#BeraniWujudkanMimpi-Mewujudkan Mimpi Memang Sulit, Mulai Berani Mewujudkannya Tidak.

Pengalaman mewujudkan mimpi

Dua tahun yang lalu, terlintas ide yang hebat di benak saya, yaitu membuat suatu platform daring dengan mengangkat isu sosial yang saya advokasikan. Sayangnya, tidak ada yang percaya kepada apa yang saya rencanakan. Mereka berkata, “Itu rencana besar. Bagaimana bisa kamu mewujudkannya?” Untuk seorang remaja berusia 15 tahun saat itu, ide tersebut memang terdengar tidak realistis. Keraguan orang lain terhadap ide itu sempat menurunkan semangat saya. Lagipula, siapa yang mau memercayai anak kecil? Meskipun saya cukup geram, saya juga paham bahwa ada banyak hal yang perlu saya persiapkan sebelum mewujudkan impian besar itu.

Advertisement

Walau banyak yang menyarankan saya untuk berhenti, pada tahun 2020, saya berhasil membangun dan mengembangkan platform yang saya impikan. Platform tersebut telah berkembang pesat, melibatkan lebih dari 1.000 orang dalam program dan kampanye kami hanya dalam beberapa bulan berdiri. Selama perjalanan mewujudkan mimpi saya, tentunya rintangan yang saya hadapi tidak sedikit. Banyak orang setelahnya mengapresiasi kemampuan saya dalam mengatasi rintangan tersebut di usia belia. Namun, bagi saya, bukan itu yang patut dihargai. Saya justru lebih berterima kasih kepada diri saya yang sudah berani memulai.

Saya belajar bahwa ketika memulai sesuatu, ada beragam reaksi yang akan diberikan oleh orang-orang di sekitar. Entah mendukung, entah menganggap sepele, semua itu harus dihadapi. Mungkin saya sangat percaya dengan mimpi saya, tetapi mereka belum tentu. Apabila sudah seperti itu, rasa percaya diri pun pasti semakin menurun. “Saya bisa tidak, ya?” kata saya berulang-ulang. Keraguan itu normal. Meski begitu, saya tahu saya harus berjuang. Siapa yang mau memercayai mimpi yang bahkan pemimpinya saja meragukannya?

Seiring berjalannya waktu, saya mengerti bahwa ide hebat saja tidak cukup. Mengetahui betul apa yang ingin dicapai adalah kuncinya. Saya percaya mimpi hebat akan lebih mudah dicapai bila saya memecahnya menjadi tahapan-tahapan yang lebih kecil. Hal ini saya pelajari dari perkataan mereka, “Sehebat apapun mimpimu, pastikan itu realistis.” Berdasarkan perkataan tersebut, saya giat memperkuat fondasi mimpi saya.

Advertisement

Saya jadikan keraguan terhadap mimpi saya sebagai amunisi untuk mengembangkannya. Saya perbaiki tahapan yang saya belum lakukan dengan benar. Kalau tidak tahu harus bagaimana, saya belajar lagi. 'Pelajari, tanya, dan lakukan' sepertinya telah menjadi hal yang tak pernah luput dari pikiran saya selama proses mewujudkan mimpi, baik saat itu, sekarang, hingga masa yang akan datang. 

Saya sempat berniat untuk berhenti, tetapi saya tidak mau! Saya tahu mewujudkan mimpi memang sulit, mulai berani mewujudkannya tidak. Saat saya memulai, saya berarti sedang merangkak. Selanjutnya, saya akan berjalan. Tak lama, mungkin saya akan berlari.  Memang begitu siklusnya. Tak ada yang instan, begitupula dengan bermimpi. Yang terpenting saya harus terus bergerak agar mimpi saya menjadi kenyataan. Pada akhirnya, salah satu mimpi saya telah terwujud karena saya memulainya perlahan. Mimpi tersebut kemudian melahirkan mimpi-mimpi lainnya dengan platform yang saya kembangkan agar dapat membantu lebih banyak orang.

Advertisement


Saat saya memulai, saya berarti sedang merangkak. Selanjutnya, saya akan berjalan. Tak lama, mungkin saya akan berlari.


Melalui tulisan ini, saya ingin meyakinkan siapapun yang tengah membaca artikel ini sekarang, berapapun usiamu dan bagaimanapun kondisimu, langkahmu untuk menggapai mimpi tak akan pernah sia-sia. Percayalah, sedikit demi sedikit, kamu akan mencapai apa yang di cita-citakan. Suatu saat, orang-orang yang meragukanmu akan berbalik mendukungmu. Walau begitu, bukan pada saat itulah kamu harus berbangga. Ketika kamu berani memulai semuanya, saat itulah kamu patut mengapresiasi dirimu. Tetap #BeraniWujudkanMimpi.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

CLOSE