah, sepenggal kata yang kupunya takkan pernah bisa menggantikan berjuta makna akan kasih sayang yang kau punya. Bahkan berjuta doaku takkan pernah mampu menandingi miliaran doa yang telah lama kau eja tanpa suara.  

Rindu. Itulah rasa yang kini tak pernah luput dari hatiku. Rindu akan hangatnya canda tawamu. Rindu akan semangat dan kegigihan jiwamu yang rela berkorban hingga detik saat kau telah berpulang kehadapan Allah Sang Penggengam Kehidupan. Rindu, satu hal yang terkadang begitu sulit untuk diungkapkan namun tak jarang juga rasa itu kerap kali membuat seseorang menitikan air mata. Ya, entah itu merindukan seseorang yang tak pernah lagi mampu kita temui selamanya. Atau rasa rindu terhadap seseorang yang hanya mampu terpendam di sisi hati terdalam.

Tidak ada seorang pun yang dengan seketika mampu mengikhlaskan kepergian seseorang yang dia sayangi. Tak terkecuali denganku. Karena sungguh ketiadaan Ayah benar-benar seolah meremukan hati dan tulang belulangku. Ayah, maafkan jika terkadang air mata masih saja terurai ketika rindu itu hadir memenuhi seisi rongga dadaku.

Advertisement

Ayah… Ajari aku mempunyai hati yang lembut dan sekuat dirimu. Dan Ayah, tahukah kau bahwa meski telah sedewasa apapun usiaku kini, percayalah bahwa aku selalu membutuhkanmu berada di sisiku sebagai penguat langkah kakiku. Ayah, hadirmu selalu kurindukan, serta takkan pernah bisa tergantikan meski ragamu kini telah tiada lagi di sini.

Apa kamu tahu seperti apa caranya seorang Ayah menyayangimu? Atau pernahkah kamu tahu bahwa diam-diam dia selalu mendoakanmu serta begitu membanggakanmu dihadapan teman-temannya? Ya, Ayah sangat bangga memilikimu. Bahkan mungkin tanpa pernah kau sadari itu.

Terima kasih telah menjaga dan menyayangiku selama ini. Terima kasih untukmu yang tak pernah lelah menemani dalam setiap langkah hidupku. Terima kasih untuk segalanya Ayah. Kau adalah cinta pertama putrimu ini dan akan tetap menjadi laki-laki terhebat di hatiku.

Dan untukmu teman yang kini tengah berjuang dengan sekuat hati mengikhlaskan akan suatu rasa kehilangan. Kuharap kau mampu memahami ini. Kehilangan memang terasa sangat menyakitkan dan bahkan bisa membuatmu tertekan. Tapi tahukah kau bahwa ketika Allah memisahkan atau membuatmu kehilangan sesuatu yang sudah teramat kau cintai, bukan berarti saat itu Allah menginginkan kau merasakan sakit yang teramat mendalam. Sungguh bukanlah seperti itu.

Allah teramat menyayangimu. Allah hanya ingin kita lebih mendekat kepada-Nya, mencurahkan segala isi hati hanya kepada-Nya dan senantiasa hanya menaruh harap kepada-Nya. Allah juga ingin kita belajar bahwa ketetapan-Nya jauh lebih indah dari pada semua rencanamu, serta tak ada yang abadi di dunia ini kecuali cinta dan kasih sayang-Nya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya