Saat kalian sudah dalam posisi siap belajar di dalam ruang kelas, pelajaran tidak akan dimulai sebelum sang guru masuk. Guru. Salah satu pekerjaan yang memilki dampak besar kepada seseorang, terutama muridnya. Pernah memiliki mimpi besar untuk menjadi duta seni atau seorang entertainer, Bapak Hijaya JR ini melanjutkan karirnya dengan menjadi seorang guru musik. Bapak Hijaya merupakan seorang pria kelahiran Lampung yang menikah dengan Cut Chairany pada 11 November 1998. Jaya, kini memiliki 2 anak perempuan dan 1 anak laki-laki.

      Pria kelahiran 19 Juni 1972 ini mengawali keinginannya untuk mengejar karir yang berhubungan dengan musik ketika ia memasuki Universitas Negeri Jakarta dan mengambil Jurusan Seni drama musik dan tari setelah lulus dari SMA M Lampung (kota kelahiranya). Di tengah kesibukkannya berkuliah, ayah yang sekarang sudah memiliki 3 anak ini aktif dalam mengikuti acara-acara nasional.

Advertisement

     Negara yang terkenal dengan menara Eiffelnya pun menjadi negara misi kenegaraan organisasi yang diikuti Bapak Hijaya kala itu. Tak hanya Paris dan Lyon, Bordeaux pun ikut menjadi tempat bagi komunitas itu untuk memperkenalkan budaya Indonesia. 

        Kota-kota yang cocok untuk berpergian terutama pergi dengan sang Istri. Misi kebudayaanya tidak berhenti sampai disitu. San Fransisco dan Berkeley menjadi destinasi lainya untuk menyebarkan seni tari dan musik khas Indonesia. Di San Fransisco pun Hijaya menyempatkan diri untuk wisata kuliner. “Saya mencoba burger yang ukuranya lebih besar dari kepala saya sendiri” katanya.

     ”Kendalanya ketika memperkenalkan budaya Indonesia di Paris bahwa mereka tidak menghendaki kita menggunakan bahasa lain selain bahasa mereka. Membawa media bantu untuk menjelaskan dalam bahasa yang diinginkan.” Begitulah kata-kata yang dilontarkan ketika sedang mewawancara beliau.  Meskipun pada saat itu warga Negara Perancis mengalami kendala dalam bahasa, para seniman itu tetap menunjukan versi terbaik dari mereka.

Advertisement

      Tidak hanya di negeri orang, pria berusia 46 ini juga mengadakan pertunjukan-pertunjukan seni untuk memperkenalkan budaya Indonesia seperti tarian, musik, busana, dan makanan kepada masyarakat Indonesia sendiri. Beliau bahkan mempunyai kontrak denan Group Elbitrul Pertamina. Bapak Hijaya juga pernah berkeliling  berbegai daerah, Surabaya, Yogyakarta, Palu, Aceh, dan masih banyak lain.

      Pria yang akrab disapa Jaya ini juga bekerja sama dengan PT Perfetti Van Melle sebagai pembicara pada staff training mengenai kesenian. Selain itu ia juga merupakan anggota tim kesenian di Jakarta, salah satunya Indonesian Dance Company dan beberapa grup kesenian daerah di DKI Jakarta. Kontraknya dengan suatu perusahaan pun tidak hanya berhenti dalam satu perusahaan. Ia bekerja sama dengan Restoran Nusantara Hotel Indonesia dan memiliki tanggung jawab untuk mengisi acara-acara malam. Selanjutnya, ia juga bekerja sama dengan pihak Hailay Ancol dan memilki kontrak dengan Restoran Manari sambil meneruskan kuliahnya. Perjalanannya diakhiri dengan bekerja sama dengan Kak Seto untuk membuat salah satu program liburan saat itu.

      Beliau kemudian memutuskan untuk menjadi seorang guru setelah berkeluarga. Setelah mengajar di beberapa sekolah ternama, Bapak Hijaya JR memutuskan untuk mengajar di sekolah JNY. Profesinya sebagai guru musik di sekolah itu mengharuskanya mengajar kelas primary 2 to secondary 2. Disamping mengajar teori musik dan praktik bermain alat musik ia juga memiliki tanggung jawab melatih siswa dalam acara-acara dan kompetisi.

     Menurut pria ini, kualitas terpenting dalam menjadi seorang guru adalah kemampuan untuk mengelola kemampuan orang lain dalam berkreasi.  Seringkali orang-orang menganggap pekerjaan seni bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. Padahal menurutnya, sisi baik dari mengenal seni budaya yang berbeda membuat kita bisa memahami karakteristik masyarakatnya.

            Ketertarikannya kepada dunia musik pun masih berlanjut sampai sekarang. Profesi guru musik yang diawali dari suatu ketertarikan berkat sosok ayahnya ini pun telah berhasil menjadi sumber nafkah untuk keluarganya. Ayahnya mengajarkan dirinya bahwa dengan memahami seni, kita bisa melatih kepekaan diri terhadap apa sedang terjadi di sekitar kita. Meskipun beliau memiliki mimpi lebih dari ini, seperti misalnya memilki fasilitas khusus demi meningkatkan kemampuan seni generasi baru, apa yang dimilikinya sekarang sudah cukup.

 

 

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya