Di Balik Tangis yang Menderu, Aku Bersyukur Tidak Jadi Dipersatukan denganmu

Bersyukur tak menikah denganmu

Perpisahan atau kebersamaan adalah hal biasa terjadi. Namun kadang perpisahan yang dibumbui kebohongan begitu pilu dan menyakitkan. Sembilan tahun kuhabiskan untuk menunggumu dan akhirnya aku sampai pada titik terakhir yaitu saat kamu telah menikah dengan yang lain.


Aku hancur, tak bisa kupungkiri itu, tapi pelajaran dari hal ini begitu besar, bahkan yang terbesar dalam hidupku saat ini.


Advertisement

Orang yang kupuja, kuperjuangkan dengan segenap jiwa dan ragaku, doa-doaku, usahaku, kasih sayangku. Ternyata menganggap aku tak ada apa-apa.

Aku selalu berprinsip yang dipegang dari manusia adalah omongannya. Itu sebabnya aku selalu percaya dengan omongannya tapi ternyata yang kupercayai bukan manusia.

Aku selalu berpikir, kenapa dia merasa aku sangat layak disakiti? Aku merasa tak berharga di saat itu, semua janjinya, saat aku bertanya pernikahan, sedang kupersiapkan semoga tidak lama lagi cerita berlanjut dengan alasan keluarga nya tak setuju, dan dia mengatakan keuangannya belum memadai. 

Advertisement

Belum sempat aku lupa kata-kata itu. Bagai di sambar petir, kulihat tanggal pertunangannya. "Abang telah mengantar sirih ke rumah seseorang hari Kamis kemarin".

Astagfirullah Ya Tuhan duniaku runtuh. Ya Tuhan mengapa Engkau menciptakan manusia sekejam ini untuk menguji diriku?

Pembelaan demi pembelaan terus dilontarkannya, percakapan kami yang terakhirku bertanya:

 – Kenal dimana?

- Ditaarufkan oleh Murabbi, katanya cocok ya sudah.

- Keluargamu setuju?

- Setuju.

- Selamat ya bahagi nya jadi dia.

- Nggak ada yang bahagia, di luar sehat di dalam sakit. Sakit sekali. 

Ya sudah apalagi aku aja yang menunggu 9 tahun tak kunjung kamu lamar dengan berbagai alasan, dia yang dikenalkan beberapa saat langsung kau datangi dengan membawa rombongan keluarga mu  itu artinya dialah separuh jiwa mu. Dia menjawab jika dia separuh jiwaku mengapa dadaku masih terasa kosong? 

Sudahlah tanggal pertunangan sudah kamu umumkan itu sudah cukup membuktikan kebahagiaanmu. Kututup pembicaraan dengan salam yang tanpa kutunggu lagi jawabnya.

Aku menangis sejadi-jadinya, tapi perlahan aku bersyukur. Tuhan tidak menjodohkanku dengannya. Aku menelaah kata-katanya. Terlepas dari alasannya untuk menghiburku atau menutupi rasa bersalahnya. Dia sudah melamar gadis, dan bisa-bisanya dia berkata hatinya kosong tidak ada bahagia. 

Memangnya kehadiran gadis itu apa? Dia mendatangi rumah seseorang untuk meminta orang tersebut jadi istrinya, namun dia masih bisa berkata pada wanita lain bahwa yang dilamarnya itu bukan separuh jiwanya.

Aku bersyukur bukan karena dia menghiburku, aku bersyukur karena bukan aku di posisi orang yang dilamar tersebut. Bagiku dia buta hati, tidak tahu arti cinta dan kasih sayang. Tidak tahu arti pengorbanan. Tidak tau arti perjuangan.

Di balik tangis yang menderu, ada syukur yang tiada tara. Alhamdulillah Tuhan menjauhkanku dari manusia yang tak punya kasih dan sayang. Tak punya rasa penghargaan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Editor

Not that millennial in digital era.

CLOSE