Korban Bully Tak Menjadikanmu Menyalahkan Keadaan. Lawan, Selagi Ada Kesempatan!

Bullying seakan tidak akan pernah berakhir

Saya sangat emosional ketika berhadapan dengan yang namanya bullying atau melihat orang lain mengalaminya. Karena saya adalah korban bullying. Ya, masa kecil saya penuh dengan penindasan. Baik itu verbal atau non-verbal, baik itu dari teman bahkan dari orang terdekat seperti keluarga.

Advertisement

Penindasan yang saya alami dimulai sejak saya masih berusia 5 tahun, seingat saya saya adalah anak yang periang, saya juga tidak suka mempunyai masalah dengan orang lain. Namun saya tidak tau kenapa saat itu di usia kanak-kanak saya dimusuhi orang orang terdekat saya seperti keluarga dan anak-anak lain. Gadis kecil ini berpikir dengan keras kenapa orang orang membencinya apa salah nya? Pikiran-pikiran negatif mulai meracuni. Dia menjadi pemurung dan tidak mau banyak bicara.

Memasuki usia SD si gadis kecil mulai menjadi anak sekolahan, dan lagi-lagi ditindas teman-temannya si gadis kecil ini belum bisa membaca sampai kelas 2 mungkin itu sasaran empuk bagi mereka yang punya mental pengganggu. Namun hebatnya si gadis kecil ini berjuang agar bisa menjadi juara kelas dan di kelas 3 sampai kelas 6 SD dia menjadi juara 1.

Yupp si penulis bangga dengan gadis ini 🙂 Sekolah pertamanya ini bagaikan neraka baginya tidak ada kebahagiaan yang ada hanya gangguan dari teman-temannya bahkan si gadis ingat suatu hari si gadis mengumpulkan soal ulangan namun ia heran kenapa tulisannya banyak yang dirubah dan nilainya menjadi jelek. Ah, dasar gadis kecil, dia tidak sadar kalau dia sedang dibully. Lagi dan lagi…

Advertisement

Si gadis kecil ingat memasuki kelas 5 SD datanglah murid baru bernama Intan dia gadis yang besar dan kuat. Semua orang segan sepertinya sama yang namanya intan ini. Mereka bersahabat dan sepertinya di situlah gadis kecil baru bisa bebas dari bully-an. 

Tibalah saatnya memasuki sekolah menengah pertama gadis kecil dan gadis besar ini memilih sekolah yang berbeda. Si gadis kecil memilih bersekolah di tempat yang lebih islami. Di hari pertamanya sekolah si gadis memakai rok pendek dan belum berkerudung saat itu, mata seorang guru yang jelalatan tertuju padanya. Disinilah si gadis kecil mendapat bully-an yang benar benar merusak mental sebenarnya.

Advertisement

Dari semua guru laki-laki yang ada di sana terhitung hanya beberapa saja yang berahlak baik, yang lainnya begitu bobrok. Si gadis kecil yang imut ini bukan lagi dibully teman melainkan dibully guru guru yang tidak punya adab.

Memang tidak sampai berlebihan. Tapi ucapan-ucapan pujian, panggilan sayang, cubitan di paha, dirangkul dari belakang, tatapan genit menjijikan selalu ia dapatkan dari 3 orang guru yang tidak disebutkan namanya. Meski begitu teman-teman si gadis kecil merasa ketakutan setiap pergi ke sekolah, dia merasa tidak aman dan dia bukan orang yang berani berbicara lantang. 

Bayangkan perasaan si gadis kecil ini yang membenci 3 guru itu. Apa yang ada di pikiran mereka terhadap gadis kecil berusia 13 tahun padahal mereka sudah berumur dan beristri betapa menjijikannya? Selama tiga tahun si gadis kecil mendapat pelecehan verbal dan cubitan cubitan menjijikan. Masih hidupkah mereka? Ya masih. Namun kehidupannya tidak pernah membaik. Ada yang terkena stroke, jatuh miskin, dan tidak bahagia. 

Memasuki usia SMA si gadis ini pun mendapat pelecehan verbal dari keluarganya sendiri, padahal si gadis tidak suka menampakkan aurat atau hal-hal lain yang membahayakannya. Saat itu ketika si gadis mulai berani bicara tak ada satu pun yang membelanya, orang terdekatnya bilang si gadis ini ingin menghancurkan keluarga dengan pengakuan nya.

Betapa hancurnya saat itu. Si gadis merasa orang paling sendirian di muka bumi. Bayangkan ketika dia berani mengatakan kalau ada seseorang yang melecehkannya secara verbal namun pengakua nya dianggap merusak dan memalukan. Bukan dukungan atau belaan yang ia terima. Saat itu ia berpikir serendah itukah dirinya hingga tak ada yang membela?

Si gadis mulai kuliah dan bergaul dengan teman-teman yang baik dan menyayanginya. Disanalah keberaniannya muncul. Ketika si peleceh dari keluarga itu terus-terusan mengganggunya, dia mengeluarkan semua suaranya dia berteriak dia berani membela dirinya saat itu juga. Barulah orang orang mulai menghargainya, dia berjanji saat itu tak ada seorang pun yang boleh merendahkannya.

Ternyata bullyan yang si penulis alami berulang kali disebabkan ketidakmampuannya membela dirinya dan tidak mampu berteriak. Maka dari itu pesan penulis ketika seseorang merendahkan melecehkan, lawanlah hari itu juga. Karena kalau tidak, hal-hal itu bisa menjadi virus pikiran yang membuat kita tak bisa bersuara.

Saat ini penulis telah menjadi seorang guru di sekolah ternama di daerahnya. Penulis masih heran bullyan tidak pernah berakhir namun kali ini bukan peulis yang mengalaminya tapi rekan kerja penulis. Pembully mungkin merasa puas karena sudah punya kekuatan menyudutkan orang lain.


Tapi ingat, setiap apa yang kita lakukan akan diminta pertanggungjawaban kelak di akhirat. Teman teman punya Allah, kita semua makhluk Allah jadilah makhluknya yang terbaik. 


Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE