Ada kalanya berbagai ingin menggebu untuk segera diwujudkan. Ada pula yang empunya lebih memilih bersabar untuk sedikit menahan dan mengusahakannya lebih keras. Tidak jarang, beberapa langkah harus terhenti. Bukan karena mau hati, tapi keadaan tidak dapat terhindari. Dimana mendidik diri untuk lebih legawa atau menerima paksa dengan penuh kecewa.

Sesekali tanya lagi pada diri sendiri, benarkah yang ingin kau tunjukkan pada dunia itu untuk kebermanfaatan atau sekedar decak kagum dan tepuk tangan?

Advertisement

Tidak ada yang patut menyalahimu perihal impian yang begitu khusyuk kau rangkai. Di beberapa sisi harus pula kau sadari, realistis menjadi manusia adalah apa yang harus kau genggam. Bukan meragukan usaha dan doa, tapi terlalu berambisi pun menjadi racun untuk diri sendiri.

Menyembunyikannya untuk tidak diketahui mereka, bukan mereka–reka. Segala yang terencana indah begitu khidmat mengalun dalam doa. Usaha dan mampu dengan gencar dilakukan, tapi apa mau di kata, kata selesai harus disematkan di tengah–tengah langkah yang rasanya hampir sampai.

Ranahmu tak lain adalah memilih. Ikhlas dan bangkit untuk berjuang lagi atau putus asa dan merutuknya berkali–kali. Memang menyakitkan, tapi tidak ada gunanya untuk menangis dan meratapi, baiknya melatih jiwa untuk menerima dan mempersiapkan raga untuk berjuang lebih kerasa dari sebelumnya.

Advertisement

Kacau di kepala yang sebisa mungkin harus diredakan, juga perih luka dalam diri yang pelan harus diobati. Tidak apa, nikmati saja. Pelan tapi pasti semuanya akan baik kembali.

Ada kuasa Tuhan yang hingga detik ini meliputimu, yang mungkin ambisimu lengah menelusuri itu. Tuhan selalu tahu, apa yang menjadi butuhmu. Impian yang kau sangka baik bila menjadi nyata, Tuhan justru menghendaki jalan lain yang semestinya mendewasakanmu.

Impian boleh saja bertepuk sebelah tangan, tapi jangan coba murka pada Tuhan. Mimpi besar yang kau idamakan itu, bisa jadi adalah sesuatu keburukan jika benar menjadi kenyataan. Kegagalan tidak boleh membelenggu, jadikanlah alasanmu untuk terus berpacu. Bukan pada rasa sakit, tapi berbagai kekuatan yang kau coba lagi untuk mengumpulkan, tidak peduli akan ada halangan apa lagi nanti di kemudian hari.

Bukankah untuk impian, kamu mestinya tidak bersedih? Toh Tuhan selalu baik menyodorkan kesempatan–kesempatan yang kamu sendiri harus peka untuk menyadarinya. Yang tidak menemu untuk nyata, haruslah digenggam penuh kesyukuran. Tuhan sedetik pun tidak pernah meninggalkan.

Semoga kamu yang impiannya bertepuk sebelah tangan, tidak takut untuk memulai kembali. Tidak gentar meski pernah hancur lebur tak terhitung waktu. Tidak bosan berdoa dan berusaha lagi untuk kesekian kali. Tidak ada keadaan yang tetap, toh segala yang tinggal bersamamu adalah kefanaan. Begitu juga lebamnya keterpurukan.

Semoga asa terus berkorban, menemu makna dan menghindari kesia–siaan. Semangat dalam juang yang tidak mengenal kata usai meski lelah menyergap bertubi–tubi. Menutup rapat telinga untuk mereka yang hanya mampu menilai sebatas hasil dan tidak berniat untuk tahu setiap proses.

Kegagalan adalah sebuah persimpangan yang melelahkan yang justru membawamu pada semakin dekatnya keberhasilan. Impian yang bertepuk sebelah tangan justru membentukmu untuk menjadi pribadi yang semakin handal mensiasati kesempatan lain yang lebih baik.

Se-menyakitkan apa pun bertepuk sebelah tangan, segala sesuatunya akan terus berjalan dan menuntun pada kebijaksanaan hidup yang akan dilakoni.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya