Untukmu yang terlalu sibuk menuntut status dariku. Yang meminta pertemuan rutin denganku. Yang menuntut aku memasang fotomu disemua sosial mediaku.

Kita sudah sama-sama dewasa jadi tak perlu lagi ada drama! Lagi pula bukankah kamu laki-laki kenapa jadi yang paling cengeng? Sungguh, tak ada sedikitpun niat tak serius aku menjalani ini denganmu. Sekalipun tanpa komitmen apa-apa percayalah, bagiku kamu selalu jadi yang utama dalam urusan cinta.

Apa hebatnya memang status berpacaran? Terkadang justru yang paling berusaha mengikat pada akhirnya adalah yang paling ingin melepaskan. Kita bisa bersama tanpa perlu merasa saling terhalang satu dengan yang lainnya. Ku beri waktu bagi kita untuk sama-sama saling berjuang memantaskan diri agar bila kelak restu Tuhan menyatukan kita tak ada satupun alasan yang membuat kita memilih pisah.

Bukankah komitmen pada akhirnya melahirkan banyak peraturan yang mengikat? Lalu apalagi setelah itu? Rasa tak nyaman karena merasa tak lagi punya ruang untuk sendiri?

Kamu dan aku masih memiliki banyak mimpi yang belum teraih. Ada banyak rencana dalam pikiran yang ingin kuraih dengan tanpa terikat olehmu. Tak berkomitmen bukan berarti kita tak bisa saling mengisi. Aku masih bisa memberimu semangat saat masalah datang dan mempersulit. Kamu sendiripun masih bisa membawaku pada keluargamu dan mengkrabkanku pada mereka.

Advertisement

Tak perlu bersusah payah mengikatku. Karena pada akhirnya yang paling membuat betah akan menjadi tempat terbaik untuk pulang. Aku sendiripun tak ingin terlalu mati-matian memperjuangkan apa yang aku mau karena bisa jadi Tuhan sendiri sudah berkata tidak jauh-jauh hari. Maka kurasa "jalani saja" lebih tepat untuk kita yang bukan anak-anak lagi.

Aku tak lagi butuh rayuan yang membuat pipiku merona, atau jutaan kencan yang kamu berikan. Aku juga tak butuh lagi dipertontonkan sebagai seorang kekasih didepan keluarga dan sahabatmu. Karena sebenarnya diperkenalkan sebagai seorang istri jauh lebih indah daripada itu semua.. Maka ku mohon padamu untuk tak perlu mengikatku dengan komitmen konyol yang tak lagi aku inginkan.

Karena perjalanan yang panjang membawaku pada keadaan untuk paham, Bahwa saling mengutarakan cinta bukan lagi hal manis yang perlu diperjuangkan. Percayalah, kapanpun itu cinta pada akhirnya akan memudar tapi yang tetap memilih setia dialah yang akan bertarung bersama sampai akhir. Bisakah kita berjuang bersama tanpa perlu saling mengikat kaki yang nantinya membuat kita sulit melangkah?

Aku mencintaimu, percayalah! Tapi saling cinta bukan jaminan akulah tulang rusuk yang hilang dari dirimu. Kelak yang memang dilahirkan untuk bersatu akan dipertemukan dalam pernikahan sekalipun tak saling mencari. Itulah saat dimana aku akan mengabdikan diriku pada dia yang mungkin saja kamu.. Ayah dari anak-anakku. Sepenuhnya.

Kini kumohon raihlah apa yang jadi cita-citamu karena aku sendiripun akan begitu. Biar saja doamu dan doaku yang datang mengunjungi Tuhan. Percayalah, bila Dia sudah berkenan, sekalipun kita saling memalingkan wajah pada akhirnya akan dipertemukan juga.