Teruntuk kamu, seseorang yang hanya bisa ku pandang dari jauh, tanpa berani tuk berbicara lebih awal seperti dulu saat pertama kali kita bertemu. Kali ini di luar sedang turun hujan. Deras sekali. Mungkin jika kamu lewat, dan aku memanggilmu, kamu pun mungkin tak akan dengar. Hahaa.. Itu hanya imajinasiku karena terlalu membayangkanmu, sedangkan kamu, entah sedang apa?

Sekarang ponsel ku tidak seperti dulu. Sekarang hanya notifikasi dari grup yang memenuhi kontak WA-ku. Oh iya, sekarang nomorku mungkin juga sudah kamu hapus kan? Sebenarnya nomormu sudah aku hapus waktu itu. Karena dengan alasan apa aku harus menyimpannya sedangkan kamu tidak. Aku baru mengetahuinya ketika aku melihat story-mu bisa dilihat oleh temanku. Sedangkan aku sudah lama sekali tak mengetahui kabarmu bahkan dari isi story-mu.

Advertisement

Jika aku pikir-pikir apakah perubahan sikapmu yang tiba-tiba ini karena mengetahui perasaanku yang sebenarnya terhadapmu? Jika iya, siapakah yang memberitahumu? Inikah kesalahan fatal yang kubuat sendiri? Mengetahui jika teman-temanku mengetahui perasaanku sebenarnya terhadapmu. Sebenarnya jika dulu aku tak pernah cerita apa-apa pasti tidak seperti ini. Pantaskah aku menyalahkan mereka tapi siapa? Atau karena apa sikapmu menjadi berubah? Apa karena ini hanya perasaanku saja?

Padahal pertemuan kita saat ini bisa dibilang sering sekali. Memang bukan karena kita berdua saja, tapi karena ada hal yang harus dibicarakan bersama dengan teman-teman kita. Rasanya sangat canggung sekali. Melihatmu bicara dengan teman-temanku rasanya ingin juga bergabung bersamamu, tapi sekarang lagi-lagi tak seperti dulu.

Sebenarnya aku ingin bertanya langsung terhadapmu tapi untuk apa? Apakah jika aku menjelaskan semua yang terjadi akan merubah sikapmu terhadapku? Atau kamu justru akan semakin menjauhiku? Jujur aku bingung harus seperti apa dan bagaimana jika bertemu denganmu lagi. Ingin rasanya pura-pura tidak mengenal, tapi kenyataanya kita pernah sedekat dulu. Menceritakan kelelahan karena tanggung jawab kita yang sama. Lagi-lagi aku terjebak dalam kenangan yang terbawa karena dinginnya malam ini.

Advertisement

Kenyataan aku harus melihatmu bersama dengan orang lain, bisa berbicara dan tertawa bersamanya dihadapanku. Rasanya jika aku ikut campur maka akan sangat jahatnya aku karena merusak suasana yang kamu bangun bersamanya.

Apakah lagi-lagi aku salah menaruh hati? Apakah aku harus kesekian kalinya lagi merelakan orang yang aku cintai? Sedangkan jika dia benar-benar mengerti setidaknya diri ini harus lebih berjuang kan? Tapi aku bukan seeorang yang dengan seenaknya saja menghancurkan kebahagiaan orang lain. Terkadang aku bingung harus bersikap seperti apa dihadapan kamu dan dia.

Aku selalu berdoa kepada Tuhan, jika kamu memang bukan untukku aku harap Tuhan bisa membantuku untuk merelakanmu segera. Tapi jika kamu memang untukku, aku selalu berharap kepada Tuhan untuk tetap memperjuangkanmu. Tapi siapa yang tahu? Semua adalah rahasia Tuhan. Aku masih belajar bagaimana memahami kehendak-Nya dalam kehidupanku. Demikian juga dengan nasib cintaku yang selalu gagal bahkan sebelum untuk mendapatkan.

Karena bukan sekali ini aku harus patah hati karena mencintai dalam diam, hingga akhirnya bertepuk sebelah tangan. Tapi sayangnya aku selalu gagal di tengah jalan. Apakah aku harus tetap bertahan tanpa kepastian ataukah aku harus merelakan? Karena jika aku terus berjuang, takutnya hubungan pertemanan kita semakin berjauhan atau bahkan menimbulkan ketidaknyamanan. Yang bisa aku lakukan saat ini hanya bisa berharap kita memang bisa berbicara satu sama lain untuk membicarakan. Tapi dengan cara apa aku harus mengajukan pertanyaan?

Aku berharap jika suatu saat nanti kamu membaca tulisanku ini, entah aku juga tidak tahu kapan. Atau seseorang memberitahumu akan ini, biarlah hujan mampu membuatmu mengerti mengapa aku sampai harus menahan diri hampir setengah mati untuk bisa tetap berada di sekitarmu meskipun untuk sekedar bicara denganmu rasanya aku tak kuasa.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya