Pemuda di Era Millennial dan Pendidikan Indonesia Saat Ini.

“Beri aku 10 pemuda maka aku akan mengguncang dunia”

Advertisement

Kalimat ini begitu terkenal, mungkin tanpa disebutkan pun banyak orang yang telah mengetahui siapa pencipta quote ini. Siapa lagi kalau bukan Presiden pertama sekaligus Bapak Proklamator Negara Indonesia? Yup, itu ada sepenggal kata-kata dari orasi yang pernah diucapkan Ir. Soekarno dengan penuh semangat nasionalisme dan patriotisme di hadapan seluruh rakyat. Beliau begitu menjunjung dan menuntun pemuda – pemuda di era penjajahan dan masa-masa awal kemerdekaan untuk bersama sama memajukan bangsa.

Jelas, karena beliau mengerti jelas peran pemuda dalam pembangunan Negara, apalagi negara yang baru berdiri sendiri, lepas dar penjajahan. Oleh karena itu, Ir. Soekarno banyak memberikan fokus terhadap gerakan – gerakan pemuda di masa-masa awal kemerdekaan.

Tidak dipungkiri negara-negara yang awalnya berkembang dan kemudian menjadi maju seperti Korea dapat berkembang pesat karena perkembangan mental dan pengetahuan pemuda di sana. Korea yang merdeka di tahun yang sama dengan kita, bahkan hanya selisih 2 hari saja (Korea merdeka pada tanggal 15 Agustus 1945) sudah menjadi salah satu negara maju di Asia yang hampir setara dengan Jepang yang terkenal dengan julukannya sebagai Macan Asia.

Advertisement

Mereka sudah sangat maju dalam teknologi dan bahkan sudah dapat menjual teknologinya ke Negara lain. Atau tidak perlu lah melihat Negara Korea yang jauh disana, kita dapat melihat sendiri bagaimana saudara serumpun yang dulu banyak mengirimkan para pemudanya untuk menimba ilmu pengetahuan di Indonesia (read: Malaysia) sudah sangat maju dalam hal transportasi, pembangunan dan tata kota yang lebih baik dari Negara kita. Bahkan banyak orang tua yang rela merogoh kocek yang lumayan untuk mengirimkan anak mereka untuk sekolah ataupun kuliah disana.

Korea sendiri juga menerapkan hal yang sama pada masa awal-awal kemerdekaan mereka mengirimkan banyak pemuda untuk menimba ilmu di Negara lain, lalu pulang untuk mengembangkan negaranya. Korea juga termasuk salah satu Negara yang sistem pendidikannya sangat keras untuk para siswa di sana, mereka belajar dari pagi sampai sore, belum lagi akademi yang harus mereka (siswa-siswa korea.red) hadiri sehingga tidak jarang mereka sekolah sampai larut malam. Negara Jepang sebagai Macan Asia juga tidak berbeda jauh. Mereka memiliki sistem pendidikan yang terstruktur, walaupun tidak sekeras korea.

Advertisement

Mungkin banyak yang bertanya tanya kenapa dari tadi yang saya bahas adalah pendidikan?

Seorang yang bermartabat baik, berperilaku baik dan dipandang tinggi adalah seorang yang memiliki pengetahuan. Tentu pengetahuan bukan hanya dapat didapatkan dengan pendidikan formal, tapi juga pengalaman dan lingkungan. Karena pengetahuan yang dapat meningikan martabat seseorang bukan hanya ilmu tapi juga moral. Dan moral bukanlah sesuatu yang dapat dengan mudah diserap dan dipraktikan seperti halnya pengetahuan.

Sekarang mari kita lihat seperti apa sistem pendidikan di Indonesia? Bagaimana sikap para pelajarnya?

Sebelum saya jabarkan, coba para pembaca me-recall berita apa yang banyak muncul di TV tentang para pelajar. Mungkin yang akan terlintas pertama adalah Tawuran, mencontek, dan hal – hal negatif lainnya. Semua hal itu terjadi karena tradisi yang entah kapan bermula. Saya pun pernah mengalami masa-masa SMA, dan menurut saya disini lah seharusnya seorang pemuda di gojlok agar dapat bertahan dan menjadi manusia berkualitas.

Bukan sembarangan pengojlokan yang penuh dengan kekerasan, tapi dengan edukasi moral dan lebih ke pembentukan karakter. Sehingga saat beranjak kuliah, mereka sudah terbentuk dan dapat lebih mengembangkan potensi mereka. Disinilah persepsi yang salah dibentuk karena semua pelajar SMA ter-mindset dengan quote ”Masa-masa SMA adalah masa-masa yang paling Indah” yang akhirnya menjerumuskan sebagian dari mereka kepada hal-hal yang buruk.

Memperbaiki sistem pendidikan pun saya rasa bukan tindakan yang bijak, karena yang pertama kali diperbaiki seharusnya moral, mental dan lingkungan bagi para penerus bangsa. Lihat macam perayaan ujian yang diisi dengan konvoi yang merusak fasilitas umum dan mengganggu jalan, atau yang lebih parah dan menyesakkan dada adalah pesta obat-obatan terlarang seperti yang pernah saya baca di sebuah surat kabar nasional. Bagaimana dapat bangsa ini maju jika degradasi moral dan metal ini terus terjadi?

Jika tidak ada revolusi mental dan moral, maka cycle yang sama akan berulang dan pemerintahan akan terus berisi dengan korupsi, kolusi dan nepotisme. Jika sistem pendidikan tetap mengedepankan nilai tanpa memandang bobot ilmu dan character growth nya maka sulit rasanya pemuda indonesia dapat bersaing di kelas dunia.

Sulit rasanya mempertahankan ideologi untuk tetap jujur disaat sekeliling menganggap jujur itu tidak diperlukan. Bukan hal yang aneh rasanya korupsi ada dimana mana. Dari kecil saja sudah diajarkan untuk mencontek, guru pun yang melihat kadang mendiamkan, apalagi saat ujian nasional.

Bahkan ada sekolah yang dengan sengaja memberikan kunci jawaban agar rating sekolah mereka naik. Tidak heran banyak yang kuliahnya kacau, drop out, bahkan hamil di luar nikah. Belum lagi saya heran dengan para teman yang justru senang jika kelas kosong, teman yang sering sekali titip absen atau  teman yang selalu menyalin tugas.

Moral dan mental pemuda bangsa sekarang ini menurut saya terus mengalami degradasi, hal ini didukung oleh lingkungan yang mengajarkan mereka bahwa nakal saat remaja adalah wajar bahkan terkesan gaul dan mentereng, Bullying menjadi hal yang biasa dan banyak orang dewasa tutup mata, populer karena sering tawuran, pacaran bebas, pesta ataupun bolos menjadi hal yang dielu-eukan.

Mencontek adalah hal biasa, dan bahkan jika tidak diberi contekan bisa jadi dibully atau dijauhi teman-teman sekelasBudaya barat sudah mem-brainwashing para pemuda kita sehingga semakin jauh dari norma timur yang kita pegang.

Lalu apa yang dapat kita lakukan sekarang ini ?

Kita harus dapat mengisi setiap waktu dengan hal yang baik entah itu kegiatan sosial ataupun akademis, bukan membuang-buang masa muda untuk bersenang-senang. Bersenang-senang bukan hal yang salah, namun kita harus dapat menempatkan segala sesuatu sesuai porsinya masing-masing, bukan? Kuliah ataupun sekolah sejatinya untuk belajar dan mendapatkan pengalaman dengan berbagai tipe manusia. Tidak adil rasanya jika melihat banyaknya anak jalanan, pemuda putus sekolah, kakek-nenek yang sudah tua namun bekerja tapi kita yang masih sehat dan masih diberikan kesempatan belajar bahkan hingga perguruan tinggi malah menyia-nyiakannya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

CLOSE