Saya pernah jatuh, karena harapan pada manusia yang membuat saya luluh.

Cerita ini sudah lama, cobalah berdamai tanpa tanda tanya. Tapi, apa mau dikata, piring retak tak akan pernah bisa kembali seperti semula.

Advertisement

Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja dan sudah bahagia. Setelah itu semua, aku selesai.” katamu.

Lalu jika sudah begitu apa? Tidakkah kamu juga punya yang perlu dijaga?

“Tapi dia berbeda.” katamu lagi.

Advertisement

Ya. Aku tahu dia berbeda, berbeda dalam tingkatan skala prioriritas hidupmu. Bukankah aku yang selama ini ada?

Apa tolak ukurku bicara seperti ini? Karena beda cara kamu memperlakukanku dan dia. Kamu lebih komunikatif dan terbuka. Tidakkah aku dapat dipercaya? Atau ini perihal prioritas lagi?

733 hari, 17.520 jam, 1.051.200 menit, 63.072.000 detik kita bersama. Tapi itu semua hanya sebuah angka, lagipula, ini tidak ada apa-apanya. Satu yang masih tak bisa aku tebak, hatimu. Ya. Sering aku bertanya dalam diam “benarkah ada aku di dalamnya? Besarkah sayangmu? Akukah prioritasmu? Masih adakah 'dia' yang lain?” terdengar konyol memang, tetapi aku harus tetap waspada. Aku pernah patah karena terlalu percaya.

Pernakah kau merasa aku berbeda? Sungguh bukan inginku untuk berbeda, namun keadaan tak lagi memungkinkan aku untuk biasa. Apakah kau pernah merasa terluka? Sungguh, bukan inginku menggores luka. Namun, keadaan yang memaksaku melakukannya.

Apakah kamu pernah merasa tak dihargai? Sungguh bukan aku ingin dipuja. Tapi setidaknya orang terdekatku peka. Bila pernah aku berbuat salah, sebisa mungkin aku merasa, dan aku yakin ada jalan lain selain diam. Bila kau pikir aku tak punya rasa, maka akupun bisa tak punya rasa, tak punya mata, tak punya telinga. Setidaknya engkau tahu bagaimana rasanya tanya dijawab sepi dan hampa.

Aku bukan orang yang penyabar, berhati mulia apalagi berbuat baik tanpa diumbar. Aku sadar itu. Tapi, aku juga tidak bodoh dan bar-bar setidaknya kamu tahu cinta ini benar. Dan aku ingin kau sadar itu. Apa yang kau lakukan hari ini, telah membangkitkan sisi gelap dari sifat asliku, yang selama ini sudah coba aku sembunyikan dan kamu tahu pasti itu. Bila kau ingin belajar bagaimana caranya mengabaikan seseorang, akan kuajarkan padamu hingga kau pandai.

Bila kau ingin belajar bagaimana caranya melukai hati seseorang hingga mati, kemari, duduk disini sembari menyesap secangkir kopi. Akan aku ajarkan bagaimana caranya melukai dengan apik dan rapi tapi sangat efektif sekali. Karena memang kau memperlakukanku demikian, mengabaikanku dan membiarkan aku kesakitan sendirian.

Apa kau masih menganggapku berperasaan? Tentu tidak, karena memang aku sudah tidak lagi punya perasaan. Jika kau tanya kenapa? Coba ulik kembali, bagaimana cara kau melakukannya. Aku tak sanggup hidup dengan manusia tanpa salah, bahkan merasa kalahpun tidak.  Maaf adalah kata agung yang jelas-jelas anti kau ucapkan.

Ketika aku berlabuh, kuberikan semua tanpa keluh, tapi yang aku dapat hanya sakit yang tak berujung.

Sungguh, Aku hanya ingin orang terdekatku mengerti arti keberadaan. Bukan sekedar bahan pelampiasan ketika lelah dengan pikiran. Belajarlah hidup tanpa keberadaanku, maka kau akan lebih menikmati hidupmu denganku.

Aku lelah diperlakukan seperti ini, aku bukanlah juliet yang siap mati demi cinta. 
Aku hanya wanita biasa, yang memiliki hati yang perlu dijaga bukan disiksa.

Semoga engkau mengerti, bahwa aku tak pernah benar-benar membencimu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya