Kenapa Aku di unfollow? Tiba-tiba saja aku mendapatkan sebuah pesan via Instagram dari seseorang yang pernah ku cintai dan kujadikan sebagai satu-satunya orang yang terpenting dalam hidupku.

Bolehkah kuajukan pertanyaan yang sama kepadamu?

Advertisement

Kenapa? Kenapa waktu itu diam-diam kau pergi dan berganti hati? Dengan mudahnya kau bersama perempuan lain dan seolah kau tak bersalah kepadaku. Tanpa salam perpisahan kau menunjukkan kebahagianmu bersama dia di depan mataku.

Kau tak pernah tahu bukan, ada hati yang menunggu, ada hati yang mengharap akan dirimu. Dengan sengaja kau menebar berjuta perhatian dan dengan percaya diriku menganggap bahwa itu hanya untukku. Aku percaya, hanya karena kau telah menyukaiku sejak lama akan menjadikanmu dan aku akan tetap bersama. Namun ternyata itu bukanlah jaminan engkau tetap bersamaku.

Dulu sebelum kau bekerja ditempat barumu, bukankah kau berjanji untuk tidak tergoda dengan perempuan lain yang aku tahu pasti ditempat kerjamu banyak perempuan lain yang lebih daripada aku. Namun ternyata firasat perempuan tak pernah salah. Kau bertemu dengannya ditempat kerja barumu itu.

Advertisement

Bukankah aku yang menemanimu sebelum kau menjadi se sukses ini. Makan nasi uduk di pinggir jalan pun tak pernah ku keluhkan asal bersamamu. Hari ini bukankah kau sudah bahagia bersamanya. Bersama keluarga kecil barumu itu. Dan haruskah kau mencariku lagi? Bahkan aku bukan siapa-siapa lagi untukmu.

Kau kira aku tak rindu? Tak ada lagi yang mengingatkanku sholat, seperti yang kau lakukan. Kau selalu bertanya padaku “Sudah Sholat?”, jika ku jawab belum selalu kau balas dengan “Segera Sholat, Mau rejekinya ditunda-tunda sama Allah?” Setiap pagi kau selalu bilang padaku “Selamatkan Harimu”. Bahkan masih sering kau katakan padaku saat engkau telah membangun rumah tangga bersamanya.

Sejak perpisahan itu aku selalu melihat apapun kegiatanmu meski hanya melalui akun social media yang bukan atas namaku. Kau pikir aku bisa semudah itu acuh dan melupakan semuanya? Tidak!

Dengan sengaja ku acuhkan segala komentarmu di sosial media hanya agar aku terlihat lebih kuat dihadapanmu. Namun nyatanya aku masih rapuh dan sering merindukanmu. Ingin kubuka hatiku untuk orang lain, tapi ternyata rasanya tak senyaman bersamamu.

Bantu aku untuk menyembuhkan luka ini dengan caraku sendiri. Bagiku menjauh adalah cara termudah untuk tak lagi mengingat semuanya. Mengingat perih yang melukai karena perhatian yang sengaja kau cipta dengan palsu.

Aku tahu kau “Pecinta Senja”, Namun, Jangan suka datang dan pergi seperti senja yang selalu kau puji. Segalanya telah berlalu biarkan bahagia tumbuh di kehidupan barumu dan kehidupan baruku. Jangan lupa “Selamatkan Harimu”.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya