Bagian Terakhir: Kita dalam Tilik Asing

Meluangkan waktu untuk mengulik kisah tak beraturan. Seolah seperti harus ada, tapi tak cocok untuk potongan puzzle mana pun.

Advertisement

Hidup berjalan seperti biasa—dimana tentangmu hanya tinggal sebuah nama bagiku. Begitupun aku bagimu, hanya sekabut titik yang tak sengaja terlintas di benakmu. 

Aku jatuh cinta pada pria bermata hitam legam, hidung mancung, dengan seragam hitam melekat pada tubuhnya. Begitu pula kau yang sedang dimabuk asmara dengan wanita berambut hitam sebahu, berkulit putih, yang biasa kau sebut nona manis.

Tawaku lebih banyak akhir-akhir ini, walau waktu luangku tak sebanyak saat masih bersamamu. Sementara kau mulai ripuh menyusun strategi untuk melanjutkan hidup, sehingga tawamu terkalahkan oleh lamunan tentang masa depan.

Advertisement

Aku dan kau, dua orang yang memilih dua jalur berbeda dan sibuk menata urusan masing-masing.

Baik kawanku ataupun kawanmu—mereka mulai bosan mendengar kisah tentang kita. Sudah terlalu lama berlalu, tak perlu diungkit, dan mungkin sebagian serpihannya sudah terlupakan oleh mereka. Mereka berusaha meyakiniku bahwa tidak ada satupun dari kita yang benar atau salah. Memang, seharusnya sudah berakhir, setidaknya, begitulah pandangan mereka saat membicarakan kita.

Advertisement

Serupa denganku, kau mulai gerah saat gemercik air disertai gemuruh hebat terdengar pada tengah malam. Seketika pikiranmu dipenuhi kebencian pada bunga mawar yang tertata rapi pada bouquette biru, dan peluk selamat tinggal yang kala itu membuat debar jantungmu tak karuan. Kau mengutuk hari sia-sia yang kau habiskan untuk menangisi kepergian, kehancuran dan dusta yang kau pendam. Kau sama seperti aku, membenci takdir pertemuan kita. 

Satu, dua dan tiga tahun berlalu. Terkadang kau bertanya-tanya bagaimana tentangku—juga dunia utopiaku yang seringkali menggambarkan tentangmu. Tak kusangka, ternyata tiga tahun belum menjadi waktu yang pas untuk menepis segala khayalnya. Kita seolah berlari di jalur berbeda, namun pada nyatanya kita hanya mengitari sebuah lingkaran.

Kau seolah hanyut dari ekor mataku, tak lagi terlihat, atau mungkin tak ingin dilihat. Keberadaanmu menjadi dusta bagi Bumi, membuat ingatanku tentangmu satu persatu rontok. Aku mulai lupa aroma parfum yang menempel pada setiap pakaian hitam milikmu itu. 

Namun beberapa kali kau mengenali aku di sudut jalanan. Pandanganmu agak kabur, terlihat dari kerutan di dahimu saat kau berusaha menelitiku jengkal demi jengkal. Pertemuan itu membuatmu bertanya-tanya, apakah aku adalah seseorang itu, yang pernah memberimu hari-hari terburuk sepanjang 2020? Karena rasanya sangat asing, jauh—sangat jauh.

Ragaku telah mengubur segalanya, namun jiwaku berusaha menggali yang sudah mati.

Ragamu memerintah untuk segera pergi, namun jiwamu selalu menanti.

Beruntung, kau bersama si nona manis yang tak gusar. Juga kebahagiaan bagiku telah bersama si pria rupawan yang penyayang.

Sebab ditengah keributan itu, kini kau dan aku hanyalah dua manusia yang sedang menatap kata demi kata sambil mengingat hal lalu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Student of Marketing Communication at Bina Nusantara University📚

CLOSE