Tak pernah terlupa, kala gumpalan air tergenang dikedua mata ibu. Sekali kedip saja, air tersebut berhasil mengguyur permukaan pipinya. Saat menangis, ibu tidak bersuara. Dalam ingatanku, ketika itu ibu sedang terduduk, mengenakan setelan mukena dan menengadahkan kedua tangannya. Entah apa menggelayuti pikiran dan hati ibu, namun aku membeku mendapati ibu yang aku kenal kuat, tengah menangis diakhir shalatnya.

Aku menghampiri ibu. Aku ingin menemani ibu dalam kerapuhannya. Selesai berdoa, cepat-cepat ibu menyeka air matanya, menoleh kearahku, meraih kedua jemari tanganku dan menciumnya berkali-kali. Hatiku terenyuh, aku menangis. Bukankah aku datang untuk menenangkan ibu? Bodoh sekali aku ini. Malahan ibu yang justru tersenyum, menyeka air mataku dan merengkuh tubuhku kedalam peluknya.

Advertisement


Pelukanmu, Ibu.

Laksana air segar saat kehausan.

Angin sejuk saat kepanasan.

Advertisement

Selimut hangat saat kedinginan.


"Ibu, aku rindu ayah. Kapan ayah pulang?" rengekku

"Tuan putriku, bersediakah dirimu memimpin doa untuk ayah?" tanya ibu

Aku mengangguk dan bersegera menengadahkan kedua tangan.

"Ya Allah, lindungi ayahku. Sampaikan kepada ayah, kami merindukannya. Semoga ayah tidak lupa shalat dan makan. Semoga ayah lekas pulang. Aamiin".

"Aamiin.." sahut ibu.

Ketika itu, usiaku baru menginjak 8 tahun. Hampir 1 tahun aku tidak melihat kehadiran ayah dirumah. Ibu bilang ayah sedang bekerja diluar kota. Setiap kali aku menanyakan kepada ibu kapan ayah akan pulang, ibu hanya menjawab dengan jawaban yang sama. Menyuruhku memimpin doa untuk ayah. Dari situ, aku beranggapan bahwa ibu tidak tahu kapan ayah akan pulang. Aku sangat merindukan ayah. Aku ingin duduk dipangkuan ayah dan menceritakan hari-hariku. Aku ingin diantar dan dijemput ayah kesekolah. Aku ingin ayah ikut mengambil rapor seperti biasanya. Aku ingin jalan-jalan bersama ayah dan ibu dihari minggu.

Seperti minggu ini misalnya, minggu yang aku habiskan hanya berdua dengan ibu. Aku mengajak ibu pergi ketoko buku di mall. Aku ingin membeli buku mewarnai lengkap dengan pensil warna. Setelah selesai menghabiskan waktu dimall, kami berjalan menuju parkiran. Dari kejauhan samar-samar terlihat dua orang dewasa, pria dan wanita seperti sedang bertengkar. Suara wanita itu sangat kencang, terdengar sampai ketelingaku. Namun ibu menyuruhku untuk tidak menghiraukannya dan melanjutkan berjalan ke arah kendaraan kami yang kebetulan terparkir tidak jauh dari posisi mereka berdiri.

Semakin dekat, wajah wanita itu semakin terlihat cantik, aku tebak usianya lebih muda dari ibuku. Namun aku terkejut, saat memandangi wajah sang lelaki yang sangat mirip dengan ayah. Semakin dekat, semakin dekat lagi, aku semakin yakin itu ayahku!

"Ayaaaaaah!!!!" Panggilku

Ayah menoleh. Namun ibu menarik tanganku ketika aku ingin berlari menghampiri ayah.

"Tuan putri, princess ibu. Ayah sedang berbicara dengan orang lain. Tidak baik bila kita mengganggu orang yang sedang bicara. Sebaiknya kita membiarkan ayah menyelesaikannya dulu ya?"

Dengan terpaksa, aku menganggu.

Keesokan harinya, ayah pulang. Sesaat setelah aku dan ibu membuka pintu, ayah langsung bersimpuh dikedua kaki ibu. Ayah meraung dan meneteskan air matanya. Aku membantu ibu yang berusaha membangunkan ayah. Kemudian, Ayah memeluk kami, sambil tidak berhenti mengucap kata maaf.

Ketika itu, aku masih belum paham dengan apa yang terjadi. Namun aku tau, ibuku pasti wanita yang sangat hebat. Ibu mengajakku menerima permintaan maaf ayah.


"Tuan putri ibu,

terima kasih selama ini telah memimpin doa.

Hari ini, ayah yang kamu rindukan telah pulang.

Bersediakah tuan putri menerima permintaan maaf ayah?"

tanya Ibu


Terima kasih Ibu, sampai dengan saat ini, ayah mencintaiku dengan sempurna. Walaupun ibu sudah mendahului kami bertemu dengan Allah. Kini, nama ibu yang selalu tersebutkan di setiap doa yang ayah pimpin.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya