Arin, sebut saja begitu. Teman sekolahku yang luar biasa. Ketua OSIS, peringkat 1 paralel selama 6 semester, lumayan manis, pinter bahasa Inggris, dan berbagai kehebatan yang di luar jangkauanku yang hanya anak ingusan waktu itu. Adakah perempuan dengan prestasi seperti itu di Indonesia selain Arin? Sulit rasanya.

Itulah yang membuatku kagum, sampai tergila-gila dalam diam selama 3 tahun. Setiap pulang dari perantauan, yang ditanya Ibuku selain kabarku adalah kabar Arin. Bagaimana kabar Arin di perantauan? Apakah lancar kuliahnya? Dan lain-lain. Sepulang dari haji pun, Ibuku masih bertanya kabar Arin kepadaku.

Advertisement

Entah mengapa, Arin mulai masuk ke alam bawah sadarku ketika di tahun ke-3 ku kuliah. Tahu gimana caranya memasukkan seseorang ke alam bawah sadarmu? Cukup sebut nama dia berkali-kali dan bawa sampai tidur. Aku sering menyebut namanya saat mengendarai motor atau mobil, saat makan sendirian di warung, saat menjelang tidur membayangkan wajah Arin di sampingku sampai tertidur. Begitu terjadi selama 3 tahun.

Setiap perubahan Arin pun aku selalu mengikuti. Mulai dari Arin berhijab ketika mulai merantau. Lalu, dia ikut lomba-lomba di luar dan dalam negeri. Lalu ketika Arin mulai sering memakai rok panjang dipadu dengan jilbab panjang. Perubahan yang membuatku semakin kagum pada Arin.

Kabar mengejutkan datang ketika tahun 2016. Kabar dari temanku bahwa Arin akan dilamar kakak kelasnya. Aku pun kaget, namun tak merubah apa pun. Lamaran akan dilakukan beberapa hari lagi. Aku hanya bisa pasrah. Jaman-jaman masih skripsi, Arin sudah dilamar kakak kelasnya.

Advertisement

Ternyata, Arin menolak lamaran itu. Entah karena apa alasannya. Arin menolak lamaran kakak kelasnya yang menurutku sudah mampu untuk berumahtangga. Bak gayung bersambut. Aku pun memberanikan diri ingin melamar Arin. Karena dia sudah bekerja di luar Jawa, aku pun meminta izin padanya untuk meminangnya. Bisa di bilang setengah nekat karena saat itu aku baru 3 bulan lulus dari kuliah.

Arin belum siap ternyata. Dia dan orang tuanya mungkin masih ragu untuk menerimaku. Tak apa. Aku merasa mungkin memang masih ada beberapa hal yang menjadi prioritas Arin, seperti masih ingin membahagiakan orang tuanya, mencoba karier sendiri, dan lain-lain.

Sebulan berikutnya, aku mengikuti acara internasional di kota yang satu pulau dengan kota kerja Arin. Aku pun mengontak Arin lagi. Ingin menemuinya untuk mengutarakan niat baikku yang sudah kupendam bertahun-tahun. Aku hanya ingin membuat Arin tahu maksudku sebenarnya. Menyamakan frekuensi bahasa lainnya.

Arin pun menyambutnya. Arin setuju untuk menemuiku. Tanggalnya pun masih kuingat sekarang, 12 Desember 2016. Setelah acara internasional itu selesai, aku segera berangkat ke kota Arin bekerja. Aku tidak pulang ke Jawa langsung demi Arin. Demi bertemu dengan orang yang menurutku spesial dan aku ingin hidup dengannya.

Namun, sesampainya di kota Arin bekerja, Arin malah membatalakan janjinya saat aku sudah di bandara. Ia beralasan macam-macam, ada nikahan teman, ada tugas kantor, ada kerjaan dengan bosnya, dan lain-lain. Aku pun masih menego ke Arin, aku akan temui dia setelah dia pulang kerja. Ia pun menolak dengan berbagai alasan yang menurutku dibuat-buat.

Kecewa! Mengapa tidak dari dulu membatalkannya?

Aku pun balik ke Jawa dengan hati kecewa. Gagal. Wanita yang selama ini menjadi impianku, ternyata memberi harapan palsu. Tak memenuhi janji, itulah yang paling membuatku kecewa. Aku sebenarnya tak memaksa Arin menerimaku. Aku hanya ingin berbicara dengannya, menyamakan frekuensi. Kalau kami ternyata memang tak bisa se-frekuensi, tak masalah.

Bukan masalah uang, ini masalah kejujuran!

Sekitar 6 bulan kemudian, saat musim lebaran, aku balik ke kampung halaman. Aku berencana menemui teman SD ku yang lama sekali tak ketemu. Karena salah arah, aku pun berhenti dengan motorku di depan sebuah rumah. Dan tiba-tiba keluar seorang ibu.

“Mau ketemu Arin ya?”, kata Ibu tadi.

Sontak, aku pun minta maaf karena berhenti di depan rumahnya dan langsung pergi. Setelah ketemu dengan temanku, aku pun teringat Ibu tadi. Dan aku juga baru sadar, kalau rumah Arin memang di daerah situ, namun aku tidak tahu alamat persisnya. Aku pun penasaran.

Karena rasa penasaran yang tinggi, aku pun kembali ke rumah tadi. Karena rumah itu ada tokonya, pura-pura aku membeli air sambil mengamati dinding rumahnya. Dan benar, itu adalah foto wisuda Arin. Aku pun menanyakan kepada Ibu tadi apakah ini rumahnya Arin. Ibu tadi pun membenarkan. Surprise!

Arin pun dipanggil dan aku diminta menunggu di ruang tamu. Dan ketika aku bertemu Arin, dunia seakan berhenti. Wanita yang mengingkari janjinya 6 bulan lalu jauh di sana, Tuhan pertemukan denganku langsung di rumahnya bersama keluarganya. Kami pun berpura-pura seakan tak ada yang terjadi diantara kami.

Arin pun bicara dengan canggung. Aku tahu Arin bukan begini gaya bicaranya. Ada sesuatu yang ia sembuyikan. Aku pun juga berpura-pura bersikap biasa. Benar-benar membohongi diri sendiri. Aku pun pulang, tanpa membahas kejadian masa lalu.  Malam itu, Arin langsung menghapus semua fotonya di tempat ia bekerja yang ada di Instagram. Ya, semuanya. Menurutmu, apa yang terjadi pada Arin?

Lalu, sekitar 6 bulan kemudian, ketika aku sedang perjalanan ke Jakarta, teman sekolahku, Lala, yang juga sekampus memberitahuku bahwa Arin akan menemuinya malam itu. Aku pun kaget, karena aku sama sekali tak mendapat kabar dari Arin. Tega ya si Arin?

Aku pulang dari Jakarta Jum’at jam 2 siang. Arin pun kabarnya pulang ke kampung halaman naik kereta juga jam 8 malam, yang mana biasanya aku juga naik kereta itu juga. Ternyata, Arin mengunggah tiket keretanya berangkat jam 12 malam. Artinya, aku masih bisa bertemu di stasiun. Bisa kah?

Jam 10 malam, aku sampai di stasiun. Menunggu Arin. Bayangku bahwa Arin akan main ke kotaku benar-benar terjadi. Benar saja, Arin sampai di stasiun setengah jam kemudian. Aku pun pura-pura menyapanya dari belakang. Surprise !

Lagi, aku dan dia sama-sama membohongi diri kita masing-masing. Membahas sesuatu yang sebenarnya tak ingin kita bahas. Aku pun membiarkannya pergi, tanpa kepastian apapun. Yang pasti, semua bayangan alam sadarku, bahwa aku akan sampai ke rumah Arin, Arin menemuiku di kotaku, semua sudah terjadi.

Apakah bayangan alam bawah sadarku untuk hidup dengannya akan terjadi di masa depan? Entah. Dulu saat dikecewakan, aku bersumpah takkan menghubunginya dan menemuinya lagi. Tapi, takdir Tuhan malah mempertemukan kami.

Behati-hatilah dengan kehidupan yang kamu bayangkan setiap hari. Sungguh, itulah yang akan terjadi. Arin, sungguh, kamu adalah sebuah ketidakmungkinan yang selalu kusemogakan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya