#JarakMengajarkanku: Berjarak denganmu, Membuatku Mengerti Bahwa Sejatinya Kita Tak Pernah Memiliki

Tuhan selalu punya skenario menarik mengapa ada jarak yang terbentang diantara dua sejoli yang merajut kasih.

Mengapa perasaan rindu ketika berjarak dengan yang terkasih berubah menjadi rumit?

Advertisement

Karena rindu ketika berjarak adalah tentang mengubah hal yang sudah menjadi kebiasaan menjadi hal yang tidak biasa lagi. Misalkan yang biasanya makan bersama tapi ketika berjarak harus terbiasa untuk makan sendiri. 

Perasaan rindu bagi sosok pasangan yang sudah terikat janji suci akan terasa lebih rumit apabila harus berhadapan dengan jarak. Terlebih apabila pasangan tersebut sudah terbiasa dari awal pernikahan selalu bersama dan tinggal bersama maka berjarak adalah sebuah beban luar biasa yang ingin selalu dihindari. 

Apa yang kau rasakan apabila sudah terbiasa bersama menjalani hari-hari dengan seorang terkasih kemudian mau tidak mau harus berkompromi dengan jarak? 

Aku pernah merasakan itu. Rasanya aku ingin merengek meminta dia agar tak pergi meskipun aku tahu bahwa dia hanya pergi sejenak. Bahkan mataku yang berkaca-kaca ketika melepasnya pergi tak membuat dia tinggal. 

Aku jadi terbayang bagaimana ketegaran para sosok istri TNI, atau pengabdi negara yang harus menjalankan tugas kewajibannya menjaga negara di perbatasan selama beberapa bulan dengan taruhannya adalah nyawa, sungguh aku tak bisa membayangkan apabila berada di posisi istri tersebut.

Advertisement

Sang istri pun tak bisa merengek untuk menahan suaminya tetap tinggal karena apa yang dilakukan suaminya adalah kewajiban. Bila dilihat dari lubuk hati seorang suami maka pastilah ingin membersamai istrinya namun apabila tugas kewajiban memanggil maka tak ada pilihan lain untuk melaksanakan tugas dan berkompromi dengan rasa rindu yang membuncah.


Aku adalah milikmu dan Kau adalah milikmu. Begitulah konon perumpamaan apabila dua sejoli sudah mengucapkan janji suci. Ternyata perumpamaan itu salah. Karena sejatinya satu dengan yang lainnya tak pernah saling memiliki. 


Ya, aku pikir ketika menikah maka sang suami benar-benar menjadi milikku seutuhnya namun aku lupa bahwa ia juga dimiliki oleh keluarganya. Sang suami pun tak selalu bisa menuruti permintaanku untuk tetap disisi karena tuntutan kewajiban yang lainnya. 


Dengan berjarak aku mengerti satu hal bahwa sejatinya aku dan suamiku tak pernah saling memiliki. Bukankah memang sejatinya setiap manusia tak punya apa-apa? Setiap yang dimiliki oleh manusia adalah titipan yang kelak akan ditanyakan pertanggungjawabannya. 


Karena kita tak pernah saling memiliki maka tak perlu merasa khawatir berlebih atas jarak yang membentang. Tuhan selalu punya skenario menarik mengapa ada jarak yang terbentang diantara dua sejoli yang merajut kasih. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan atas apa yang terjadi. Terima setiap prosesnya dan cari tahu hikmah apa yang bisa kita pelajari. Selamat belajar dengan jarak.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Statistisi yang mencintai buku, tulisan, seni, dan langit

CLOSE