#JarakMengajarkanku Bahwa Berteman dengan Rasa Sepi yang Tak Selalu Menyedihkan

Doa adalah pelampiaskan rasa rindu yang menenangkan.

Terbentang jarak dan waktu bukanlah dua hal yang mudah dan akan selalu menghadirkan rasa sesak yang melelahkan. Tentang rindu yang katanya harus dibayar tuntas dan rasa sepi yang menyedihkan. Sayangnya, terabaikan begitu saja pada sebuah perjuangan yang mengukir harapan demi kedewasaan diri dalam melangkah.

Sepuluh tahun lebih kita melewati hari penuh kekhawatirkan satu sama lain. Pada hati seorang ibu yang menyimpan gundah gulana tak bisa menikmati perkembangan sang anak dan kekhawatiran akan kejahatan yang mengintai. Sementara, aku resah akan sebuah kabar buruk yang sewaktu-waktu datang tanpa aba-aba tentang dirimu dan rumah menghampiriku.

Advertisement

Persoalan menjadi anak rantau dan dipaksa untuk keluar dari nyamannya rumah bukanlah perkara mudah kala itu. Di usiaku yang terbilang belia, kala diri ini belum bisa melipat baju dengan baik, sungguh sebuah keputusan yang dilematis bagimu saat itu. Demi sebuah kemandirian hidup, persoalan hati pun terabaikan.  Pun denganku, demi langkah kedewasaan, persoalan air mata terlupakan begitu saja.

Menjadi perantau adalah persoalan rindu yang terus menghantui. Rindu akan nyamannya rumah, suara yang selalu ada — tertanda adanya kehidupan, bau masakan yang membangunkan dari mimpi dan menyambut hari dengan menyenangkan.

Bertahun-tahun melewati waktu akan rindu bukanlah hal yang mudah. Ada air mata kala menikmati kesunyian dan sepi seorang diri. Menyesakan hati tentunya !

Advertisement

Tapi, waktu menyadarkanku banyak hal :

Bukan rindu yang menjadi persoalan, tapi berita buruk yang tiba-tiba datang yang kutakutkan.

Menjadi perantau dengan jarak yang terbentang ribuan kilometer bukanlah persoalan yang mudah. Bukan saja rindu mencium bau sedap kala membuka mata di pagi hari, tapi juga suara sapaan yang menyadarkanku akan sebuah kehidupan.

Pagiku berubah, tak ada sapaan, tak ada makanan yang selalu tersedia, dan tak ada canda tawa selain ponsel pintar sebagai lampias rindu. Sayangnya, tak ada suara dering telepon setiap saat yang memecah kesunyian kamar kosan, sekadar menanyakan kabar.

Tapi suara dering telepon juga yang kutakutkan, terutama ditengah malam kala diri ini tertidur dalam mimpi indah. Keresahan akan sebuah kabar buruk adalah ketakutan terbesar yang dihadapkan anak rantau. Sakitmu adalah sakitku juga, karena cinta dan kasih sayang begitu terikat sangat erat sejak pertama kamu mengenalkanku pada dunia ini.

Sebaliknya, perasaan resah juga kerap menghantui langkahmu. Kekhawatiran yang mengusik diri ini terabaikan oleh doa yang senantiasa terus terukir di hati. Bersama kita saling menguatkan dalam do’a yang selalu terucap.

Karena doa dan rasa saling percaya adalah sumber kekuatan hati

Tetaplah menjadi ibu yang luar biasa bagiku ; mengajarkan tentang ketabahan hati dalam melangkah mengabaikan persoalan rindu dan keresahan hati. Mempercayakanku dalam mengambil setiap keputusan dan menyakini bahwa hal yang baik-baik terus menyelimutiku.

Pada doa dan keyakinan hati yang terus terukir dalam kesabaranmu, aku belajar dari sosokmu untuk berusaha menjadi perempuan hebat suatu hari kelak. Berteman dalam sunyinya rumah tanpa kehadiran rengekanku selain munajat indah pada sang Khalik, sebaik-baiknya penjaga diri untuk menjagaku dan melindungi dari hal yang merusak hidup ini. 

Kesepian bukanlah sumber kesedihan, tapi mendatangkan sunyi nan damai.

Terbentang jarak bersamamu yang membuatku tak leluasa mengoceh tentang banyak hal seperti saat belia dulu, jarak mengajarkanku untuk mengukir cerita dalam diam. Membagi keresahan dalam setiap doa dan menikmati kesunyian yang menenangkan seorang diri.

Ada masa dimana aku terlalu lelah menghadapi hingar bingar drama kehidupan yang tak selalu menyenangkan ini, tapi terima kasih untuk waktu yang telah melatih diri untuk terus menegakan kepala dan berjalan menikmati hari dalam asa, pada kehidupan yang mengasyikan.

Dan, untuk rasa sepi menyadariku sebuah ketenangan, dan rindu yang membuatku tabah dalam melangkah melewati hari demi kedewasaan diri. Terima kasih, Ama (ibu), mengenalkan pada hal-hal tersebut hingga membuatku menjadi pribadi yang berkarakter tabah dalam menjalankan hidup ini.

Jarak bukanlah akhir dari selama-lamanya. Jarak mengajarkan banyak hal persoalan rindu, sepi dan kesunyian, menyadarkanku akan ketabahan hati dalam melangkah. Namun, persoalan rindu tak selamanya terus terabaikan. Ada saat ketika ia harus dibayar tuntas.

Memilih hidup berjarak denganmu bukanlah untuk waktu yang terus berlanjut, ada masa diri ini menyadari arti pentingnya sebuah kepulangan dan kembali ke pelukanmu. Seperti doa yang senantiasa yang terukir di sepertiga malammu, akan kebahagiaanku dalam menjalankan hari.

Pulang adalah kebahagiaan sesungguhnya, tapi merantau adalah jalan menuju pulang untuk kebahagiaanku. Kelak ada masa jarak tak lagi menyiksa kita dalam kerinduan dan kekhawatiran akan hidup satu sama lain. Teruslah berdoa ibu, dalam kesabaran dan ketabahan hatimu, agar kita menjalani hidup yang terus menyenangkan.

Terima kasih untuk selalu menjadi tujuanku dalam setiap perjalanan pulang melepas sejenak kelelahan menjadi perantau.  Terima kasih secara tak sengaja mengenalkanku pada rasa sepi dan kesunyian bukanlah kesedihan, tapi sebuah pelajaran yang membuatku menjadi manusia kuat.

Tentang rindu yang selalu dihadirkan oleh jarak, percayalah aku memeliharanya dengan baik. Bahwa doa adalah pelampiaskan rasa rindu yang menenangkan. Dan, sepi bukanlah kesedihan hati tapi kenyamanan untuk mengukir doa di sunyinya kamar kosan.

Karena, jarak telah menemui kita akan kebahagiaan dalam sebuah hubungan satu sama lain perihal rindu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

Advertisement

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Seorang pencerita yang menyukai perjalanan ini dan penikmat tidur siang

CLOSE