Hi pople! Sudahkah anda bergunjing hari ini? Saya sehari, banyak! Nggak ding, bohong. Saya sih nggak pernah bergunjing. Cuma kadang bibir tipis ini begitu tersinkronisasi dengan kognitif dan sistem saraf pusat. Saat melihat banyak anomali, abnormalitas, dan subnormalitas perilaku manusia pada setiap rentang. Bibir dan kognitif ini memuncak agresinya dan mengeluarkan kata, frasa, klausa yang cukup kelam untuk menjadi sebuah humor satir. Ahk..

Kembali pada masa kuliah, saat dosen di perkuliahan memberi tugas yang sangat bagus yaitu : nonton infotainment. Suka nggak sih nonton inpotenmen? Nggak terlalu suka. Terus dosen memberi brief untuk observasi para artis kemudian kita bedah selama sesi temu muka perkuliahan. Oh my God, rasanya bersyukur milih jurusan ini. *sambil menjentikkan jari searah mahkota sampai batang pohon Cemara.

Advertisement

Terima kasih pendidikan Indonesia dan kultur pop kelas menengah!

Imbas tugas tersebut memang sangat relevan hari ini untuk cermat memahami kata, gestur, dan wacana pada lautan informasi saat ini. Termasuk menegaskan disposisi pribadi saat mendengar inner circle akan jadi sasaran tembak akun gosip. Baik akun gosip yang sudah dibayar menggunakan cryptocurrency atau akun gosip yang bayarannya lebih murah dari mainan-mainan pada tukang klenengan.

Belakangan punya teman-teman yang kebetulan lagi dapet banyak publikasi. Rupanya ditengah publikasi, mereka jadi bahan gunjingan juga, dan tidak tanggung-tanggung ada wadah yaitu akun anonim-gosip yang siap menjadi whistleblower gosip-gosip temen saya ini. Konyol, karena saya fasih sampai upil-upilnya teman dalam pergaulan. Sisi altruism saya mampu berempati secara satir, besarkanlah pahala mereka di surga Bapa. Agar mereka tahu bahwa kepala mereka yang besar rupanya perlu diisi kehidupan dan pahala.

Advertisement

Terkadang saya menyesal terlahir sebagai penduduk yang memiliki kultur komunal dan satu karakter maladaptif yaitu gemar bergunjing. Terkadang.

Berikut cara menghindari akun gosip yang hendak menjadikan dirimu penadah.

Perhatikan inner circle, media sosialmu dipastikan berisi inner circle dirimu toh. Sekalipun memang kabar gunjing itu sudah merebak. Cukup jawab dengan tegas, pardon me, none of them are my concern. Ya dong, concern kamu kan bersahabat, bukan mencari bahan gunjingan. Kalaupun hendak mencela, kamu bisa mencela mereka langsung, itupun karena bercanda.

Segera screening profil, awamnya akun gosip ini melakukan random sampling dan rupanya hasil sampling mengarah pada dirimu yang kebetulan cukup sahih dalam menyikapi informasi. Sementara, akun gosip ini, ya hanya akun gosip, seorang proxy maladaptif dan tidak bertanggung jawab dan stardom-oriented alias pengen eksis aja. Tidak menutup kemungkinan lho, bukan akun gosip yang menghubungimu. Bisa jadi akun yang seolah nyata padahal itu tidak nyata. Kamu telah dihubungi pencuri identitas. Setelah screening singkat, tegaskan pula bahwa kamu tidak memiliki kuasa untuk bilang iya dan tidak soal kabar gunjing temanmu.

Cek langsung ke temanmu yang dijadikan bahan gunjing, biasanya kalian malah tertawa-tawa membahasnya. Kamu pasti lebih mempercayai temanmu daripada akun gosip. Tidak peduli akun gosip itu memiliki margin error 1% secara statistik, dan setelah dilakukan uji statistik linier, gosip-gosip mereka sangat sahih untuk disebarkan. Kembali, temanmu dan kamu adalah yang Maha Tahu. Bukan akun gosip.

Pada akhirnya, bergosip adalah perilaku kontraproduktif, menjadi penadah gosip adalah perilaku maladaptif, kemudian meyakini gosip itu nyata adalah contoh kamu mungkin sudah harus menemui terapis realita agar memahami apa itu realita. Marilah kembali ke hidup yang berfaedah daripada nirfaedah.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya