#BeraniWujudkanMimpi-Memperjuangkan Mimpi Setelah Jatuh Bangun Ditolak Sana Sini dan Aku Tetap Mampu Mewujudkannya.

Kejar mimpi tanpa batas

Mimpiku adalah menjadi seorang penulis. Penulis yang karya-karyanya banyak dibaca dan dinikmati oleh setiap kalangan. Aku ingin seperti itu. Sedari sekolah dasar, aku sudah diikutsertakan dalam kompetisi membaca dan menulis puisi, ataupun lomba membuat karangan cerita pendek. Itulah awal mula mengapa aku menyukai dunia kepenulisan. Aku dapat menuliskan imajinasiku tanpa ada beban.

Advertisement

Hingga tahun 2007, aku memberanikan diri mengirim tulisan yang saat itu masih tulisan tangan di atas kertas HVS pada seorang penulis senior cerita pendek di sebuah koran. Berharap-harap beliau sudi memberikan penilaian. Namun, seminggu berlalu, sepucuk surat datang padaku. Nama beliau tertulis di pojok atas amplop. Aku masih ingat, betapa antusiasnya perasaanku—menggebu-gebu, dan balasan yang kuterima adalah kalimat “tulisan kamu payah, lebih baik fokus sekolah itu akan lebih banyak membantu.” Dan semangatku mulai goyah.

Berselang bulan, aku memutuskan menulis lagi. Aku tidak ingin melepaskan impianku dengan cara menyedihkan. Aku terus menulis dan mengirimkan tulisanku ke kantor bahasa provinsi untuk diikutsertakan dalam kompetisi menulis. Tentu saja aku sadar, begitu banyak saingan dan aku berjuang di antara mereka. Seminggu berlalu dari tanggal pengumuman, tidak ada kabar. Sebulan berlalu, mungkin sudah basi tulisanku. Saat itu juga aku menyatakan kalah.

Aku pikir akan menjadi pecundang jika tidak #BeraniWujudkan mimpi. Aku terus berlatih, hingga ada seorang teman datang padaku meminta bantuan menciptakan sebuah puisi untuk menyatakan perasaan. Semangatku kembali lagi dan baru kali itu aku mendapatkan bayaran untuk sebuah tulisan. Berbekal kepercayaan diri, akhirnya aku mulai melebarkan semangatku menjadi seorang penulis puisi.

Advertisement

Tepatnya tahun 2008, aku mendaftarkan diri menjadi salah satu peserta lomba cipta cerita pendek di sekolah. Kompetitornya tidak lain teman-temanku sendiri meski kami berbeda kelas. Aku mengumpulkan karya terbaikku, karya yang sungguh-sungguh kukerjakan dengan banyak pemikiran. Tibalah hari pengumuman dan aku dinyatakan sebagai pemenang.

Luar biasanya kebahagiaanku hari itu jika saja tidak ada suara yang menyeletuk, “Bangga gitu doang? Hoki aja bangga.” Belum lagi mereka bilang bahwa cerita pendek teman yang lain jauh lebih bagus daripada milikku. Berhar-hari aku di-bully. Semangatku kembali pupus, aku merasa tidak pantas menerima tropi emas bertuliskan namaku.

Advertisement

Beranjak dewasa menjadi anak kuliahan, membuatku semakin terbuka akan perubahan. Aku lebih sibuk mengerjakan tugas dibandingkan fokus pada mimpi. Sampai suatu hari, dosen mata kuliah drama menyuruh para mahasiswa menulis script yang akan dipertunjukkan di akhir semester. Aku didapuk oleh teman-teman menulis cerita yang pada akhirnya membuatku bangga karena berhasil dipentaskan.

Teman-teman kuliahku berdatangan memberi semangat, satu di antaranya menawarkan proyek antologi yang diadakan sebuah penerbitan ternama. Waktu itu, 2010, aku diminta menulis sebuah cerita pendek tentang kisah patah hati. Dan tulisan hari itu berhasil masuk ke dalam buku antologi yang hingga hari ini masih diperjualbelikan.

Sejenak aku merenung, usahaku #BeraniWujudkanMimpi tidak pernah sia-sia. Bahkan, ketika aku mengirimkan cerita pendek tentang keajaiban do’a ibu, lagi dan lagi berhasil tembus pasaran meski tidak mendapatkan bayaran. Namun dulu, bukan tujuanku mendulang uang dari tulisan.

Aku kembali percaya diri mengikuti banyak perlombaan menulis, mengirimkan naskah novel ke penerbitan besar dan artikel-artikel opini ke koran-koran daerah maupun nasional. Sayang seribu sayang, bertahun kutunggu jawaban, berbulan-bulan kutunggu kabar baik, berjam-jam aku terduduk memikirkan ide, dari ratusan naskah kusebar yang kuterima hanyalah penolakan.

Juli lalu aku memutuskan menyerah dan berhenti menjentikkan jari di atas tombol dashboard komputer jinjing kesayangan. Aku berkali-kali meminta maaf pada diri sendiri, tidak mampu berjuang lagi. Dua bulan aku berdiam diri, mencari-cari arah dan tujuan hidup ini. Hingga aku bertemu #Hipwee dan #HipweeCommunity. Kukencangkan lagi semangat di hati, kukuatkan tekad kembali, kutargetkan satu tulisan dalam sehari dan akhirnya aku #BeraniWujudkanMimpi bersama #Hipwee.

Jangan takut lagi untuk bermimpi. Awalnya memang terasa tertatih-tatih, namun, asalkan kamu punya kemauan, niat bulat, dan usaha tiada henti kamu pasti bisa mewujudkannya. Mencatut sebuah pepatah, usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

selalu ingin belajar menulis

CLOSE