#BeraniBaik-Awas! Hati-hati Self Diagnosis Setelah Baca Konten di Media Sosial

Bijaklah dalam mengolah informasi.

Saat ini banyak banget yang bikin konten edukasi di media sosial yang dikemas dengan tampilan dan bahasa yang menarik. Apalagi konten-konten yang membahas kesehatan mental dan pengendalian diri, pasti banyak diminati, karena beberapa faktor, salah satunya pandemi yang tak kunjung berakhir akhirnya banyak yang merasa ‘depresi’. Membaca konten seperti ini baik  untuk menambah wawasan, karena secara tidak langsung kita bisa meningkatkan literasi kesehatan mental tanpa membaca buku tebal.

Advertisement

Apakah kalian pernah menjumpai teman yang mengaku mengalami gangguan psikologis tertentu? Misalnya dia bilang ‘Aku kayaknya kena bipolar deh’, ‘Aku lagi depresi banget, jadi perlu istirahat’. Namun ketika kalian tanya, tahu dari mana, kenapa bisa bilang gitu? Apakah kamu sudah konseling? Jawabannya ‘habis baca konten di medsos, tanda-tandanya mirip’. Hati-hati ya, ini sudah masuk self diagnosis yang seharusnya tidak boleh dilakukan.

Lalu kenapa kita tidak boleh melakukan self diagnosis? Apakah ada pengaruhnya? Bahaya gak sih melakukan self diagnosis? Ada beberapa dampak melakukan self diagnosis, pertama self diagnosis bisa membuat kita terus berpikiran bahwa sedang mengalami hal buruk itu sehingga merasa lebih cemas dari yang sebenarnya terjadi. Karena sebenarnya kita tidak tahu apakah kita benar-benar mengalami itu atau tidak.

Kedua, biasanya self diagnosis ini akan memenuhi pikiran, kita akan menarik kesimpulan secara subjektif. Biasanya apa yang disimpulkan ini dirasa bermanfaat bagi kita misalnya, ada yang melakukan self diagnosis bahwa dia mengalami depresi berat kemudian ada penjelasan bahwa harus istirahat untuk pulih. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak mau melakukan aktivitas apapun yang membebaninya seperti mengerjakan tugas atau bekerja, maunya menenangkan diri atau biasanya bilang mau ‘self healing’. Self diagnosis ini dijadikan alasan bagi dia untuk membenarkan sikap yang sebenarnya kurang tepat dilakukan.

Advertisement

Ketiga, kita tidak tahu apakah benar-benar mengalami gangguan psikologis apa tidak. Sehingga ketika benar-benar mengalami gangguan psikologis, tidak bisa mendapatkan penanganan yang sesuai prosedur. Lebih bahaya lagi bila kita menganalisis sendiri langkah apa yang harus diambil untuk menangani hal tersebut, ya kalau benar penyebabnya itu, bagaimana jika penyebabnya adalah hal lain. Bisa jadi berdampak lebih buruk. Bahaya bukan?

Nah, karena itu ketika kita menemukan serba-serbi informasi mengenai gangguan psikologis dan dirasa hal itu mirip dengan apa yang tengah dialami, jangan langsung mengambil kesimpulan bahwa kalian mengalami hal tersebut ya. Akan lebih baik dan meyakinkan jika kita berkonsultasi langsung pada profesional, misalnya langsung ke psikolog atau psikiater. Agar kita tidak terjebak pada self diagnosis yang apabila salah sedikit saja dampaknya akan lebih parah.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE