Untuk Jiwa-jiwa yang Terperangkap, Bersembunyi dalam Kendali Hingga Hilang Jati Diri

Lepaskan topengmu dan hadapilah dirimu sendiri

Sampai kapan kau mau bersembunyi dibalik bayang-bayang seseorang? Menenggelamkan ego untuk menciptakan kebahagiaan yang fana. Kau layak bahagia sebagai seorang manusia, kau juga berhak untuk menentukan jalan mana yang kelak menjadi pilihan.

Seperti bayangan dalam jeruji, ruangan yang gelap dan sunyi bahkan kau tak mengenali dirimu sama sekali. “siapa aku?’ tanyamu dalam hati sembari memantulkan refleksi dirimu dalam cermin. Suara dari dalam diri semakin tenggelam, menggema hampa tak bertuan. Sekali lagi kau bertanya dalam hati “Siapa aku? Apa mimpiku?’ dan masih tidak ada jawaban.

Jujur keadaan ini sungguh menyakitkan. Bagaimana tidak, kau berusaha untuk mengubur mimpi demi memenuhi ekspektasi. Hingga jati diri mulai terkikis dan topeng itu mulai kau gunakan kembali.

Untuk apa mencoba berpura-pura bahagia ketika kau sedih dan mencoba berpura-pura kuat bahkan ketika kau terluka? Mereka akan selamanya menutup mata, melihatmu hanya sebagai bayangan yang samar dan memperlakukanmu seperti boneka.

Ekspektasi mereka padamu jelas tinggi, untuk menutupi kelemahan dirinya sendiri. Tuntutan itu akan terus lahir seiring dengan tingginya standar untuk lingkungan menerimamu sebagai seseorang.

Kau jadikan ini beban, jelas aku juga. Karenanya, aku selalu ragu memutuskan bahkan takut memilih jalan. Aku tahu, ini hanya akan membuat diriku semakin tenggelam. Lalu apa yang seharusnya ku lakukan?

Kini kau pasti bimbang dan mulai hilang arah, tekanan dari dalam dirimu sendiri semakin besar belum lagi tekanan dari luar. Aku tahu kamu kuat, tapi sampai kapan kamu harus menanggungnya sendirian? Kamu perlu kebahagiaan, juga perlu cinta dan kehangatan.

Jika itu tak bisa kamu harapkan dari orang sekitar, maka berlari ah kembali kepada dirimu sendiri. Karena ia yang lebih mengenalmu dan paling mengerti siapa dirimu, seperti yang selama ini kau pertanyakan.

Menabur racun untuk dirimu sendiri, membiarkan dirimu ‘mati’ demi kebahagiaan orang yang kamu cintai sungguh hal yang memuakan. Karena aku rasa, cinta itu bukan memaksakan juga bukan keterpaksaan.

“Siapa aku sebenarnya?” Ucapmu lagi. Jawaban pun kembali tak kau dapatkan. Wajar saja, karena cermin hanya bisa merefleksikan sisimu yang terluar, sampai kapanpun kau tak akan mendapatkan jawaban.

Renungkanlah, cermin yang sesungguhnya ada didalam dirimu sendiri. Lepaskan topeng itu dan hadapilah dirimu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu. Kelak jeruji itu akan terbuka ketika kau mulai mendapatkan cahaya.

Dariku untukmu yang sama-sama sedang berjuang menemukan jalan untuk menciptakan kebahagiaan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

I'm the one who love writing.