Teman: Halo, lama gak ketemu, makin gemuk aja.

Aku: Iya nih, gue kebanyakan nafas sampe penuh oksigen nih.

Advertisement

Tante: Kamu kapan nikah?

Aku: Kalau ingat.

Sebel banget deh saat orang yang nggak ada angin, nggak ada hujan, nggak ada petir, geledek, tiba-tiba kepo atau nyinyir sama hidup kita. Entah kenapa terasa seperti: buat apa? Apa sih urusan mereka? Toh aku begini kan nggak menggangu mereka.

Advertisement

Mau aku gemukan atau kurusan, dandan atau enggak, punya pasangan atau single kan nggak bikin mereka gak bisa tidur 7 hari 7 malam. Apalagi mereka-mereka yang nggak pernah peduli sama kita, yang baru berkomunikasi kalau mau ketemu itu juga belum tentu 1x setahun. Hrrgh! Bikin sebal.

Kenapa basa-basi selalu dimulai dengan nyinyir mengomentari hidup orang lain yang sebenernya kamu sendiri juga nggak tau? Kenapa dimulai dengan body-shaming? Kemana perginya sapaan klasik “apa kabar, lama tak berjumpa”?

Lagipula kenapa harus nyinyir sih dengan milik orang lain? Sirik? Atau mencari pembenaran akan diri sendiri, makanya nyinyir? Memang kenapa kalau mereka memilih jalan hidup yang berbeda denganmu? Memang kenapa kalau dia lebih chubby atau lebih kurus? Apakah itu akan langsung membuatmu kejang-kejang? Nggak kan. Lalu kenapa harus nyinyir? Bingung nggak ada topik pembuka?

Mungkin sikap masa bodoh perlu diterapkan. Masa bodoh dengan ukuran celananya, masa bodoh dengan di mana jodohnya. Percakapan nggak cuman bisa dibuka dengan nyinyir kok. Dengan simpelnya kalian bisa bertanya apa kabar, lalu topik pembicaraan bisa dimulai. Atau dengan bertanya mengenai tanggapan dia tentang berita atau isu yang sedang hangat. Bahkan bisa memulai dengan menceritakan cerita yang baru saja terjadi di hidupmu. Banyak sekali pilihan topik yang bisa dipilih untuk memulai percakapan. Tidak melulu tentang kapan nyusul menyusul.

Tapi, pelan-pelan disadari, budaya jelek ini sepertinya sudah mendarah daging. Pilihan mengomentari hidup orang lain itu dirasa yang paling mudah dilakukan. Yang penting bisa mencari perbedaan di antara dia dan kamu, dan pastinya ada banyak. Bahkan kita yang sudah berhasil memutus rantai komentar ini, masih terus menerima komentar tak membangun ini. Lalu bagaimana?

Mungkin menjadi masa bodoh dengan mulut orang lain adalah kunci. Dengan masa bodoh pada pilihan hidupnya sedikit banyak membantu mengurangi nyinyir. Dengan masa bodoh kita juga terlindungi dari sakit hati akibat nyinyir mereka. Karena toh nilai seseorang lebih dari ukuran bajunya.


Beberapa orang yang nanya sekedar untuk ngisi udara dan tanpa mikir,

Kenapa nggak kita jawab cuma sekedar untuk isi udara dan tanpa mikir juga

- Marchella FP, NKCTHI


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya