Bagi setiap anak perempuan sosok seorang Ayah selalu dijadikan sebagai patokan dalam memilih pasangan. Namun bagaimana dengan seorang Ayah yang meninggalkan anaknya sejak kecil hanya demi kebahagiaannya sendiri.

Hari ini aku kehilangan arah, ingin sekali aku lari dari semuanya. Sejak kecil, aku sudah dihadapkan dengan segala lika liku kehidupan yang seharusnya tak sedini ini aku merasakannya. Iya, perpisahan Ayah dan Ibu tak semudah itu ku terima. Menjadikanku jauh dari Ayah. Menjadikanku jauh dari orang yang seharusnya ku jadikan teladan.

Advertisement

Ayah aku Rindu. Masihkah kau mengingatku? Seorang perempuan kecil yang sejak berusia 9 tahun telah kau tinggalkan demi perempuan pujaanmu itu yah. Kini aku sudah berusia 27 tahun, tak inginkah Ayah mendatangiku dan memelukku. Tak inginkah Ayah datang dalam akad pernikahaku, menjadi wali nikah dan menjadi saksi kebahagiaanku.

Ayah di mana? Bolehkah ku katakan sesuatu pada Ayah? Bahwa semua yang Ayah cari hanyalah sebuah kesemuan yang tak akan pernah berujung. Kenapa Ayah mencari kebahagiaan lain, sedangkan kebahagiaan Ayah sebenarnya ada dalam diriku dan ibuku. Tak inginkah Ayah merasakan kebahagiaan sederhana yang tak akan pernah hilang ditelan waktu bersama kami.

Kenapa Ayah pergi dan memilih kebahagiaan Ayah sendiri. Meninggalkanku, dan tak pernah kembali lagi. 18 tahun Aku sendiri, merasa sepi tanpa kehadiran Ayah. Ingin rasanya aku kembali saja dalam hari-hari di mana aku masih bisa merasakan pelukanmu. Ingin rasanya kumenjadikanmu sebagai teladanku dalam menjalani kehidupan, tapi semua kosong. Nyatanya kau tak pernah hadir dalam setiap perjuangan hidupku.

Advertisement

Perjuangan ini lelah Ayah, aku berjuang sendiri bersama Ibu, hingga kini aku sudah menyelesaikan studi tertinggiku. Apa Ayah pernah ingat padaku? Ayah justru pergi, membiarkanku berjuang sendiri. Dengan perjuangan hebat Ibuku, kakek dan nenekku, kini aku sudah menggapai mimpiku. Ingin ku tunjukkan padamu Ayah, bahwa aku mampu menggapai mimpiku mesti tanpamu, mesti tanpa bantuanmu.

Ayah, kemarilah, aku rindu pelukmu, peluk yang kau beri setiap aku pulang sekolah kala aku masih duduk di sekolah dasar. Mungkin semua benci ini akan hilang hanya dengan sedikit pelukmu untukku.

Semua ini memang perih, tapi setiap perih akan membuatku semakin sabar dan tumbuh menjadi perempuan kuat.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya